
Mayra tampak begitu putus asa. Dia tenggelam di lautan perasaan takut akan kematian. Akan tetapi, dia sungguh terlambat. Conrad enggan mengampuni kesalahan yang amat fatal tersebut.
"Tiada maaf bagimu, Mayra. Apa pun alasanmu, kau tetap saja mencoba untuk mengkhianatiku. Apa kau pikir aku orang yang mudah memaafkan seseorang yang telah berkhianat?"
Mayra tersentak, perlahan wajahnya tertekuk. Dia tidak mampu membalas perkataan Conrad. Perasaannya saat ini menjadi campur aduk. Milaine sangat puas menyaksikan betapa menderitanya Mayra.
"Siapa yang bekerja di belakangmu?" Milaine melontarkan pertanyaan secara to the point.
Mayra tak merespon pertanyaan Milaine. Dia membungkam rapat mulutnya supaya dia tidak asal-asalan berbicara siapa yang ada di belakangnya selama ini.
"Cepat jawab, Mayra! Siapa yang memerintahkanmu?! Siapa orang yang sudah berani membuat rencana pengkhianatan ini?!"
Emosi Milaine memburu keluar. Conrad hanya diam berharap Mayra segera menjawab pertanyaan dari Milaine.
"Aku tidak bisa mengatakannya," ucap Mayra membuang muka.
__ADS_1
"Sudah aku duga kau tidak mau menjawabnya. Lebih baik kau tinggal saja di sini sampai nanti aku memutuskan kapan untuk membunuhmu."
Conrad bergerak pergi meninggalkan penjara bawah tanah, sedangkan Milaine masih menatap lekat Mayra.
"Bagaimana rasanya? Bagaimana rasanya hidupmu yang sekarang ini berada di ujung tanduk? Pasti menyenangkan, bukan? Itulah yang dulu pernah dirasakan saudaraku dan Bibiku. Nikmatilah detik-detik sebelum kau dikirim ke neraka."
Suara Milaine terdengar dingin dan mencabik-cabik Mayra.
"Kau akan menyesal karena telah mencari masalah denganku! Aku yakin Deon akan membalaskan kematianku nanti," tekan Mayra.
Seketika suara tawa Milaine bergema di tengah lorong penjara.
Deg!
Degub jantung Mayra seakan-akan berhenti detik itu juga. Dia seperti nyaris mati begitu Milaine berkata demikian.
__ADS_1
"Apa yang kau katakan? Anakku mati?! Jangan bercanda! Jangan berbohong kepadaku, Milaine! Aku tahu saat ini kau hanya berbohong, kan?!"
Mayra berteriak sampai membuat telinga Milaine berdengung.
"Apa wajahku terlihat sedang bercanda? Aku tidak pernah bercanda soal kematian seseorang. Kau tahu itu kan?"
Mendadak sekujur badan Mayra lemas tak berdaya. Pikirannya kosong, rasa syok mulai menjalar hingga membuat dirinya sesak dan merasakan sakit luar biasa.
"Kau membunuh putraku? Beraninya kau ... beraninya kau, dasar pembunuh! Kembalikan putraku! Kembalikan Deon! Hidupkan dia lagi! Aku takkan mengampunimu, Milaine! Dasar wanita jal*ng!
Milaine menatap datar Mayra. Dia merasa sangat miris menyaksikan Mayra nyaris gila kala itu.
"Apa kau lupa? Sekarang kita berada di kediaman Lysander? Pembunuhan antar saudara itu diperbolehkan," ujar Milaine membuat Mayra sadar.
"Tidak ... Deon tidak mungkin mati. Maafkan Ibu, Deon ... maafkan Ibu karena tidak bisa melindungimu."
__ADS_1
Satu hal yang membuat Milaine berpikir bahwa Mayra memiliki kebaikan tersendiri di hatinya. Bagaimana pun perlakuannya terhadap orang lain, Mayra tetaplah Ibu yang baik. Berbeda dengan Fiona, Mayra teramat begitu menyayangi putranya. Dia rela melakukan apa saja demi membuat hidup putranya nyaman.
"Anggap saja ini sebagai buah dari apa yang kau lakukan di masa lalu. Nikmati penderitaanmu hari ini sebab aku sendiri tidak yakin, apakah besok kau masih hidup atau sudah mati? Ya, aku tidak peduli. Aku hanya ingin melihatmu mendapatkan karma atas perbuatanmu terhadap aku dan keluargaku."