Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Amarah Tak Terbendung


__ADS_3

Conrad membuka satu per satu dokumen berisikan bukti yang diberikan Milaine kepadanya tadi. Seketika dia syok berat melihat ada banyak sekali bukti pengkhianatan Mayra. Milaine tidak berbohong, dia telah mengungkapkan hal yang sudah lama tersembunyi di belakang Conrad.


“Sialan! Berani sekali dia ingin mengkhianati Lysander Group! Dasar wanita tidak tahu diri!”


Conrad buru-buru bangkit dari tempatnya duduk. Kemarahannya tak terbendungkan lagi. Sekarang dia paham maksud Milaine yang tidak membunuh langsung Mayra tanpa sepengetahuannya.


“Milaine menungguku menghabisi nyawa wanita itu. Dia tidak bertindak gegabah, jika aku sendiri yang turun tangan, dia bisa selamat dari hukuman. Walau bagaimana pun, Milaine tetap menaati aturan yang berlaku.”


Sementara itu, Milaine terlihat sedang berganti pakaian. Dia dibantu oleh Halia, meski pelayan pribadinya itu masih sakit, tetapi dia bersikeras ingin membantu Milaine.


“Nona, tolong lebih berhati-hatilah. Setiap kali Anda kembali ke kediaman ini, pakaian Anda selalu kotor dan rusak,” omel Halia.

__ADS_1


“Ini karena aku selalu terlibat pertarungan tak terduga. Aku juga ingin kembali dalam keadaan pakaian masih utuh, tetapi apa daya para musuh selalu menerjangku dari segala arah.”


Halia menatap iba luka yang belum mengering di tubuh Milaine. Apabila itu orang lain, maka mungkin saja orang itu akan menjerit kesakitan. Akan tetapi, Milaine sudah terbiasa merasakan sakit sehingga apa pun jenis luka di tubuhnya, dia masih bisa mengatasinya.


“Ya sudah, aku keluar sekarang. Aku harus membantu Ayah membereskan masalah Mayra.”


Milaine bergegas menuju penjara bawah tanah. Di sana sudah ada Conrad dan Veno yang menunggu kehadirannya. Mayra masih belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar, sekarang mereka hanya bisa menunggu sebentar.


“Milaine, dari mana kau mendapatkan seluruh bukti-bukti itu?” tanya Conrad.


“Membocorkan rahasia produk perusahaan? Ternyata dia punya keberanian yang menakjubkan.”

__ADS_1


Sepersekian detik berselang, Mayra pun tersadar dari pingsannya. Dia sangat terkejut mendapati Conrad di hadapannya. Ditambah lagi, dia terkurung di balik jeruji besi dalam keadaan tangan terikat oleh borgol.


“Oh, akhirnya kau bangun juga, Mayra. Bagaimana perasaanmu dikurung di penjara?” Conrad mengarahkan sorot pandang yang mematikan.


“Tuan, kenapa saya dikurung di sini? Memangnya saya telah melakukan kesalahan apa?” Wanita itu berlagak tidak sadar atas pengkhianatan yang dia lakukan.


“Kau mau mencoba untuk memanipulasi keadaan? Ayah sudah tahu semua kebusukanmu dan rencana pengkhianatanmu. Jadi, jangan sesekali mencoba untuk kabur dari hukuman yang telah disediakan khusus untukmu,” celetuk Milaine.


Mayra membatu sesaat Milaine membeberkan perihal pengkhianat yang ia lakukan. Conrad terlihat sangat marah terhadap dirinya. Belum pernah sekali pun pria berwajah dingin itu menampakkan ekspresi marah seperti demikian.


“Aku benar-benar kecewa padamu. Tidakkah kau tahu sejak awal bahwa aku paling benci dengan yang namanya pengkhianatan?! Apa yang sebenarnya ada di pikiranmu? Bahkan, kau mencoba untuk membunuh Milaine. Siapa yang menyuruhmu?! Siapa orang itu?! Katakan padaku!”

__ADS_1


Conrad memborbardir Mayra dengan berbagai pertanyaan. Dia tidak bisa santai dalam menginterogasi Mayra. Wanita itu tidak pantas diperlakukan dengan baik, dia kini bukan lagi dianggap sebagai salah satu istri Conrad.


“T-Tuan … bukan begitu, tolong d-dengarkan penjelasan saya.”


__ADS_2