Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Puncak Kemarahan Nigel


__ADS_3

Milaine mencegah kemarahan Conrad kepada Fiona. Dia tidak ingin terjadi perseteruan besar antar para istri bila mereka tahu kalau Conrad membela Milaine.


Conrad menghela napas panjang. Dia hampir saja bersikap ceroboh. Untungnya Milaine menyadarkan dia kembali. Sekarang kemarahan Conrad mereda sedikit demi sedikit.


"Ya sudah. Fiona, jangan sampai aku melihatmu memarahi Milaine lagi. Kau harus tahu batasan sampai mana kau boleh menyalahi putrimu."


Conrad beranjak pergi dari hadapan mereka. Fiona hanya tertunduk dan tidak mengatakan apa pun. Dia terlalu syok karena Conrad datang memarahinya.


Milaine menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Memang satu-satunya orang yang bisa membungkam Fiona ialah Conrad. Tidak ada orang lain selain Conrad.


"Nigel, bawa ibu ke dalam, sepertinya dia sangat syok," ucap Milaine kepada Nigel.


"Iya, Kak."

__ADS_1


Milaine pun pergi meninggalkan Fiona. Nigel membawa Fiona ke dalam paviliun untuk beristirahat. Tatapan Fiona masih belum berubah. Rasa takut menyelimuti binar matanya. Wajar saja bila dia syok sebab Conrad jarang berbicara dengannya dan sekalinya berbicara malah membela Milaine.


"Ada apa dengan Tuan? Mengapa dia membela Milaine? Jelas-jelas gadis itu adalah pembunuh. Bagaimana bisa dia tidak melihat apa yang telah terjadi terhadap kedua putranya? Aku tidak bisa menerimanya. Milaine sungguh telah menginjak-injakku," gumam Fiona kesal dan tak terima.


Nigel mendengar itu dengan jelas. Dia tidak mau lagi menjadi anak penurut dengan ibunya. Dia tak ingin Milaine celaka akibat ulah sang ibu.


"Ibu, hentikan itu! Mau sampai kapan kau terus seperti ini?! Kakak tidak salah, yang salah di sini adalah Ibu. Kapan Ibu akan mengerti?! Aku sudah muak melihat Ibu terus menerus menyerang kakak!"


"Nigel, kenapa kau sekarang suka sekali melawan Ibu? Kau anak Ibu satu-satunya saat ini. Jangan membuat Ibu merasa menjadi ibu yang kejam untukmu."


Nigel tersenyum miring.


"Aku anak Ibu satu-satunya saat ini? Bagaimana dengan kakak? Dia bukan anak Ibu? Aku tidak tahu sampai kapan Ibu akan menutup mata. Apa Ibu buta?! Selama ini kakak mati-matian melindungi kita dari ancaman pembunuhan. Tolong hargai usaha kakak walau hanya sedikit saja," tutur Nigel dengan kemarahan yang tak padam.

__ADS_1


"Aku tidak meminta dia untuk melindungiku. Aku masih bisa melindungi diriku sendiri. Dia hanya perlu hidup untuk melindungimu, tidak lebih. Aku ingin dia mengorbankan nyawamu untuk menjadikanmu sebagai ahli waris Lysander Group. Apakah aku salah? Tentu saja tidak! Aku tidak salah. Itu memang pantas didapatkan oleh seorang pembunuh seperti Milaine."


Fiona sudah kehilangan kewarasannya. Dia mengatakan itu dengan senyum mengerikan. Nigel sampai tidak bisa berkata-kata mendengar ucapannya.


"Kakak bukan pembunuh! Ternyata Ibu memang telah tenggelam dalam jurang kebencian. Percuma saja aku berbicara dengan Ibu. Maka dari itulah, aku memutuskan untuk tidak berbicara denganmu lagi. Aku tidak butuh Ibu yang gila sepertimu."


Nigel berbalik badan. Fiona tercengang menyaksikan sorotan mata Nigel yang dingin tanpa adanya kasih sayang kepada dirinya lagi.


"Nigel, tunggu! Apa yang kau katakan? Ibu tudak bisa hidup tanpamu. Maafkan Ibu, maaf kalau Ibu salah kepadamu—"


Nigel menepis tangan Fiona yang mencekal pergelangan tangannya.


"Jangan sentuh aku!"

__ADS_1


__ADS_2