Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Kacaunya Suasana Rumah Sakit


__ADS_3

Sejenak Milaine bingung harus bagaimana menanggapi perkataan Eron. Dia merasa itu bukanlah sesuatu yang besar dan patut untuk diingat. Hanya saja mendengar ketulusan Eron dalam berucap, mendatangkan kedamaian di hatinya.


"Aku tidak melakukan apa-apa. Kaulah yang kuat di sini," tutur Milaine.


Ya, Milaine tahu betul itu. Dia pernah mendengar dan mencari tahu soal Eron, anak yang dibenci oleh CEO Vins Group. Kecelakaan terjadi pada waktu di mana Eron meminta sang Ibu untuk membawanya ke luar. Eron kecil merengek hingga sang Ibu terpaksa menurutinya.


Di tengah perjalanan, sebuah kecelakaan terjadi dan menewaskan Ibunya di kecelakaan ini. CEO Vins Group yang teramat dalam mencintai sang istri, dia menyalahkan Eron terhadap insiden kecelakaan tersebut. Oleh sebab itulah, hingga sekarang Eron merasa tersisihkan dari keluarganya sendiri.


"Tetap saja kau berperan penting di hidupku. Sekarang aku merasa lebih lega bisa berbicara denganmu," ucap Eron.


"Sungguh? Aku juga merasa senang bisa mengajakmu berbicara lagi."


Mereka berdua akhirnya berbincang ria. Tanpa mereka sadari, sejak tadi berpasang-pasang mata memandangi mereka. Kecantikan dan ketampanan di kedua insan tersebut membuat fokus semua orang terpecah begitu saja.


Dor!


Bahana lepasnya pelatuk pistol menggema di sekitar taman. Sontak pembicaraan Milaine dan Eron terhenti. Situasi rumah sakit pun mendadak ramai oleh kepanikan pasien serta para pekerja.


"Apa yang terjadi?"


Di saat Milaine hendak melangkah memeriksa sumber suara itu, sebuah anak panas melesat cepat ke arah mereka. Eron dengan sigap membawa Milaine ke pelukannya untuk menghindari hujaman anak panas tersebut.


"Milaine, apa kau baik-baik saja?" Nada suara Eron terdengar cemas.


"Aku baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku, perhatikan saja sekitarmu sekarang."


Eron pun menarik tangan Milaine untuk lari dari sana.


"Lepaskan aku! Aku harus—"


"Kau tidak bisa melakukan pembunuhan di sini karena ada banyak mata yang menyaksikanmu. Kita bawa para pembunuh itu ke tempat yang lebih sepi," potong Eron.


Milaine mengikuti langkah Eron. Mereka mencari tempat yang lebih lapang di sebuah gedung tidak terpakai milik rumah sakit.


Bersamaan di saat itu pula, segerombol pembunuh bertopeng muncul menyergap mereka. Para pembunuh itu mengepung Milaine dan Eron.


"Dari mana datangnya mereka?" Milaine mengeluarkan pistol dan sebilah belati dari balik mini dressnya.


"Sepertinya mereka menargetkanmu. Apakah mungkin ini perbuatan salah seorang saudaramu?" tebak Eron.


"Aku tidak tahu, yang jelas saat ini kita kalahkan saja mereka dulu."


"Baiklah. Mari berpencar dan buat para bajing*n ini menempuh alam kematian."


Eron segera bergerak menjauh dari Milaine. Dia tak terlalu khawatir meninggalkan Milaine melawan para pembunuh itu sebab kekuatan tempur Milaine berada di atas rata-rata. Akan tetapi, lawan mereka kali ini ialah para pembunuh profesional.


Di sela terjadinya pertarungan, Luke muncul dari arah taman rumah sakit. Dia baru saja bermaksud menghampiri Milaine, tetapi ia malah dihadapkan oleh kemunculan para pembunuh yang mengincar Milaine.

__ADS_1


"Nona!" teriak Luke.


Milaine melirik Luke. "Cepat bantu aku, Luke!" titah Milaine.


Tanpa berpikir panjang, Luke menerjang para pembunuh. Dia seperti orang kesurupan yang mengamuk karena kelompok pembunuh itu telah merusak waktu tenang Milaine. Padahal ini sudah hampir masuk waktu senja. Sungguh, mereka hanya menambah beban saja.


'Sial! Kepalaku kenapa menjadi sangat pusing?'


Dalam penglihatan yang samar-samar, Milaine melihat adanya asap yang keluar dari sebuah benda berbentuk botol parfum. Sesaat itu, Milaine langsung menyadari ada sesuatu yang salah.


"Hei, cepat tutup mulut dan hidung kalian! Mereka mengeluarkan racun asap!" himbau Milaine ke Eron dan Luke.


"Huh? Racun?"


