Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Kekhawatiran Nigel


__ADS_3

Milaine menghela napas panjang. Dia pun duduk di tepi lapangan latihan. Sedari dulu Nigel selalu berusaha untuk tidak menyusahkan orang lain. Dia merasa tak enak hati sebab Milaine selalu saja melindunginya.


"Nigel, kau jangan berusaha terlalu keras. Kau tahu sendiri Kakakmu ini masih sanggup melindungimu. Aku janji akan merebut posisi sebagai ahli waris utama dan membuatmu nyaman hidup di kediaman ini," tutur Milaine.


"Tetapi, Kak, sebentar lagi aku akan berusia tujuh belas tahun. Itu artinya aku akan bergabung dalam pertarungan resmi menjadi ahli waris. Ancaman pembunuhan yang mengarah padaku akan semakin membahayakan. Aku tidak tahu sampai kapan Kakak bisa melindungiku."


Ekspresi Nigel terlihat buruk. Raut wajahnya mengguratkan rasa sedih membayangkan seberapa besar pengorbanan Milaine selama ini.


"Aku tidak bermaksud meragukan kemampuan Kakak. Hanya saja, aku takut sesuatu terjadi kepada Kakak. Aku juga mau Kakak menikmati kehidupan seperti remaja pada umumnya. Maka dari itu, aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak menyusahkan Kakak."


Milaine merasa terharu dengan pemikiran Nigel perihal dirinya. Padahal dia sendiri tidak pernah memikirkan soal kehidupannya sendiri. Dia bertahan di kediaman ini demi Nigel.


Sesuai janjinya kepada mendiang kedua Kakak laki-lakinya, dia akan melindungi Nigel apa pun yang terjadi. Akan tetapi, Nigel punya pemikiran yang berbeda. Dia memilih untuk tidak menjadi beban bagi Milaine.

__ADS_1


"Dasar Adikku! Kau tidak perlu berpikir sekeras itu tentang hidupku. Aku pribadi bisa menikmati kehidupan seperti ini. Karena apa? Karena aku telah merelakan sepenuhnya hidupku untuk terjebak dalam masa-masa kacau seperti ini."


Milaine mengulas senyum tulus. Dia benar-benar mengutamakan Nigel di atas segalanya.


"Tetap saja aku tidak bisa menerimanya. Aku tidak pernah melihat Kakak bahagia. Kakak selalu tersenyum di depanku. Namun, apa yang terjadi bukan seperti itu. Senyum palsu dan tak mengandung kebahagiaan. Berbeda di saat Kakak berada di antara pria yang membantu Kakak selama ini. Bisakah Kakak tersenyum seperti itu selamanya?"


Milaine tertegun. Dia bingung harus menjawab apa. Senyum yang bagaimana? Dia tidak pernah melihat dirinya di depan cermin sedang tersenyum. Mengapa? Karena tidak ada alasan baginya untuk tersenyum.


"Wah, ternyata adikku sangat memikirkan aku."


Milaine mengusap puncak kepala Nigel.


"Jangan terlalu memikirkan kakakmu ini karena aku bisa menemukan apa yang terbaik untuk diriku. Cukup bersenang-senang dan pikirkan dirimu sendiri. Aku hanya ingin melihatmu hidup sehat serta jauh dari ancaman pembunuhan."

__ADS_1


Kedua mata Nigel berkaca-kaca. Ia tahu seberapa sulit hidup Milaine selama ini. Hanya saja, tak terlihat dari luar beban yang bertengger di pundak Milaine.


"Kak, aku pasti—"


"Milaine, apa kau sengaja menyuruh adikmu untuk latihan?!"


Milaine dan Nigel tak tampak terkejut. Mereka sudah tahu kalau yang berteriak kala itu ialah Fiona. Wanita itu lagi-lagi menuding Milaine dengan fakta yang tidak sesuai kenyataannya.


"Ibu, jangan salah paham!" Nigel langsung memberi perlindungan kepada Milaine.


"Menyingkirlah dari sana, Nigel! Kakakmu ini harus diberi pelajaran supaya dia mengerti apa yang sudah dia lakukan terhadapmu. Jangan membelanya, dia hanya ingin kau celaka!"


Amarah Fiona menggebu-gebu. Milaine telah menduga masalahnya akan menjadi seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2