
"Apa? Kedua bajing*n itu ditemukan tewas?"
Di pagi harinya, Conrad mendapatkan kabar soal kematian Corner dan Winson. Padahal dia baru saja merencanakan untuk membunuh mereka berdua. Akan tetapi, dia terlambat satu langkah dari Luke dan Lloyd. Kedua pemuda itu berhasil merenggut nyawa manusia yang membuat Milaine nyaris dikeluarkan dari akademi.
"Benar, Tuan. Kondisi mayatnya amat memprihatinkan. Terutama Profesor Corner, tampaknya dia mengalami penyiksaan sebelum kematiannya," ujar Veno.
"Baguslah kalau begitu. Setidaknya aku tidak perlu mengotori tanganku untuk membunuhnya."
Conrad tersenyum puas. Dengan begini, kehidupan akademi Milaine mungkin akan sedikit lebih damai. Meskipun masih ada gangguan yang datang, tetapi Conrad yakin Milaine dapat mengatasinya.
"Permisi, Tuan." Seorang penjaga masuk ke dalam ruangan. "Maaf telah mengganggu waktu Anda. Saya kemari menyerahkan hadiah kecil dari Nona Milaine untuk Anda."
Penjaga itu pun memberikan sebuah kotak coklat kepada Conrad. Di atas tutup kotaknya, terdapat secarik pesan kecil.
"Terima kasih karena telah datang membela saya. Ini adalah cokelat, tetapi tenang saja ini bukan cokelat manis. Saya yakin Ayah menyukainya sebab ini cokelat buatan saya."
Tanpa tersadar, kedua sudut bibir Conrad terangkat. Dia tersenyum manis mendapatkan hadiah kecil dari sang putri. Baik Veno maupun sang penjaga masih tidak terbiasa melihat senyum Conrad.
"Dasar anak ini. Apakah dia pikir aku anak kecil yang akan senang saat diberi hadiah cokelat?" omel Conrad menyembunyikan rasa bahagianya.
'Anda senang kan, Tuan? Saya tahu Anda hanya berusaha menutupi kesenangan Anda,' batin Veno memandang aneh Conrad.
***
Lisbeth mendengar keseluruhan laporan yang diberikan bawahannya. Sifatnya yang terlihat tenang di luar, sebenarnya itu hanyalah topeng. Lisbeth tak kuasa menahan kegeraman begitu mengetahui bahwasanya Conrad akhir-akhir ini menampakkan perlakuan baik terhadap Milaine.
Lisbeth melempar seluruh barang yang ada di kamarnya. Dia mengacaukan isi kamar demi melampiaskan kemarahan.
"Sial! Gadis sialan itu menjadi penghambat besar bagiku. Aku sudah mewaspadai terjadinya masalah ini, tetapi siapa sangka kalau ternyata Tuan Conrad rupanya menyayangi Milaine lebih dari yang aku kira," gerutu Lisbeth.
Lisbeth mendudukkan badan di atas sofa. Seluruh pelayan hanya menonton amukan Lisbeth. Mereka sudah terbiasa selama ini melihat Lisbeth bersikap seperti demikian.
"Milaine. Kenapa gadis itu harus kembali ke kediaman ini? Ah, sialan! Semua pembunuh yang aku kirim selalu gagal membunuhnya. Mengapa dia bisa sekuat itu?"
Lisbeth mengayunkan jemarinya, memberi isyarat kepada salah satu pelayan untuk mendekat.
"Tuangkan alkohol ke gelasku," titahnya.
Pelayan itu pun mematuhi perintah Lisbeth. Dengan tangan gemetar akibat rasa takut yang menguasai diri, ia pelan-pelan menuangkan alkohol ke gelas Lisbeth.
Hingga momen mengesalkan bagi Lisbeth pun terjadi. Si pelayan tanpa sengaja menumpahkan alkohol tersebut ke pakaian Lisbeth. Kemurkaan wanita itu pun langsung meledak seperti sebuah bom.
"Apa yang kau lakukan, jal*ng?! Kenapa kau tidak becus sekali dalam bekerja?!"
Sontak pelayan itu pun bersujud di bawah kaki Lisbeth. Dia memohon ampunan atas kelalaiannya dalam bekerja.
__ADS_1
"Maafkan saya, Nyonya. S-Saya tidak s-sengaja, saya akan m-membersihkan pakaian Anda lagi."
"Dasar tidak berguna!" Lisbeth menjambak rambut pelayan tersebut. "Beraninya pelayan sepertimu mengotori pakaianku! Kau akan membersihkannya? Kau saja yang aku bersihkan dari dunia ini."
Lisbeth menyeret pelayan itu ke luar kamar. Seluruh pelayan yang menyaksikannya hanya diam menunduk. Mereka tidak punya kuasa membantu rekan mereka yang sedang kesulitan.
"Ampun, Nyonya. Saya mohon, maafkan saya."
Lisbeth menutup telinga, menolak mendengarkan permohonan sang pelayan. Dia membawa pelayan itu ke tempat biasa dia menyiksa orang-orang yang bekerja di bawahnya.
Terdengar suara teriakan kesakitan si pelayan. Lisbeth memang sangatlah kejam, itu bukan lagi menjadi sebuah rahasia di kalangan pekerja mansion. Maka dari itu, mereka memilih untuk bersikap hati-hati jika berhadapan dengan Lisbeth.
Satu jam berlalu, Lisbeth keluar dari ruang tersebut. Sedangkan pelayan yang ia siksa kini terkapar tak berdaya.
