Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Aleda dari Organisasi Birdella


__ADS_3

Pria itu mencoba untuk meronta dan meloloskan diri dari jeratan Milaine. Namun, pergerakannya terkunci hingga menyebabkan ia tak sanggup bergerak bebas. Kemudian Milaine merampas paksa pistol miliknya dan menekan kepala pria itu sampai terhempas ke tanah.


"Lepaskan aku! Siapa kau?! Jangan ikut campur ke dalam masalahku!" teriak pria itu, marah.


Milaine malah semakin menekan kuat tubuh pria itu. Terdengar suara rintihan sakit dari mulutnya.


"Kalau kau bermasalah, seharusnya jangan libatkan anak kecil sebagai sanderamu. Apakah kau pikir bisa tenang seusai melakukan hal nekat seperti tadi?!"


Milaine pun memberi kode kepada orang-orang di sana untuk membawa jauh anak kecil itu dari hadapan mereka.


"Lalu kenapa? Aku hanya membalas apa yang mereka lakukan terhadap anakku. Mereka melukai anakku sampai masuk rumah sakit hanya karena anakku meminta sepotong roti untuk mengisi perutnya yang lapar."


Pria itu menangis histeris, sekarang Milaine tahu akar dari permasalahannya. Anak kecil yang disandera pria itu adalah putri dari pemilik toko roti di seberang jalan.


Kondisi toko roti tersebut sekarang amat memprihatinkan. Tokonya hancur karena diporak-porandakan oleh pria itu. Akan tetapi, dia melakukannya akibat kemarahan yang menumpuk di dada.


"Lalu di mana anakmu sekarang? Apakah dia sudah sembuh?" tanya Milaine.


"Dia masih di rumah sakit. Aku butuh biaya untuk melunasi tagihan rumah sakit. Jadi, aku memutuskan meminta ganti rugi kepada mereka. Namun, mereka malah menghinaku dan menolak bertanggung jawab," jelasnya.


Milaine menghela napas panjang. Masalah seperti demikian sudah sering terjadi di kalangan orang biasa.


"Baiklah. Aku akan membantu biaya pengobatan anakmu, tetapi kau tetap harus bertanggung jawab terhadap apa yang kau lakukan. Bagaimana pun juga, kau telah membahayakan nyawa banyak orang," ujar Milaine, melepaskan jeratan tangannya.


"Apakah Anda serius ingin membantu saya?"


Milaine mengangguk. Di balik ekspresinya yang dingin terdapat perasaan nan hangat.


"Iya, aku akan membantu biaya pengobatan anakmu sekaligus biaya makannya sehari-hari. Aku tahu kau telah berusaha keras memenuhi kebutuhan anakmu, tetapi karena dunia tidak adil, anakmu pun menjadi korbannya."


Pria itu bersujud di kaki Milaine seraya berterima kasih atas kebaikan hati gadis itu. Kemudian pria itu pun diringkus oleh petugas kepolisian. Meski begitu, si pemilik toko roti tak merasa bersalah terhadap apa yang dia lakukan. Mereka juga mengarahkan semua kesalahan kepada anak pria itu.


'Dasar manusia! Mereka nyaris kehilangan anaknya, tetapi percuma saja. Tidak ada sedikit pun rasa bersalah yang mereka rasakan,' batin Milaine.


Setelahnya, Milaine bergegas pergi menuju rumah sakit tempat anak pria itu dirawat. Di sana kedatangannya disambut oleh seorang wanita tua alias Ibu kandung dari pria tersebut.


Terpasang raut muka khawatir serta syok di wajah sang Ibu kala mendengar anaknya berada di kantor polisi. Milaine lekas menenangkannya dan berjanji bahwa ia akan membebaskan anaknya dari kantor polisi.

__ADS_1


Sesudah itu, Milaine pun beranjak pergi ke meja loket pembayaran untuk membayar biaya rumah sakit.


"Berapa biaya tagihan rumah sakit untuk pasien di kamar 201?" tanya Milaine.


"Ini, Nona rincian pembayarannya."


Milaine langsung menyerahkan sebuah kartu untuk membayar biaya tagihan. Nominalnya tidaklah kecil untuk Milaine yang berasal dari keluarga konglomerat. Akan tetapi, berbeda dengan keluarga pasien yang hidup di ekonomi menengah ke bawah.


"Tolong berikan saya waktu tiga hari lagi. Saya mohon, jangan keluarkan Ayah saya dari rumah sakit ini."