Mereka langsung menutup mulut dan hidung. Untungnya mereka belum sempat menghirup banyak racun tersebut.


"Bagaimana kau menyadari kalau ini racun, gadis sialan?!"


Salah seorang pembunuh mulai bersuara begitu Milaine tahu kalau dia mengeluarkan racun asap.


"Karena ini berurusan dengan racun, maka aku paham betul setiap racun yang ada di dunia ini."


Pembunuh yang tengah mencoba mengincar leher Milaine, sesaat membeku mendengar jawabannya.


"Apa? Mengapa kau bisa tahu racun yang hanya digunakan oleh Mahvan Gang?!"


"Wah, jadi kalian mengakui kalau kalian dari Mahvan Gang? Sungguh menakjubkan! Hahaha." Suara tawa Milaine mewarnai area pertarungan. "Kau tahu? Sebenarnya, aku ini adalah murid dari Master racun. Ya, Master racun yang telah kalian singkirkan!"


"Master racun? Apa kau bercanda?! Tidak mungkin—"


"Mungkin saja karena aku tak pernah berbohong soal ini."


Milaine menebas kepala si pembunuh kala ia sedang lengah. Dengan begini, tidak ada lagi sisa pembunuh yang berkeliaran di sekitar mereka.


"Cepat minum ini!"


Milaine melempar masing-masing satu botol kecil penawar racun kepada Luke dan Eron.


"Apa ini?" tanya Luke.


"Ini adalah penawar racun! Cepat minum sebelum racunnya menyebar di tubuh kalian!"


Mereka pun meneguk habis penawar tersebut. Untung saja Milaine membawa selalu stok penawar bersamanya.


"Apakah kau selalu membawa penawar racun?" tanya Eron.


Milaine mengangkat mini dressnya. Terlihat deretan botol penawar melingkar di paha bagian atas.

__ADS_1


"Aku selalu membawanya— ehh? Kenapa kalian tutup mata?"


Luke dan Eron refleks menutup mata. Muka mereka merah padam saat tanpa sengaja melihat paha mulus Milaine.


"Nona, itu tidak sopan! Anda tidak boleh sembarangan mengangkat pakaian Anda di hadapan pria lain," ujar Luke.


Milaine menurunkan kembali mini dressnya. Tampang Milaine tampak polos dan tak berdosa seusai melakukan itu.


"Memangnya kenapa? Tidak ada yang salah, bukan?"


"Tentu saja salah!" sergah Luke dan Eron serentak.


Milaine tersentak mendengar suara kedua pria itu.


"Lain kali kau tidak boleh memperlihatkan pahamu di depan pria lain. Kau paham?! Nanti mereka akan berpikiran kotor tentangmu," ucap Eron.


"Baiklah, akan aku ingat itu."


Kemudian Milaine melangkah mendekati gundukan mayat pembunuh. Dia memeriksa satu persatu senjata yang mereka bawa.


"Aku harus membawa pulang ini semua."


Milaine mengumpulkan berbagai macam senjata ilegal serta beberapa botol racun mematikan.


"Eron, kenapa kau bisa ada di sini? Lalu kenapa kau bisa bersama Nona Milaine?" selidiki Luke.


"Aku tidak sengaja bertemu Milaine di taman. Kau jangan berpikir macam-macam," ketus Eron.


Ekspresinya kembali datar saat berbicara dengan orang selain Milaine. Hal inilah yang membuat Luke menjadi curiga.


"Benarkah? Aku tahu kau bukanlah pria yang bersikap ramah terhadap orang lain, terutama wanita. Apakah kau menyimpan perasaan terhadap Nona-ku?"


"Itu bukan urusanmu!" Eron menatap sinis Luke.


"Tentu saja ini menjadi urusanku karena Nona adalah orang yang aku layani." Luke pun akhirnya terpancing amarah.


"Kau tidak lebih dari sekedar pengawal pribadi kan? Atau apakah kau punya hubungan yang lebih spesial dari itu?"


Luke mengepalkan kedua tangannya. Sudut mata Luke mengerut, ia menggertakkan gigi dan bersiap melayangkan pukulan.


"Kau benar-benar membuatku jengkel! Jangan pernah dekati—"


"Ada apa? Apakah kalian bertengkar?"


Milaine kala itu mendekati mereka. Suasana panas di antara keduanya seketika meredam. Luke pun membuang jauh-jauh kejengkelannya sejenak. Mimik wajah yang menggambarkan kemarahan tadi langsung berganti ramah.


"Tidak, Nona. Kami tidak bertengkar. Saya hanya menyapa Eron karena kami adalah teman sekelas," dalih Luke.

__ADS_1


"Benarkah? Syukurlah kalau begitu. Sekarang ayo kita kembali, aku sudah selesai menjarah barang-barang mereka."


"Baiklah, Nona."


__ADS_2