Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Serangan Deon


__ADS_3

Eron terdiam, ia menatap kosong ke arah sang Ayah yang baru saja menampar pipinya. Rasa sakit dari tamparan itu tidak lagi terasa. Dia sudah terbiasa menghadapi situasi tersebut. Hanya saja, hatinya amat pedih. Disalahkan terhadap apa yang dirasa bukanlah perbuatannya merupakan sesuatu luka yang sukar disembuhkan.


"Sudah berani kau sekarang meninggikan suaramu padaku! Apa kau pikir kalau bukan karena diriku kau bisa hidup enak sampai sekarang?! Dasar pembunuh! Seandainya saja hari itu kau tidak merengek pergi ke luar, maka istriku pasti masih hidup sampai sekarang," murka Romi.


Eron tersenyum pahit. Sulit rasanya dia memberi perlawanan di kediaman ini.


"Iya, aku memang pembunuh. Seharusnya aku saja yang mati saat itu."


Eron memutar badan. Lekas dia beranjak dari hadapan Romi sebelum keadaan semakin memanas.


"Eron! Mau ke mana kau?! Aku belum selesai berbicara! Eron!"


Eron tak menggubris teriakan Romi. Sudah cukup baginya mendapatkan tamparan, kini ia harus pergi menenangkan diri.


"Sudahlah, Ayah. Biarkan saja dia. Ayah tahu sendiri Eron itu sangat keras kepala dan tidak mau mendengar apa yang kita katakan. Lebih baik kita lihat saja sampai mana anak itu bisa bertahan," tutur Jason.


Romi menghela napas panjang sembari mendudukkan diri di atas sofa.


"Benar yang kau katakan. Aku tidak boleh menguras emosiku demi anak tidak berguna itu."


Eron membaringkan badan di atas tempat tidur. Pandangannya menatap ke arah langit-langit kamar.


"Apa aku kabur saja dari sini? Tidak! Kalau aku melakukannya, maka aku tidak bisa membantu Milaine. Aku harus bertahan sedikit lagi, setidaknya sampai Milaine berhasil menjadi pewaris. Aku akan memanfaatkan uang keluarga ini hanya untuk Milaine," gumam Eron.


Eron bangkit dari tempat tidur. Dia mengecek komputer untuk melihat berita akhir-akhir ini. Ada sejumlah kejadian yang tidak terduga mendera beberapa perusahaan kecil.


"Aneh. Kenapa perusahaan ini hancur secara bersamaan? Apakah ada seseorang yang melakukannya?"


Menjadi sebuah tanda tanya besar di kepala Eron. Namun, ia memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya.


***


Nigel baru saja selesai makan malam. Dia bersiap-siap untuk segera tidur. Sesuai anjuran dari sang Kakak, Nigel meminum obatnya secara teratur. Saat ini kondisi tubuhnya mengalami peningkatan.


"Aku rasa, aku semakin membaik akhir-akhir ini. Aku yakin, ini pasti karena Kakak," gumamnya.


"Omong kosong apa yang kau katakan? Milaine tidak melakukan apa pun padamu, anak itu hanya asal-asalan saja," celetuk Fiona.


Nigel membuang napas kasar. Entah sampai kapan Ibunya akan memperlakukan Milaine seperti ini.


"Ibu, semua ini berkat Kakak. Tolong berhentilah menuduh Kakak melakukan hal buruk. Jika bukan karena Kakak, mungkin aku sudah mati sekarang," balas Nigel.


Fiona terkejut mendengar Nigel semakin berani membalas perkataannya.

__ADS_1


"Nigel, kenapa kau tambah berani menjawab—"


"Sudah! Ibu keluar saja sekarang dari kamarku. Aku tidak mau mendengar suara Ibu lagi."


Nigel mendorong paksa Fiona keluar dari kamarnya. Dia tidak tahan lagi mendengar ocehan Fiona tentang Milaine.


"Waktunya untuk tidur."


Nigel mematikan lampu kamar dan langsung berbaring di kasur. Baru lima belas menit ia terlelap, tiba-tiba seseorang menyelinap masuk ke dalam kamar. Nigel membuka mata kembali kala mendengar suara langkah kaki mendekat ke arah ranjang.


'Siapa itu? Siapa yang datang malam-malam begini ke kamarku?'


Di cahaya yang redup, Nigel melihat bayangan wajah Deon mendekatinya. Ya, penyelinap itu adalah Deon! Dia membawa sebilah pisau di genggaman tangannya. Sontak Nigel pun terpaksa bangkit dari tempat tidur.


"Nigel, aku pikir kau sudah tidur. Ternyata kau masih bangun. Apa suara langkah kakiku sangat berisik sampai membangunkanmu?"


Nigel beringsut menjauh dari jangkauan Deon. Dia meraih sebuah belati yang sengaja ditaruh di atas meja.


"Apa yang mau kau lakukan?! Pergi kau dari sini!"


Tangan Nigel gemetar hebat. Dia tidak pernah menggunakan senjata tajam. Wajar saja bila ia gemetar begitu Deon terlihat mengancam nyawanya.


"Apa? Bukankah ini sangat wajar terjadi di keluarga kita? Lagi pula Ayah sedang tidak berada di kediaman ini. Jadi, inilah kesempatanku untuk menyingkirkanmu."