Perhatian Milaine lalu tertuju pada seorang perempuan yang menangis memohon keringanan di meja kasir. Perempuan itu ialah pelayan yang kemarin ia tolong saat dirundung oleh Athia.


"Tidak bisa. Biaya rumah sakit Ayah Anda sudah menunggak banyak. Apabila terus seperti ini, pihak rumah sakit tak dapat menolong Anda lagi."


"Iya, saya tahu. Saya baru saja dipecat dari pekerjaan saya. Mohon pengertiannya, tolong jangan usir Ayah saya dari rumah sakit. Jika tidak dirawat di sini, saya khawatir kondisi Ayah saya semakin memburuk."


"Mohon maaf, saya sudah diberi teguran oleh atasan saya. Tolong jangan mempersulit saya lagi."


Lalu tiba-tiba saja Milaine menyodorkan kartu debit miliknya.


Gadis pelayan itu tercengang saat Milaine ada di sana menawarkan bantuan tak terduga.


"Nona, apa yang Anda lakukan? Anda tidak perlu membantu saya membayarkan biaya rumah sakit Ayah saya," kata Aleda — gadis pelayan itu, mencoba menolak bantuan dari Milaine.


"Kondisi Ayahmu lebih penting. Tidak usah menolaknya karena jumlah tunggakan rumah sakit Ayahmu bukanlah apa-apa bagiku."


Aleda terdiam, ia tak punya pilihan lain selain menerima bantuan dari Milaine. Dengan begini, seluruh tunggakan perawatan Ayahnya telah dibayar lunas.


Selepas itu, Milaine pun ke luar dari rumah sakit. Urusannya di sini sudah selesai dan tak ada yang perlu dia lakukan.


"Nona, tunggu sebentar!" teriak Aleda menghampiri Milaine.


"Ada apa?"


"Saya akan membayar uang Anda kembali. Saya menganggap itu sebagai utang."


Milaine tersenyum miring. "Terserah kau saja. Aku tidak memaksamu untuk membayarnya karena aku membantumu secara sukarela."

__ADS_1


Aleda lagi-lagi tertegun, baru kali ini dia bertemu anak konglomerat yang punya sifat seperti Milaine. Dahulu dia sering berurusan dengan konglomerat yang angkuh serta tak peduli terhadap penderitaan orang lain.


"Apa pun yang Anda katakan, saya pasti akan membayarnya lagi. Lalu bisakah saya bertanya satu hal?" tanya Aleda.


"Apa yang hendak kau tanyakan?"


"Dari mana Anda bisa tahu soal diri saya? Padahal saya menyembunyikan kemampuan saya sebaik mungkin supaya orang lain tidak mengetahuinya."


Milaine melipat kedua tangan di dada. Punggungnya bersandar di mobil biru kepunyaannya.


"Ada beberapa bekas luka di kulitmu. Bekas luka itu jelas sekali tanda bahwa kau pernah bekerja sebagai pembunuh bayaran. Apakah aku salah menebak?" jelas Milaine.


Aleda menggeleng cepat, itu memang benar. Profesinya di masa lalu ialah sebagai pembunuh bayaran.


"Anda tidak salah. Saya dulunya memang seorang pembunuh bayaran," tutur Aleda mengaku.


"Dari organisasi mana kau berasal? Tidak mungkin kau bekerja sebagai pembunuh bayaran tanpa naungan dari organisasi," selidik Milaine.


Raut muka Aleda berubah sendu, tampaknya ia menyimpan kesedihan perihal masa lalunya sebagai pembunuh bayaran.


"Saya berasal dari organisasi Birdella. Itu adalah organisasi yang telah lama hilang."


Mendengar nama organisasi tersebut, sudut mata Milaine melebar. Tak disangka ia mendengar organisasi itu di sini.


"Birdella? Mungkinkah nama pemimpinmu Beatrice?"


Aleda sontak terperangah. Bahkan, nama pemimpinnya amat dirahasiakan. Tidak ada orang luar yang tahu nama tersebut.


"Bagaimana Anda mengetahuinya? Beliau adalah pemimpin kami. Namun, saya tidak tahu di mana keberadaan beliau saat ini."


Milaine membuang napas kasar, sejenak ia merasa tegang.


"Siapa namamu?" tanya Milaine.


"Nama saya Aleda," jawab Aleda.


"Baiklah, Aleda. Apakah kau bersedia bekerja di bawahku? Bukan pekerjaan biasa melainkan bekerja menjadi salah satu tangan kananku dalam pertarungan perebutan ahli waris."

__ADS_1


__ADS_2