
Deon terbangun dan mendapati dirinya tengah berada di dalam kamarnya sendiri. Dia masih dibayangi oleh kekalahannya dari Milaine. Rasanya sungguh menjengkelkan sekali melihat gadis yang dulunya lemah kini malah dengan mudah menginjak-injaknya.
"Gadis jal*ng itu, aku benar-benar kalah darinya," gerutu Deon.
Mayra — Ibu Deon masuk ke kamar untuk melihat kondisi putranya. Dia amat mengkhawatirkan Deon yang tidak kunjung siuman selama hampir dua puluh empat jam.
"Deon! Ya ampun, bagaimana kondisimu? Apakah tubuhmu masih sakit?"
Mayra mendekap Deon. Betapa besar rasa sayangnya terhadap putranya. Dia rela melakukan apa saja demi menjadikan Deon sebagai pewaris Lysander Group. Namun, sayangnya Milaine menjadi penghambat besar bagi perkembangan Deon.
"Tidak, aku baik-baik saja, Ibu. Sekarang aku hanya perlu sedikit istirahat untuk memulihkan tubuhku," ujar Deon.
Mayra nampak sebal. Dia tidak terima Deon begitu mudah dikalahkan oleh Milaine. Padahal dia berharap besar kalau Deon dapat menghabisi Milaine dan Nigel sekaligus.
"Gadis itu sungguh menjengkelkan. Kenapa tidak kau tembak saja dia menggunakan pistol? Itu akan lebih mudah menghabisinya dalam satu tembakan peluru saja," rungut Mayra.
"Dia lebih tangguh dariku. Walaupun aku menggunakan pistol nantinya, bisa saja dia dapat menghindar. Pergerakannya sangat gesit dan dia tidak seperti manusia biasa."
"Tidak seperti manusia biasa? Apa maksudmu?"
"Tampaknya sesekali Ibu harus menyaksikan sendiri dia seperti apa. Milaine seakan-akan dapat membaca setiap pergerakan yang mengarah padanya."
Mayra terhening. Sejujurnya dia tidak pernah melihat dengan mata kepala sendiri seberapa menakutkannya Milaine saat berkelahi. Gadis berwajah malaikat itu selama ini dianggap sebagai gadis lemah dan mudah ditaklukkan.
'Aku harus memastikan sendiri. Apakah benar Milaine sebegitu mengerikannya? Aku tidak percaya sebelum aku melihatnya.'
***
Di hari berikutnya, Milaine berangkat ke akademi seperti biasa. Dia pergi sendirian dan berangkat terpisah dari Nigel sebab Adiknya diantar langsung oleh Fiona ke akademi.
Murid-murid di akademi masih memusuhinya. Hanya saja, mereka tidak seberani sebelumnya membicarakan Milaine. Semenjak Conrad datang ke akademi untuk membela Milaine, mereka jadi segan sekaligus takut terhadap gadis itu.
Di tengah jalan koridor gedung akademi, Milaine tanpa sengaja bertubrukan dengan sesosok pria. Milaine tersungkur ke atas lantai. Tanpa melihat siapa pria itu, Milaine buru-buru bangkit dan menepuk roknya yang terkena debu.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja."
Pria itu meminta maaf langsung kepada Milaine. Gadis itu pun melirik wajah si pria tersebut. Rupanya yang menabraknya ialah Ervan Velmilish, pria yang waktu itu pernah memberi peringatan kepada Ophelia.
"Ya, tidak perlu meminta maaf. Aku juga salah karena tidak fokus memperhatikan jalan," balas Milaine.
"Benarkah? Aku jadi merasa sedikit bertanggung jawab."
"Tidak usah terlalu dipikirkan. Aku tak mempermasalahkannya."
Ervan memberikan sehelai sapu tangan kepada Milaine.
"Pakai ini untuk mengelap tangan dan rokmu," kata Ervan.
__ADS_1
"Hmm, ya. Terima kasih, kalau begitu aku pergi dulu."
Milaine mengambil sapu tangan tersebut. Aroma tubuh Milaine nan manis, menyeruak masuk ke indera penciuman Ervan begitu Milaine berlalu dari hadapannya.
'Cantik dan harum. Aku menyukai gadis ini, haruskah aku mencoba mendekatinya? Setidaknya, aku bisa menjadikannya sebagai batu loncatan meraih tujuanku,' batin Ervan.
Ervan mengamati punggung Milaine yang kian menjauh darinya. Tanpa sadar, ia melamun cukup lama sampai akhirnya dia dikejutkan oleh Ophelia.
"Hei, Ervan! Apa yang kau lakukan di sini?" Ophelia menepuk punggung Ervan.
Ervan terlonjak kaget karena Ophelia begitu tiba-tiba mendatanginya.
"Tidak ada, aku hanya sedang memperhatikan seseorang," jawab Ervan.
"Seseorang?" Ophelia mengedarkan pandangan ke arah tatapan Ervan. "Siapa yang kau maksud?" tanya Ophelia, dia tidak melihat tanda-tanda keberadaan orang lain di sana.
"Gadis cantik dan beraroma manis."
Selepas menjawab itu, Ervan melanjutkan perjalanannya.
"Gadis cantik? Apa mungkin kau sedang jatuh cinta?" terka Ophelia asal-asalan.