"Kenapa kau sangat ingin menghabisi nyawaku? Padahal kau bisa menghabisi nyawa saudara yang lain," ucap Nigel bernada gemetar.


"Kenapa? Karena kau membuatku muak! Lagi pula mengapa aku harus membiarkan anak penyakitan sepertimu hidup? Kau hanya merusak suasana dan keberadaanmu tidak ada gunanya. Pernahkah kau berpikir bahwa hidup Milaine mungkin saja lebih damai jika kau tidak pernah ada di dunia ini."


Nigel tersentak, apa yang dikatakan Deon sepenuhnya benar baginya. Nigel juga seringkali beranggapan kalau hidup Milaine mungkin saja lebih baik bila tanpa dirinya.


"Tidak, aku ... aku tidak ...."


"Sadarilah, Nigel! Seberapa pantasnya keberadaanmu di dunia ini?! Memangnya apa saja yang telah kau lakukan demi kebahagiaan Kakakmu? Tidak ada kan? Kau hanya menyusahkan saja."


Deon semakin menekan Nigel. Dia terlihat senang menyaksikan Nigel kian tertekan oleh ulahnya sendiri.


"Jadi, sekarang matilah kau, bocah penyakitan! Kehidupanmu setelah kematian akan lebih baik—"


Brak!


Daun-daun pintu masuk tersingkap lebar. Milaine dalam kondisi napas terengah-engah datang menyelamatkan Nigel dari ancaman pembunuhan Deon. Dia datang tepat waktu sebelum Deon melayangkan mata pisaunya kepada Nigel.


"Berhenti di sana! Apabila kau menggores kulit Adikku sedikit saja, maka aku takkan segan-segan menebas kepalamu dengan pedang ini," ancam Milaine serius.

__ADS_1


Deon berdecak sebal. Selalu saja ada hambatan bila ia hendak membunuh Nigel. Terpaksa ia urungkan sejenak niat membunuhnya.


"Oh, Milaine. Bagaimana kau bisa tahu aku bisa berada di sini untuk membunuh Nigel? Aku akui, instingmu memang sangat kuat. Aku mengagumi instingmu itu," ujar Deon.


Beberapa saat yang lalu, sebenarnya Milaine pun tidak tahu perihal masalah ini. Hanya saja, Halia kebetulan melihat Deon masuk ke kamar Nigel. Dia pun melaporkan hal tersebut kepada Milaine. Akibat terlalu mengkhawatirkan keadaan Nigel, Milaine berlari kencang dari paviliunnya menuju kamar Nigel.


"Turunkan senjatamu sekarang juga! Jangan pernah coba-coba mengusik Nigel! Aku tidak akan mengampunimu bila kau membunuh Adikku."


"Adik? Perasaanmu benar-benar tulus. Tidakkah kau berpikir akan lebih baik jika Nigel mati? Anak ini hanya merusak pertarungan antara kita para calon pewaris. Dia juga takkan bisa menjadi pewaris Lysander Group. Dan yang lebih penting, lambat laun Nigel juga pasti mati karena penyakitnya."


Milaine geram mendengar perkataan Deon. Pasalnya, dia mati-matian melindungi Nigel bukan semata-mata ingin menyaksikan kematiannya. Melainkan menginginkan kehidupan lebih baik untuk sang Adik.


"Aku tidak akan pernah membiarkannya. Selagi aku masih bernapas, aku pastikan hidup Nigel berjalan normal sebagaimana mestinya."


Milaine menyentakkan pedang di genggaman tangannya. Pedang yang telah dia asah sedemikian rupa kini hendak ia gunakan untuk melawan Deon.


Deon menyunggingkan sudut bibirnya. Dia menyukai mata Milaine yang bersinar setiap kali terlintas perasaan ingin membunuh.


"Dasar gadis kecil! Kau berani menodongkan pedangmu padaku?!"


"Nigel, keluarlah dari sini! Biar aku yang mengurus Deon," seru Milaine.


"Tetapi, Kak—"


"Cepat, Nigel!" sentak Milaine.


Nigel gemetar kala melihat sorot pandang Milaine berselimut api kemarahan. Nigel buru-buru turun dari tempat tidur lalu bergerak meninggalkan kamar.


Tepat saat Nigel tiba di depan pintu, Deon langsung menerjang ke arah Milaine. Dia mengayunkan tangannya dengan sangat lincah. Akan tetapi, Milaine dapat mengatasi pergerakan senjata Deon.


'Pergerakan gadis ini sangat gesit seolah-olah dia telah dilatih secara sempurna selama beberapa tahun ini,' pikir Deon.


Pertarungan mereka berjalan sengit. Sampai ketika Deon memperlihatkan celah, di sanalah Milaine mengambil kesempatan.


"Aku harap kau bisa mati tersiksa secara perlahan, Deon!"


Jemari Milaine mengeluarkan sebuah jarum. Dia menusuk jarum tersebut ke pinggang Deon. Berselang beberapa detik, Deon tak mampu lagi mempertahankan kesadarannya.


"Sialan! Apa yang telah kau lakukan terhadap tubuhku?"


Milaine tersenyum puas. Dia berhasil melayangkan serangan akhir mematikan.


"Nikmatilah racun yang bersarang di tubuhmu, Deon."

__ADS_1


__ADS_2