Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Perundungan


__ADS_3

Pada hari berikutnya, kediaman Lysander kembali dihebohkan oleh kematian tahanan mansion. Tahanan tersebut ialah pelayan yang sebelumnya mencoba meracuni Conrad. Kala itu Milaine langsung menuju ke penjara mansion untuk menyelidiki kematian si pelayan.


“Veno, apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa pelayan itu bisa mati sebelum kita interogasi?” tanya Conrad.


“Dia membenturkan kepalanya ke dinding sampai mengeluarkan banyak darah. Sepertinya dia mati karena kekurangan darah, seolah-olah dia menutupi dengan baik seseorang yang berada di belakangnya,” jelas Veno.


Kemudian seorang pengawal mendapatkan sesuatu dari genggaman tangan pelayan itu.


“Tuan, saya menemukan sesuatu.”


Pengawal tersebut menyerahkan sebuah pin berlukiskan lambang tengkorak. Kedua bola mata Milaine melebar sesaat melihat lambang yang tidak asing itu.


“Ini adalah lambang dari Mahvan Gang,” ujar Milaine tiba-tiba.


“Mahvan Gang? Maksudmu organisasi di dunia gelap itu?”


Milaine mengangguk. Mahvan Gang ialah organisasi kejam yang berasal dari dunia gelap. Mahvan Gang menghasilkan ratusan pembunuh bayaran profesional serta seringa mengedarkan obat terlarang dan senjata ilegal. Keberadaan mereka tertutup dari dunia luar sehingga sampai saat ini tidak ada orang yang mengetahui pasti di mana keberadaan organisasi Mahvan Gang tersebut.


“Jadi, pelayan ini berasal dari Mahvan Gang? Siapa kira-kira yang membayarnya untuk meracuni Tuan?” Veno pun jadi bertanya-tanya.


“Aku tidak tahu pastinya. Hanya saja, jika orang ini mampu membayar Mahvan Gang, maka itu artinya dia bukanlah orang sembarangan. Ditambah lagi ada peraturan yang ditekankan pada setiap anggotanya. Peraturan itu adalah barang siapa yang tidak bisa menyelesaikan tugasnya, maka dia harus membunuh dirinya sendiri. Sekarang pertanyaanku terjawab, alasan mengapa dia mahir meracik racun karena dia berasal dari Mahvan Gang.”


Penuturan detail Milaine dipahami dengan mudah oleh Veno maupun Conrad. Milaine seakan-akan mengetahui dengan baik perihal Mahvan Gang. Padahal informasi soal organisasi ini sangatlah minim dan tidak banyak diketahui pihak media atau pun orang lain.


“Dari mana kau bisa mendapatkan informasi tentang Mahvan Gang sedetail itu?” tanya Conrad.


“Ada seseorang yang memberitahuku dan orang itu punya hubungan di masa lalu dengan Mahvan Gang,” jawab Milaine.


Di saat bersamaan, Veno mendapat panggilan dari perusahaan dan dia pun melaporkan isi panggilan tersebut.


“Baiklah. Mari kita bicarakan masalah ini nanti, sekarang aku pergi ke kantor dulu. Urus sampai bersih mayat pelayan itu,” ucap Conrad memberi perintah seraya keluar dari penjara.


Milaine pun juga keluar dari penjara, ada berbagai jenis pertanyaan bersarang di otaknya.


‘Sepertinya aku harus menyelidiki masalah ini baik-baik. Mungkin ada seseorang yang dari awal mengincar nyawa Ayah,’ batin Milaine.

__ADS_1


Di persimpangan lorong, Milaine kebetulan berpapasan dengan Nigel. Adiknya itu terlihat murung dan wajahnya ditutupi masker. Milaine berhenti untuk menyapa Nigel, tetapi panggilannya tidak digubris. Milaine mencoba memanggilnya sekali lagi dan masih tak ada respon dari Nigel. Selayang pandang Milaine melihat pandangan mata Nigel dipenuhi kekosongan seolah-olah dia baru saja mendapatkan masalah cukup serius.


“NIGEL!” sentak Milaine dengan lantang hingga suaranya bergaung di sepanjang lorong.


Suara Milaine membuyarkan lamunan Nigel, lekas ia berbalik badan menghadang sang Kakak. Nigel menarik bibirnya untuk tersenyum berlagak tidak ada masalah serius yang dia hadapi.


“Kakak! Sejak kapan kau ada di sini?” tanya Nigel.


“Sedari tadi aku memanggilmu, tetapi kau tidak merespon. Apakah ada sesuatu yang terjadi?”


Milaine menatap lekat wajah Nigel. Namun, Adiknya berupaya memalingkan wajah dari pergerakan netra Milaine. Dia menunjukkan gelagat tak biasa, senyum yang dipaksakan sekaligus garis-garis muka yang menunjukkan bahwa Nigel tidaklah berada di kondisi baik.


“Aku baik-baik saja, Kak. Tidak ada yang terjadi, tadi aku hanya kurang fokus,” dalih Nigel.


