
Kehadiran Milaine di kelas Nigel mengubah suasana. Cara penghuni kelas melihat Milaine sedikit berbeda. Sebagian di antara mereka menghindari kontak mata dengan Milaine, sebagiannya lagi berbicara buruk tentangnya.
“Lihat siapa yang datang. Apa kau mengadu ke Kakakmu karena aku mengganggumu? Dasar pengecut!” hardik Kevin.
Nigel tidak berani bersitatap dengan Milaine, ia hanya menunduk dan menolak untuk bersuara. Mendengar Kevin menghina Nigel, gadis itu segera melangkah mendekati Kevin. Apabila dia tidak menahan diri, maka bisa saja ia membuat ruangan ini hancur dalam sekejap. Namun, mengingat Nigel masih ada di sini, Milaine pun mengurungkan niat buruknya.
“Jangan sesekali kau menghina apalagi menyentuh Adikku. Aku takkan mengampunimu kalau kau menyakitinya,” gertak Milaine.
“Hah? Apa yang kau katakan? Kalian berdua sama-sama calon pewaris yang tidak punya posisi kuat. Secara tidak langsung, kalian hanya menumpang di kediaman Lysander.”
Milaine melipat kedua tangan di dada, ekspresinya semakin menajam menghadap Kevin. Tak terpungkiri, melihat wajah cantik Milaine sedekat ini merupakan sesuatu yang patut dipuji. Pesonanya tidak main-main sampai membuat hampir seluruh pria di kelas itu terbuai oleh parasnya.
“Terserah apa yang kau katakan. Posisiku masih lebih tinggi darimu. Bagaimana pun kau menghinaku dan Nigel, kami berdua tetap menyandang nama Lysander serta membawa darah murni dari keturunan konglomerat paling tersohor di Helsper.”
“Kalian benar-benar membuatku tertawa.” Kevin nampak tersulut emosi akibat perkataan Milaine. “Lagi pula kalian akan terbunuh di tangan calon pewaris Lysander yang lain.”
Lalu Kevin memperdekat jaraknya berdiri dengan Milaine. Bola matanya bergerak memandangi tubuh Milaine dari atas sampai bawah.
“Setelah aku lihat sekali lagi, rupanya kau punya wajah yang sangat cantik dan tubuh yang seksi. Bagaimana kalau kau menjadi salah satu istriku saja nanti daripada kau mati sia-sia terbunuh,” lanjut Kevin berucap melecehkan Milaine.
Tangan nakal Kevin tiba-tiba menyentuh bokong Milaine. Gadis itu terkejut bukan main. Nigel yang menonton perlakuan tak senonoh Kevin terhadap Milaine secara tidak sadar meninju wajah Kevin sampai tersungkur ke lantai.
“Jangan sentuh Kakakku dengan tangan kotormu itu!” Api kemarahan berkobar membakar Nigel. Deruan napas Nigel tak beraturan, ia paling tidak suka jika Kakaknya disentuh pria yang menjijikkan layaknya Kevin.
“Bajing*n! Apa kau baru saja memukulku?!”
Kevin bergegas bangkit hendak membalas pukulan Nigel, tetapi tangannya langsung ditahan oleh Milaine.
“Sudah aku katakan padamu, jangan sentuh Adikku!”
__ADS_1
Milaine memelintir tangan Kevin, pemuda itu terlihat amat kesakitan akibat pelintiran Milaine yang sangat kuat.
“Akhhh! Lepaskan, sialan! Kau akan terkena masalah jika kau melukaiku.”
Senyum seringai terbit di bibir Milaine, ia sudah tidak peduli perihal apa pun jenis peraturan di akademi ini.
“Aku tidak peduli!”
Milaine memukul perut Kevin, ia tidak segan-segan menendang pria itu berulang kali.
“Aku tidak menyangka kalau Nigel selalu menjadi korban penindasan di akademi. Memangnya apa salah Adikku?! Kau bahkan melukai wajahnya dan menginjak-injak mentalnya. Aku takkan pernah memaafkanmu!”
Milaine mengamuk bukan main. Seisi ruangan menatap takut ke arah gadis mengerikan itu.
“Kalian juga hanya diam menyaksikan Nigel dirisak oleh si brengs*k ini! Apa kalian tidak punya sedikit saja hati nurani?!”
Tangan Milaine meraih sebuah kursi kosong, ia menyeret kursi itu lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
“Apa yang kau katakan? Memangnya aku peduli dengan itu semua?”
