Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Menyelesaikan Peracikan Penawar


__ADS_3

Milaine mengulas senyum tipis, ia berusaha menguatkan Albern yang sangat putus asa menjalani hidupnya sendiri. Ekspresi Milaine penuh dengan luka, rasa sakit, dan penderitaan yang tak kunjung berakhir. Tubuhnya kecil, bekas luka di mana-mana, serta tangan kecil yang mulai kasar akibat latihan keras.


Sejenak Albern berpikir, walaupun penuh goresan senjata tajam, wajah cantiknya tidak pudar sedikit pun. Tatapan matanya terkadang tampak dingin, di lain sisi juga terkadang berubah hangat.


“Kau harus hidup demi membalaskan kematian Ibumu,” ucap Milaine.


“Aku harus hidup demi balas dendam?”


Milaine mengangguk lalu menjawab lagi, “Apa kau akan membiarkan orang yang menyakiti Ibumu hidup bahagia di dunia ini? Apa kau rela mereka tertawa tanpa ada perasaan berdosa? Jika aku menjadi dirimu, maka aku akan hidup untuk balas dendam.”


Albern perlahan menemukan setitik cahaya baru untuknya bertahan. Selama ini tidak pernah ada seseorang yang berkata seperti itu kepadanya.


“Balas dendam ya? Aku pikir kau ada benarnya juga. Aku akan hidup demi membalaskan kematian Ibuku.”


Tekad Albern sudah bulat. Dia kini menemukan alasan mengapa dia harus bertahan hidup lebih lama lagi. Semangat hidup Albern telah kembali, Milaine merasa senang karena kata-katanya berhasil menghidupkan kembali api perjuangan yang telah padam.


“Aku yakin, Ibumu pasti sangat baik sampai kau menyimpan dendam besar terhadap kematiannya. Aku mendukungmu, semoga kau bisa membungkam hidup orang-orang yang membuatmu menderita,” ujar Milaine, binar matanya tiba-tiba berganti sendu.


“Ibuku sangat baik, dia selalu memelukku dan membacakan dongeng sebelum aku tidur. Terkadang Ibu juga menyanyikan lagu agar aku menjadi lebih tenang. Bagaimana denganmu? Apa kau punya Ibu yang menyayangimu?”


“Tidak, aku tidak punya. Aku hidup di bawah kebencian Ibuku, tetapi aku baik-baik saja karena aku sudah terbiasa.”


Itu adalah kalimat terakhir yang diucapkan Milaine sebelum gadis itu menghilang dan tidak pernah kembali lagi menemui Albern. Pertemuan singkat di antara mereka, ternyata memberikan harapan baru bagi Albern. Selama beberapa tahun belakangan ini, Albern mencari tahu siapa Milaine. Dia baru mengetahui identitas Milaine selepas membaca surat kabar mengenai Milaine yang dimasukkan ke rumah sakit jiwa.


Semenjak itu, Albern melatih dirinya supaya bisa lebih pantas berdiri melindungi Milaine dari berbagai masalah. Sekarang mereka bertemu lagi, di bawah rintik hujan, di bawah gemerlap malam, dan di bawah simbahan darah.

__ADS_1


“Ternyata kau anak yang aku selamatkan waktu itu. Selamat ya, karena kau berhasil melalui ujian hidup dan berhasil membalaskan kematian Ibumu,” ujar Milaine.


“Ini semua berkatmu, jika kau tidak menyelamatkanku waktu itu mungkin aku sudah mati tanpa melakukan pembalasan apa pun.”


Kemudian Albern membantu mengobati luka Milaine. Dia sedikit bersyukur karena wajah Milaine tidak terluka. Selepas itu, Albern pergi memeriksa situasi terkini, rupanya para bawahan Albern berhasil menghabisi para pembunuh itu.


“Situasi sudah aman terkendali. Apa kau mau pulang sekarang?” tanya Albern.