“Benarkah? Apakah kau menyembunyikan sesuatu dariku? Jujur saja, Nigel.”


Nigel terdiam, ia tak langsung menjawab pertanyaan Milaine. Sesuai dugaan gadis itu, Nigel memang merahasiakan sesuatu yang mengusik dirinya.


“Tidak ada yang aku sembunyikan. Tolong jangan khawatirkan aku, jika terjadi sesuatu biasanya aku langsung mengatakannya kepada Kakak.”


Lalu tiba-tiba saja Milaine menarik masker Nigel. Sesaat ia tertegun menemukan luka memar di sudut bibir Nigel. Tidak hanya itu saja, ada bekas luka yang mengering di dagu Nigel. Padahal dua hari yang lalu Nigel masih baik-baik saja. Akan tetapi, apa yang ditemukan Milaine hari ini adalah kasus yang berbeda.


Amarah Milaine tak terbendungkan, ia mengguncang-guncang tubuh Nigel sembari mendesak Adiknya untuk mengungkapkan siapa orang yang memukulnya. Rasa khawatir Milaine melebihi apa yang dibayangkan Nigel.


“Dengarkan aku dulu—”


“Siapa orangnya? Apakah si kembar sialan itu atau Deon yang memukulimu?! Tolong jujurlah—”


“Kak! Tolong dengarkan penjelasanku!” sergah Nigel bernada suara tinggi.


Mendengar teriakan Nigel, Milaine pun terhening sambil berusaha menata ulang irama napasnya yang tak beraturan.


“Jelaskanlah sekarang, jangan ada yang ditutupi,” desak Milaine.


Nigel mengambil napas sejenak, jemarinya saling bertautan menahan perasaan sesak di dada.

__ADS_1


“Kakak salah paham. Aku tadi tidak sengaja terjatuh dan membentur sudut meja. Jangan marah lagi, aku baik-baik saja,” tutur Nigel.


“Sungguh?”


Nigel menganggukkan kepalanya seraya tersenyum canggung. “Ya, sungguh. Tidak ada gunanya aku berbohong.”


“Kalau begitu, syukurlah. Katakan padaku kalau kau diganggu oleh seseorang.”


“Baik, Kak!”


Raut muka Milaine melunak, ia tidak lagi marah terhadap Nigel. Namun, sebenarnya di balik hati Milaine ekspresinya bertolak belakang dengan apa yang ia rasakan.


‘Nigel berbohong. Apabila dia tidak mau jujur, maka aku sendiri yang akan mencari tahunya.’


***


Sesuai apa yang dibatinkan Milaine kemarin, hari ini di akademi dia melangkah sendirian menyelidiki apa yang terjadi terhadap Nigel. Diam-diam Milaine membuntuti sang Adik, pada awalnya Milaine tidak menemukan apa-apa. Lalu di pertengahan waktu istirahat, Milaine menyaksikan hal yang mengejutkan.


Ketika di kelas, Nigel dihampiri oleh segerombolan siswa laki-laki. Mereka mengerumuni tempat duduk Nigel. Satu persatu tangan mereka menyentuh dan memukul kepala Nigel. Sudah jelas masalah ini merupakan perundungan. Akan tetapi, tidak ada satu pun yang membela Nigel atau menghentikan tindakan mereka.


“Anak pelayan ini masih berani datang ke akademi setelah dihajar berkali-kali. Betapa tidak tahu malunya kau menginjakkan kaki di tempat di mana keturunan berdarah biru berada.”


Nigel tertunduk takut, jika dia sampai tertekan maka sakit jantungnya akan kambuh kembali. Kevin Royin, putra dari pemimpin Royin Group. Itulah nama dari pemimpin perundungan tersebut.


“Apa kau bisu?! Cepat jawab! Meskipun kau keturunan keluarga Lysander, tetapi kau hanyalah anak penyakitan yang dilahirkan oleh seorang pelayan. Terlebih lagi kau tidak bisa mengayunkan senjata. Alangkah tidak bergunanya hidupmu di dunia ini.”


Kevin terus menerus menekan Nigel, dia sudah sering mendapat perundungan di akademi. Oleh sebab itulah, Nigel tidak jarang memperlihatkan ekspresi tidak nyaman jika berangkat ke akademi.


“Maafkan aku. Jangan pukul aku lagi. Aku mohon …,” lirih Nigel memohon.


“Apa? Untuk apa kau meminta maaf, bajing*n sialan! Seharusnya kau mati saja daripada menyusahkan orang. Aku sangat tidak menyukaimu!”


Kevin memukul kepala Nigel, ia tak memberi Nigel kesempatan untuk bernapas.


BRAK!

__ADS_1


Seisi kelas terperanjat kaget melihat kedatangan Milaine yang menghancurkan daun-daun pintu masuk kelas.


“Astaga, rupanya kalianlah yang telah merundung Adikku. Tidak aku sangka kalian punya keberanian menyentuh keturunan Lysander Group.”


__ADS_2