"Pfft, hahaha." Ervan tertawa lepas. "Jatuh cinta? Mana mungkin. Dibanding jatuh cinta, lebih tepatnya aku menemukan seorang wanita yang langka."
Ophelia bertambah tidak paham apa maksud perkataan Ervan. Pria itu memang sulit dipahami setiap ucapannya. Terkadang Ophelia sendiri tidak paham apa yang dikatakan Ervan.
"Lagi-lagi dia seperti itu," gumam Ophelia.
"Selamat pagi semuanya. Sesuai jadwal pelajaran kita hari ini, kita akan pergi ke lapangan untuk menunggangi kuda."
Milaine menghela napas panjang ketika sang Guru berkata bahwa mereka akan menunggangi kuda. Hampir saja dia lupa kalau hari ini adalah pelajaran berkuda.
'Padahal aku hanya ingin duduk santai hari ini.'
Dengan langkah malas, Milaine turun ke lapangan berkuda. Dia juga telah mengganti seragamnya dengan pakaian khusus berkuda.
"Milaine, aku yakin kau belum pernah berkuda sebelumnya karena kau kan selama ini tinggal di rumah sakit jiwa," ledek Athia.
Milaine melirik tajam Athia. "Kenapa harus ada setan pagi-pagi begini?"
Athia tampak tidak terima Milaine menyindirnya sebagai setan.
"Dasar anak pelayan rendahan! Aku yakin kau akan membuat malu dirimu karena kau tidak bisa menunggangi kuda."
Athia tidak pernah merasa lelah mengusik Milaine. Dia selalu punya kalimat yang dia gunakan untuk memancing emosi Milaine.
"Benarkah? Tetapi, sayangnya Athia, aku bisa melakukan apa yang selama ini kalian lakukan," tutur Milaine sembari tersenyum.
__ADS_1
Athia mengepalkan kedua tangannya. "Huh, jangan sombong! Aku yakin kau hanya berbicara omong kosong saja."
Karena teramat kesal, Athia pergi menjauh dari Milaine. Sulit baginya berurusan dengan gadis datar seperti Milaine.
Sepuluh menit berselang, seluruh murid di kelas disuruh memilih satu ekor kuda untuk mereka tunggangi. Milaine memilih kuda putih karena hanya itu satu-satunya kuda yang tersisa. Lalu mereka dipanggil satu persatu untuk segera menaiki kuda dan melintasi area lapangan.
"Wah, Athia seperti biasa sangat pandai menunggangi kuda."
"Itu karena dia sedari kecil telah dilatih oleh Ayahnya langsung untuk menunggangi kuda."
Milaine hanya menyaksikan Athia dari jauh tanpa memberi tanggapan.
"Bagaimana? Apa kau melihat kemampuanku barusan? Aku hebat bukan?" Athia membanggakan diri di hadapan Milaine.
"Aku tidak peduli."
Milaine bahkan tak menatap Athia sedikit pun. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Milaine Lysander, sekarang giliranmu."
Milaine maju begitu namanya dipanggil. Dia langsung menaiki punggung kuda. Sikapnya sangat sempurna untuk seseorang yang dinilai pemula.
"Bukankah dia pertama kali menunggangi kuda?"
"Iya, selama ini dia di rumah sakit jiwa. Bagaimana bisa dia tampak mahir menaiki kudanya?"
"Aku tidak tahu, tetapi menurutku mungkin saja dia telah lama melatih kemampuan berkudanya."
Athia jengkel mendengar bisikan-bisikan yang tertuju pada Milaine. Tidak dia sangka rupanya Milaine menyembunyikan kemampuan berkudanya.
Milaine pun melaju di lapangan dengan kuda putihnya. Dia sangat lihai mengendalikan pergerakan kuda tersebut. Hingga lima menit ia menunggangi kuda itu, sesuatu yang aneh terjadi.
"Kenapa kuda ini tiba-tiba sulit dikendalikan?"
Milaine menarik tali mengendalikan kuda itu. Namun, itu tidak bekerja sama sekali. Seluruh mata yang menyaksikan Milaine mulai gaduh dan bertanya-tanya tentang situasi yang dialami Milaine.
Kuda itu semakin hilang kendali diri. Seolah-olah kuda yang tadinya tampak normal berubah menjadi gila.
"Ini gawat! Cepat bantu Nona Milaine menghentikan kuda itu! Kudanya menggila dan kehilangan kendali!"
Sang Guru berkuda menyerukan beberapa orang untuk membantu menghentikan kuda Milaine. Pergerakan kuda itu kian bertambah cepat.
"Ada yang aneh. Kenapa kuda ini tiba-tiba menggila? Apabila terus dibiarkan seperti ini, maka hal yang lebih buruk mungkin saja terjadi," gumam Milaine berupaya tenang.
Dari belakang tiba-tiba saja tampak seorang pemuda tampan mengejar kuda Milaine. Dia juga menunggangi seekor kuda dan berusaha menyelaraskan kecepatan kudanya dengan Milaine.
"Di depan sana jalan buntu. Tidak! Jika begini aku akan terjatuh dan terpental jauh menabrak jalan buntu itu."
__ADS_1
Di tengah kepanikan Milaine, mendadak ada tangan kekar yang menjangkau pinggang Milaine. Tubuh Milaine ditarik dan dibawa ke atas kuda miliknya.
"Milaine, apa kau baik-baik saja? Syukurlah, aku tepat waktu menyelamatkanmu."