Milaine dengan brutal membantingkan kursi itu kaki Kevin. Tidak hanya sekali saja, ia melakukannya berulang kali. Walau Kevin mencoba menghindar dan meminta Milaine segera menghentikan aksinya, tetapi itu percuma saja.
“Mati kau! Mati! Orang yang mengganggu Adikku pantas mati di tanganku!”
Pada akhirnya, Kevin kehilangan kesadarannya. Seluruh mata memandang ngeri dan menjauh dari lokasi kejadian. Sedikit demi sedikit darah bercucuran dari celah luka di kaki Kevin. Menyaksikan itu, Nigel segera bergerak menahan sang Kakak.
“Sudah kak, hentikan! Dia hampir mati! Jangan lakukan lagi. Aku tidak mau Kakak terlibat masalah karenaku,” cegat Nigel mendekap Milaine dari belakang.
Merasakan sentuhan serta suara Adiknya, kewarasan Milaine perlahan kembali. Tangannya berhenti beraksi, binar emosi di pupil matanya beranjak pudar.
__ADS_1
“Menyusahkan saja.” Milaine menyibak rambutnya seraya mengatur irama napas.
Milaine merekahkan senyum polos tak berdosa kepada Nigel. Baginya, selagi Nigel tidak terluka itu sudah lebih dari cukup.
“Nigel, lain kali jika ada seseorang yang mengganggumu lagi, kau harus bunuh mereka. Tidak masalah, Kakak akan menjadi tangan kananmu. Jadi, kau tidak perlu mengotori tanganmu dengan darah menjijikkan mereka. Kau paham itu?”
Sisi yang paling menyeramkan dari Milaine ialah sisinya yang terlihat tidak berdosa setiap kali membunuh orang lain serta sisi di mana dia terlihat kehilangan kehangatan hatinya terhadap orang selain Nigel. Tekad untuk melindungi Nigel menjadikannya sebagai pembunuh berdarah dingin dan menjadikan kepribadiannya lebih kejam.
“I-Iya, Kak. Aku paham.”
Milaine pun membawa Nigel keluar dari kelas. Satu persatu teman Kevin membantu untuk membawa Kevin ke rumah sakit. Seiring jalan, Milaine terus tersenyum puas tanpa henti. Ada perasaan menyenangkan kala ia berhasil mencelakai manusia kurang ajar seperti Kevin.
‘Aku khawatir masalah ini akan terdengar sampai ke telinga Ayah. Aku yakin pihak Royin Group juga takkan tinggal diam,’ batin Nigel.
Kekhawatiran Nigel menjadi nyata. Tepat di hari berikutnya, Milaine dipanggil menghadap Kepala Akademi – Winson. Di sana sudah menunggu kedua orang tua Kevin yang terlihat menyimpan dendam terhadap Milaine.
“Oh, jadi kau yang telah membuat putraku terluka sampai Dokter kesulitan menanganinya,” ujar Ibu Kevin menatap sinis.
Milaine menghela napas sembari menjawab, “Putramu yang salah karena merisak Adikku.”
“Nona Milaine, aku tahu kau keturunan Lysander Group, tetapi tidakkah menurutmu ini sedikit kejam? Ini hanyalah masalah antara anak remaja. Lagi pula Kevin niatnya hanya bercanda saja dengan Adikmu.” Ayah Kevin ikut menimpali pembelaan sang istri.
Raut muka Milaine berubah secara halus mendengar pembelaan yang tidak masuk akal.
“Bercanda? Kau serius menganggap ini sebagai sebuah candaan? Adikku dipukul hingga terluka dan harga dirinya diinjak-injak oleh anakmu. Kau masih mengatakan dia bercanda? Sangat konyol!”
Kedua orang tua Kevin terpaku mendengar suara Milaine kian meninggi akibat amarah yang nyaris meledak.
“Hentikan pembelaanmu itu, Milaine Lysander. Apakah kau tidak membaca peraturan akademi? Di sini dilarang adanya pertumpahan darah. Apa sekarang kau mencoba melanggar peraturan?”
__ADS_1
Winson akhirnya bersuara. Sebagai Kepala Akademi, ia tampak berpihak sepenuhnya kepada keluarga Kevin. Rasanya ingin tertawa mendengar Winson seperti ingin memojokkannya.
“Apa kau mencoba berpihak kepada para sampah ini?”