"Ibu, apa kau menyiksa pelayan lagi?"
Arthyn — putranya, datang dari arah berlawanan. Raut muka Lisbeth yang dingin mencair sejenak melihat wajah sang putra.
"Ya ampun, anakku. Ada apa kau menemui Ibu? Apakah ada sesuatu yang kau inginkan?"
Lisbeth selalu menyingkirkan kesadisannya bila berhadapan dengan Arthyn. Putranya itu merupakan satu-satunya orang yang dapat membuat hati Lisbeth melunak.
"Tidak, Ibu. Aku hanya merindukanmu karena beberapa hari ini kita jarang bertemu," tutur Arthyn.
"Benarkah? Ibu juga merindukanmu, sayang." Lisbeth menggandeng tangan Arthyn. "Apakah kau sudah makan? Ayo kita makan siang bersama. Bagaimana?"
"Baiklah, Ibu."
Lisbeth memerintahkan para pelayan untuk menyiapkan makanan. Mereka berdua berjalan menuju ruang makan paviliun.
"Makanlah yang banyak, anakku." Lisbeth meletakkan berbagai macam lauk di piring Arthyn.
"Apakah ada sesuatu yang membuat Ibu marah?" Akhirnya, Arthyn melontarkan pertanyaan tersebut ke Lisbeth.
Pergerakan tangan Lisbeth terjada sejenak. Dia pun menatap lurus putranya.
"Arthyn, bisakah kau menyingkirkan Milaine? Gadis itu menjadi penghambat bagimu. Dia merampas perhatian Ayahmu dan sekarang hubungannya dengan Ayahmu jauh membaik. Kau tidak bisa membiarkan dia berada selangkah lebih maju darimu," tutur Lisbeth.
Mendengar hal itu, Arthyn tak bereaksi sama sekali. Perlahan ia mengulas senyum tipis sembari mengangguk.
"Baik, biar aku yang mengurus Milaine."
Raut muka Lisbeth seketika cerah. Puas sekali ia mendengar jawaban Arthyn.
"Bagus! Aku harap tidak ada hambatan dalam membunuhnya."
__ADS_1
***
Milaine baru saja selesai mengambil darah Nigel. Dia ingin memastikan apakah ada racun di tubuh Nigel atau tidak. Sekarang kondisi Nigel jauh membaik semenjak mengonsumsi obat dari Milaine.
"Nigel, apakah kau merasa ada sesuatu yang aneh dari tubuhmu?" tanya Milaine.
"Sebenarnya beberapa waktu belakangan ini kepalaku sering sakit dan selera makanku menurun, lalu debar jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya. Aku pikir itu sakit biasa, tetapi menurutku ini bukanlah sesuatu yang bisa aku abaikan," jelas Nigel.
Milaine berpikir sejenak, mungkin memang ada sesuatu di tubuh Nigel yang tidak terdeteksi alat medis.
"Begitu ya? Nanti biar aku cek dulu darahmu. Sekarang kau tidak boleh berpikir terlalu keras dan jangan lupa meminum obat yang baru aku racik untukmu," ujar Milaine.
"Siap, Kak! Aku akan melakukan sesuai yang Kakak katakan."
Senyum lembut terbit di bibir Milaine seraya mengelus puncak kepala Nigel.
"Bagus! Kakak keluar dulu. Aku akan mengunjungimu lagi jika ada waktu senggang."
Milaine membawa sampel darah Nigel keluar dari kamar. Di pertengahan jalan ke paviliunnya, secara kebetulan Milaine berpapasan dengan Arthyn. Mulanya, Milaine hendak mengabaikan Arthyn, tetapi pria itu malah mencekal pergelangan tangannya.
"Lepas! Jangan sentuh aku." Milaine menepis tangan Arthyn.
Tatapan Arthyn terhadap Milaine menyiratkan sesuatu yang amat berbeda.
"Bagaimana kabarmu, Milaine? Aku dengar kau menyebabkan banyak masalah di akademi," ucap Arthyn.
"Bukan urusanmu!" Milaine memandang sinis Arthyn.
"Kenapa kau tidak pernah bersikap ramah padaku? Apakah ada sesuatu yang tidak kau sukai dariku?"
Milaine mengepalkan kedua tangannya. Dia takkan pernah melupakan sedikit pun bagaimana kurang ajarnya Arthyn terhadap dirinya.
'Inilah kenapa aku tak mau berurusan dengan pria ini. Dia selalu menatapku menggunakan tatapan menjijikkan. Aku tidak menyukainya dan aku sangat membencinya,' batin Milaine.
Tanpa memberi respon, Milaine berlalu pergi dari hadapan Arthyn. Akan tetapi, Arthyn kembali mencegat langkahnya.
"Jawab dulu pertanyaanku. Jangan mengabaikanku seperti ini," kata Arthyn mendesak Milaine.
"Karena aku membencimu. Aku membenci semua saudara yang menjadi sainganku. Kau puas?!"
Arthyn pun terkekeh mendengar jawaban Milaine. Gadis berparas cantik yang selalu menciptakan masalah baru itu tiada henti membuatnya tertarik.
"Aku mengerti kau membenciku karena aku sainganmu. Tidak buruk, tidak salah aku menyukai gadis berani sepertimu."
Sesaat Milaine merasa merinding mendengar penuturan rasa suka Arthyn. Sungguh, kata-kata itu merupakan salah satu hal yang paling dihindari Milaine. Perasaan tidak wajar yang dirasakan Milaine terhadap Arthyn menyebabkan pergolakan hebat di batin Milaine.
__ADS_1