Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Fiona Mulai Melawan


__ADS_3

Di kediaman Velmilish, Lloyd seperti biasa sibuk menata koleksi senjata tajam miliknya. Sesekali terlintas di kepalanya suara dan wajah lembut Milaine. Dia sudah dimabuk cinta sejak pertama kali dia bertemu gadis itu.


"Cinta pertama ... Milaine adalah cinta pertamaku. Apakah dia masih ingat ketika dia menyelamatkanku dulu?"


Lloyd mengelap permukaan senjatanya. Dia sering menggunakan senjata ini untuk membunuh orang-orang yang mengincar nyawanya. Sekarang di kediaman Velmilish ini, hanya dia dan Ervan saja yang tersisa. Saudaranya yang lain telah dihabisi oleh Ervan selama beberapa tahun belakangan ini.


"Lloyd, kau masih suka mengoleksi senjata?"


Lloyd sontak menoleh ke arah pintu masuk. Ervan sudah berdiri di ambang pintu sambil memperhatikan gerak-geriknya.


"Ada urusan apa kau kemari? Apakah ada sesuatu yang kau inginkan dariku?" Lloyd merespon kedatangan Ervan dengan sinis.


"Hei, jangan seperti itu. Di keluarga ini hanya tinggal kita berdua saja sebagai calon pewaris. Kau harusnya bisa bersikap lebih baik lagi pada Kakakmu."


Lloyd berdecak kesal. Dia memutar bola mata malas setiap kali berurusan dengan Ervan. Pria itu tiada henti merendahkan dirinya sebagai anak haram.


"Kakak? Aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudaraku. Jadi, berhentilah bersikap sok dekat denganku," balas Lloyd.


Ervan pun masuk lebih dalam ke ruangan senjata Lloyd. Dia kerap kali terkagum terhadap koleksi senjata Lloyd yang terbilang langka.


"Ya sudah, terserah kau saja menganggapku apa."


Ervan mengamati senjata yang tertata rapi di dinding. Dia berniat untuk menyentuh salah satu pedang milik Lloyd.


"Jangan sentuh! Aku tidak sudi milikku disentuh oleh orang sepertimu," larang Lloyd menodongkan pistol ke belakang kepala Ervan.


"Baiklah, aku takkan menyentuhnya. Tolong turunkan pistolmu. Bisa berbahaya kalau kau tidak sengaja melepas pelatuknya."


Lloyd menurunkan pistolnya. Alasan dia tidak membunuh Ervan sampai saat ini ialah karena ada beberapa hal yang perlu dia pastikan sebelum Ervan mati di tangannya. Saat ini dia masih belum mendapatkan informasi dari penyelidikan terhadap Ervan.


"Kenapa kau kemari? Aku yakin kau bukanlah tipe orang yang datang tanpa alasan," selidik Lloyd.


Senyum tak berdosa mengembang di bibir Ervan.


"Kau sangat pintar! Tidak salahnya aku membiarkan kau hidup. Aku kemari untuk menanyakan hubunganmu dan Milaine."


Mendengar nama Milaine, Lloyd seketika naik pitam. Sorot matanya berubah tajam mematikan. Dia menahan diri sejenak sampai ia tahu maksud Ervan menanyakan Milaine.


"Hubunganku dengan Milaine? Mengapa kau sangat penasaran? Aku dan gadis itu tidak punya hubungan khusus untuk saat ini."


Senyum Ervan sesaat pudar.


"Untuk saat ini? Jadi, kau punya rencana memiliki hubungan istimewa dengan Milaine nanti?"

__ADS_1


Lloyd menaruh pistolnya di atas meja. Dia ingin meladeni perkataan Ervan.


"Benar. Aku ingin dia menjadi milikku. Ada apa? Jangan bilang kau juga memikirkan hal yang sama sepertiku?" terka Lloyd.


"Tentu saja. Aku menyukai gadis cantik, bertubuh seksi, dan beraroma wangi seperti Milaine. Sebelum kau mendapatkannya, maka aku sendiri yang akan maju lebih dulu darimu," tekan Ervan.


Lloyd menatap dingin Ervan, ia takkan menerima penekanan dari Ervan soal Milaine.


"Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah berhasil mendapatkannya. Karena apa? Karena sebelum kau melangkah lebih jauh, maka aku akan pasang badan untuk melindungi Milaine dari jangkauan pikiran kotormu."


"Hahaha." Ervan tertawa lepas. "Aku menantikannya. Aku yakin, kau tidak bisa menahanku untuk merasakan tubuh indah milik Milaine."


Bugh!


Sebuah pukulan mendarat ke pipi Ervan. Lloyd refleks memukulnya karena Ervan sudah keterlaluan memancing kemarahan Lloyd. Padahal dia sudah bersabar sedari tadi, tetapi pria itu tiada henti menyulut api di ucapannya.


Lloyd mencengkeram kerah baju Ervan dengan sangat kuat.


"Semakin aku biarkan, kau semakin gila! Apabila kau berani menyentuh Milaine walau hanya seujung jari saja, maka aku pastikan kau mendapatkan pembalasan seratus kali lipat lebih menyakitkan," ancam Lloyd, emosinya menggebu-gebu tak menentu.


Ervan menyentuh ujung bibir yang terluka. Senyum seringai terbit di antara rasa pedih di bibirnya itu.


"Aku suka mendengar ancamanmu. Baiklah, mari kita lihat siapa yang menang di sini. Aku ataukah dirimu? Ingatlah, kau mempertaruhkan tubuh Milaine untukku," ujar Ervan tanpa dosa.