“Ya, aku harus meracik penawar untuk Adikku. Bisakah kau mengantarkanku ke kediaman Lysander? Aku tidak bisa menyetir dengan kondisi tangan seperti ini.”


“Dengan senang hati. Aku akan mengantarmu pulang.”


Albern mengantarkan Milaine ke kediaman Lysander. Begitu tiba di halaman utama, Milaine langsung berlari masuk ke dalam, sedangkan Albern pamit pulang karena dia harus melakukan beberapa pekerjaan lagi.


“Aku harus cepat sebelum terlambat.”


Di tengah konsentrasinya, Milaine menerima telepon dari rumah sakit tempat Nigel dirawat saat ini.


“Nona, Anda sedang berada di mana sekarang?” Tergurat kepanikan di suara sang Dokter.


“Aku sedang berada di kediaman Lysander. Ada apa? Mungkinkah kondisi Adikku menurun?” terka Milaine.


Respon dari Dokternya terjeda sejenak, suasana rumah sakit terdengar sangat ramai.


“Tuan Muda Nigel … racun di tubuh beliau bereaksi dengan cepat. Saya tidak tahu kenapa, tetapi kondisi Tuan Muda sangat gawat. Apa yang harus saya lakukan, Nona? Apakah penawarnya sudah selesai Anda racik?”

__ADS_1


Milaine berupaya tenang mendengar laporan kondisi sang Adik. Walaupun perasaannya berkecamuk mendengar hal tersebut.


“Baiklah, tunggu aku di sana. Sebentar lagi penawarnya selesai aku buat. Tolong awasi kondisi Nigel, katakan kepada Ibu untuk jangan terlalu khawatir. Aku pasti akan menyelamatkan Nigel.”


“Iya, Nona. Tolong cepat kemari, saya sebagai Dokter merasa sangat khawatir. Racun bukanlah keahlian saya, jadi saya hanya bisa berharap kepada Anda.”


Milaine menyingkirkan segala bentuk kecemasan yang mendera di pikiran. Dia harus berkonsentrasi melanjutkan peracikan penawar racun.


“Aku harus cepat sebelum terlambat.”


Sekitar dua puluh menit berlalu, Milaine berhasil membuat penawar racun untuk Nigel. Lekas saja Milaine melangkah ke mobil dan langsung pergi menuju rumah sakit. Setiba di sana, Milaine disambut oleh Dokter dan Fiona.


“Bagaimana kondisi Nigel—”


Betapa terkejutnya Milaine ketika mendapati Nigel kejang-kejang di atas ranjang rawat. Tanpa menunggu lama, Milaine segera menyuntikkan cairan penawarnya ke tangan Nigel. Perlahan Nigel pun mulai tenang. Penawar racunnya langsung bereaksi di tubuh Nigel.


“Syukurlah, aku menyelesaikannya tepat waktu.”


Milaine melangkah tertatih-tatih keluar dari ruang rawat Nigel. Rasanya sungguh melegakan karena berhasil menyuntikkan penawar racun ke tubuh Nigel. Sekarang hanya perlu menunggu sampai Nigel siuman.


“Ukhh … sekujur badanku sakit. Aku terlalu memaksakan diri.”


Milaine berjalan sendirian di tengah koridor rumah sakit. Dia berupaya melangkah lebih jauh menuju area parkiran. Milaine ingin segera pulang lalu merebahkan tubuh untuk beristirahat penuh.


“Huh? Aku rasa ada yang salah di sini.”

__ADS_1


Milaine menyadari sesuatu kejanggalan di tempat sepi menuju area parkir. Dia merasakan ada mata yang sedang memantau pergerakannya. Di saat Milaine tengah lengah, sebilah anak panah menerjang melalui udara dan menargetkan dia. Milaine tidak sempat menghindar, kondisi tubuhnya yang lemah menyebabkan pergerakannya terkunci.


“Milaine, awas!”


__ADS_2