
Milaine memerintahkan Luke dan Aleda menyeret Deon serta Mayra ke dalam mansion. Conrad bersama Veno bergegas menemui Milaine untuk meminta penjelasan terkait situasi saat ini.
“Apa yang terjadi? Apa yang kau lakukan kepada Mayra?” Conrad bertanya dengan nada cemas.
Conrad cemas bukan karena melihat kondisi Mayra melainkan dia khawatir kalau Milaine akan tersandung masalah sampai mengakibatkan ia terpaksa mundur dari kursi calon ahli waris. Akan tetapi, melihat dari bagaimana dinginnya tatapan Milaine, itu berarti ada sesuatu yang besar terjadi melibatkan Mayra.
“Ayah, kapan Anda kembali? Saya baru saja menangkap pengkhianat di kediaman ini.”
“Pengkhianat?”
Jemari telunjuk Milaine mengarah pada Mayra. “Dia adalah pengkhianat, Ayah. Dia bekerja sama dengan seseorang yang tidak aku tahu siapa itu untuk menjatuhkan Lysander Group.”
Milaine mengungkapkan pengkhianatan Mayra secara gamblang. Conrad dan Veno semakin diterpa kebingungan. Seluruh telinga yang mendengar pun tampak sangat terkejut begitu Milaine menuding Mayra sebagai pengkhianat.
__ADS_1
“Milaine, ini bukan waktunya untuk bercanda.” Conrad berupaya tetap tenang meski di hatinya sudah seperti ledakan yang ingin tahu maksud perkataan Milaine.
“Apakah menurut Ayah saya terlihat sedang bercanda? Justru di sini saya ingin menjelaskan semuanya. Saya berbicara dan menuding Mayra bukan tanpa bukti. Saya punya bukti yang valid terkait apa yang telah dilakukan Mayra selama ini.”
Kian terdengar meyakinkan, Milaine tak main-main terhadap fakta yang dihadapkan. Dia telah menyusun segala bukti pada satu file dokumen yang siap diberikan kepada Conrad kapan saja. Kemudian Milaine menyerahkan sebuah flahsdisk berisi bukti pengkhianatan Mayra.
“Tolong Anda lihat di sini seluruh buktinya. Walaupun saya terkenal kejam dan berhati dingin, tetapi saya sekali pun tidak pernah bertindak tanpa perhitungan. Bisakah Ayah melihat ini lebih dulu sebelum memutuskan apakah aku salah mengira atau tidak?”
“Baiklah. Sementara aku mengecek bukti-buktinya, tolong kurung Mayra di penjara bawah tanah. Sedangkan untuk Deon, urus segera pemakamannya,” perintah Conrad kepada Veno.
Veno beserta beberapa orang pengawal mansion membawa Mayra ke penjara bawah tanah. Jasad Deon juga diangkut ke ruang duka. Pada malam itu pun, seisi mansion gaduh karena kematian Deon yang dibunuh oleh Milaine.
“Apa kau yakin? Deon dibunuh Milaine?”
__ADS_1
Deysi yang baru saja terbangun langsung syok mendengar kabar kematian Deon. Dia tidak menyangka pria yang sulit dibunuh anaknya, malah mati di tangan Milaine.
“Benar, Nyonya. Sekarang jasad Tuan Muda Deon ada di ruang duka. Sebaiknya, Anda periksa sendiri biar lebih jelas.”
Deysi kian merasa gelisah, ia tidak menyangka hari seperti ini akan datang begitu cepat. Padahal Milaine baru saja tiba di kediaman ini, tetapi dia sudah membuat gempar suasana.
“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak bisa membiarkan Milaine membunuh anak-anakku. Tampaknya aku diharuskan bergerak lebih cepat sebelum gadis itu menyerang.”
Sementara itu, Arthyn tengah berada di ruang pribadinya. Ruangan gelap yang minim pencahayaan. Dia sengaja membuatnya seperti itu karena ada sesuatu yang tersimpan di balik gelapnya ruang tersebut.
“Milaine membunuh Deon? Padahal aku sengaja membiarkan Deon berkeliaran sesuka hatinya, tetapi lihatlah ini. Dia bahkan mati di tangan seorang gadis, tidak aku sangka rencanaku berjalan lebih mudah dari yang aku kira.”
Arthyn mengukir senyum penuh arti di bibirnya. Seolah-olah ada sesuatu hal tersimpan rapi di balik senyumnya itu.
__ADS_1