Lloyd menyentak kerah baju Ervan. Tiada hal yang lebih membuatnya muak selain pikiran kotor Ervan.


"Pergi kau dari sini sekarang juga! Aku tidak mau melihat wajahmu yang ditutupi topeng itu!"


Ervan berbalik badan seraya melambaikan tangan. Dia cukup puas melihat Lloyd marah. Sudah lama sekali Lloyd tidak marah karena seseorang.


'Jadi, Lloyd juga menyukai Milaine? Menyenangkan sekali rasanya karena aku berhasil menemukan kelemahan anak tak berperasaan itu,' batin Ervan, menyunggingkan senyum penuh kemenangan.


***


Dua hari berselang, hari ini di kediaman Lysander, keempat istri Conrad mengadakan pertemuan khusus. Mereka berencana minum teh bersama di taman mansion utama. Padahal Conrad sedang berada dalam perawatan di rumah sakit, tetapi satu pun dari mereka enggan menjenguk Conrad. Hanya Milaine seorang yang selalu berada di sisi Conrad.


"Astaga, Nyonya Lisbeth, apakah perhiasan Anda baru lagi? Ini sangat cocok dengan Anda," puji Deysi.


"Gaun Anda juga sangat cantik. Di mana Anda membelinya, Nyonya?" timpal Mayra.


Lisbeth tersenyum elegan. Pembawaan Lisbeth selalu terlihat tenang sehingga banyak orang yang mengaguminya.


"Apa yang kalian bicarakan? Perhiasan dan gaun ini sudah lama tersimpan di lemari. Aku hanya tidak pernah mengenakannya ke luar," tutur Lisbeth.

__ADS_1


Fiona hanya diam menyaksikan keakraban mereka bertiga. Dia selalu tersisihkan sebab status mereka yang berbeda jauh. Lalu Deysi melirik tidak suka Fiona.


"Fiona, apa kau tidak punya perhiasan dan gaun baru untuk kau kenakan? Aku perhatikan gaunmu itu bukannya gaun yang sudah kau pakai berkali-kali? Seharusnya kau belanjakan sedikit uangmu untuk memanjakan dirimu."


Deysi merendahkan Fiona terang-terangan. Akan tetapi, Fiona berupaya tenang dan tidak merespon secara berlebihan.


"Deysi, kau keterlaluan sekali. Uangnya kan habis untuk membiayai pengobatan Nigel. Putranya yang sakit-sakitan itu tampaknya hanya menyusahkan saja." Mayra ikut merendahkan Fiona.


"Hentikan. Kalian tidak boleh merundung Fiona karena dia seorang Ibu yang baik. Tidak mungkin dia menelantarkan putranya sendiri," celetuk Lisbeth.


Fiona menunduk dalam-dalam. Telinganya mulai panas mendengar perkataan mereka tentang dirinya.


"Bisakah Anda semua berhenti merendahkan saya? Padahal saya juga istri Tuan Conrad. Bukankah itu berarti posisi kita sama?" Akhirnya, Fiona pun buka suara.


"Beraninya kau menyamakan posisi kita denganmu! Kalau bukan karena kau ketahuan menaiki ranjang Tuan, mustahil kau bisa berdiri di sini sebagai salah satu Nyonya Lysander," bentak Deysi.


Fiona tertawa kaku, ia menyimpan kepedihan hatinya selama berada di kediaman ini.


"Saya memang menaiki ranjang Tuan, tetapi itu karena Tuan sendiri yang memintanya. Sudah cukup saya hidup di bawah hinaan kalian selama ini. Kalian berkata seperti itu karena kalian iri, bukan? Faktanya, sayalah satu-satunya wanita yang dicintai Tuan."


Fiona tidak lagi memperlihatkan rasa takut terhadap ketiga wanita tersebut. Bagaimana pun, mereka punya kedudukan yang sama di kediaman Lysander. Tidak peduli mereka dari keluarga mana, yang pasti mereka diperlakukan setara.


"Kurang ajar! Kau semakin berani sekarang melawan—"


"Iya, sekarang saya berani karena saya sadar kalau posisi saya dan kalian sama-sama istri Tuan Conrad. Lalu kenapa saya harus takut? Lagi pula Tuan tidak pernah membenarkan perbuatan kalian," sela Fiona marah.


"Dasar pelayan rendahan!" Mayra menyiramkan air teh ke muka Fiona. Untung saja tehnya sudah dingin, jadi muka Fiona hanya basah.


Fiona bangkit dari tempat duduk. Dia membalas dengan menyiram balik Mayra.


"Saya juga pandai menyiram Anda. Anggap ini pembalasan saya karena Anda telah semena-mena terhadap saya dan putra saya."


Mayra naik pitam. Dia memukul meja dan berdiri menatap lurus Fiona.


"Wanita rendahan! Kau pikir kau sudah menang karena berani melawanku?!"


Mayra mendorong kasar Fiona sampai terjerembab ke atas lantai. Fiona meringis pedih di telapak tangannya yang terluka.


"Sialan kau!"


Fiona lekas bangkit kembali. Dia mendorong balik Mayra hingga jatuh tersungkur mengenai meja. Lisbeth dan Deysi hanya diam menyaksikan perseteruan kedua wanita itu.


"Fiona! Kau harus diberi pelajaran—"

__ADS_1


"Nyonya! Nyonya Mayra! Gawat! Ada sesuatu yang terjadi kepada Tuan Muda Deon."


__ADS_2