
"Lama tidak berjumpa, Nona."
Dahlia menunjukkan rasa hormat kepada Milaine. Wanita berusia tiga puluhan tahun itu telah mengenal Milaine semenjak lima tahun silam.
"Halo, Dahlia. Terima kasih karena telah menyempatkan untuk datang."
Milaine dan Luke duduk bersama di salah satu meja. Dahlia telah menyewa bar tersebut sehingga saat itu hanya ada mereka bertiga di sana.
"Ada apa, Nona? Melihat dari ekspresi Anda, sepertinya Anda mengalami sedikit kesulitan di kediaman Lysander. Bisakah Anda beri tahu saya sekarang maksud pertemuan kita ini?"
"Kau memang sangat peka. Beberapa jam lalu ada orang yang menyerang Ayahku. Lalu orang itu menyalakan bom berdaya hancur pendek. Jadi, tidak banyak kerusakan di mansion akibat bom tersebut. Sejujurnya, baru pertama kali aku mendengar ada bom dengan daya ledak kecil. Namun, aku pikir kau tahu sesuatu soal ini," tutur Milaine serius.
Dahlia membisu sepersekian detik sampai akhirnya ia kembali bersuara.
"Saya memang tahu jenis bom yang Anda maksud. Bom itu adalah salah satu senjata ilegal yang diperjualbelikan oleh Mahvan Gang."
Sudut mata Milaine melebar. Lagi-lagi ini berkaitan dengan organisasi Mahvan Gang.
"Mahvan Gang? Mereka kenapa selalu mencoba untuk mengacau di Lysander Group?" gerutu Milaine menahan amarah.
"Kemungkinan mereka dibayar oleh seseorang untuk membunuh CEO Lysander. Bukankah Anda pernah mengatakan sebelumnya kalau mereka pernah mengirimkan seseorang untuk meracuni Ayah Anda?"
Milaine membuang napas berat sembari memijit pelipisnya yang tidak sakit.
"Iya, aku juga menebaknya bahwa mereka dibayar seseorang. Sekarang situasinya semakin rumit, aku tidak bisa bergerak sendirian lagi. Jadi, Dahlia, aku ingin meminta tolong padamu," ujar Milaine.
"Apa yang bisa saya lakukan untuk Anda, Nona?"
"Tolong kirim pasukan pengintai untuk mengawasi Ayahku. Lalu jangan lupa awasi perusahaan besar lainnya. Tolong laporkan segala jenis kejanggalan sedetail mungkin. Aku juga ingin memintamu mengirimkan beberapa orang yang bisa bekerja sebagai pengawal di mansion."
Dahlia menopang dagu sambil tersenyum menatap Milaine.
"Apakah hanya itu saja? Saya bisa menyediakan itu semua untuk Anda. Lagi pula orang-orang yang berada di bawah perintah saya saat ini adalah sisa-sisa dari organisasi Birdella," ucap Dahlia.
"Ah, berbicara soal Birdella, aku sekarang punya bawahan yang dahulunya bekerja di organisasi Birdella. Namanya Aleda, apakah kau mengenalnya?"
Mendengar nama Aleda membuat Dahlia terdiam sesaat. Tentu saja ia mengenal baik pemilik nama tersebut.
"Bagaimana Anda bisa menemukan Aleda? Gadis itu berada satu level di bawah saya. Kemampuan membunuhnya benar-benar bagus. Hanya saja dia menghilang seusai Nyonya Beatrice mengumumkan pembubaran organisasi Birdella."
Sungguh mengejutkan! Milaine tidak percaya ia mendapatkan seorang pembunuh berbakat. Luke pun tercengang ketika Dahlia menjelaskan padanya soal kemampuan Aleda. Gadis yang terlihat lemah dari luar, tetapi sebenarnya ia tangguh dalam bertarung.
"Astaga, aku mendapatkan sesuatu yang sangat bagus. Dia kemarin itu bekerja sebagai pelayan hotel. Hanya saja ada beberapa masalah yang terjadi. Makanya sekarang dia bekerja di bawah perintahku," ujar Milaine.
__ADS_1
"Jika ada Aleda, setidaknya Anda bisa lebih tenang. Serahkan saja kepada dia urusan bunuh membunuh. Anda tidak perlu menahan diri memberinya perintah," ucap Dahlia.
"Baiklah, jangan khawatirkan soal itu. Aku ingin memberimu bayaran. Anggap saja ini sebagai bayaran untuk bawahanmu. Tidak mungkin seseorang bekerja tanpa bayaran."
Milaine menyerahkan satu koper uang kepada Dahlia. Wanita si pecinta uang itu akan bekerja lebih cepat bila ia diberi uang yang cukup. Matanya langsung berbinar kala melihat koper yang dipenuhi oleh uang.
"Kalau begini, saya bisa bekerja lebih ekstra. Terima kasih, Nona. Mohon kerja samanya mulai sekarang."
Dahlia mengulurkan tangannya, Milaine pun menerima uluran tangan wanita itu. Mereka saling berjabat tangan, mengharapkan kerja sama yang baik di antara keduanya.
"Aku tunggu kabar baik darimu. Apabila ada kesulitan masalah uang atau aku puas dengan hasil kerjamu, aku bisa memberimu lebih dari ini," tutur Milaine.
"Ya, saya pasti akan membuat Anda puas dengan hasil kerja saya."
Selepas pertemuannya dengan Dahlia, Milaine segera pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi Conrad. Sekeliling rumah sakit telah dipenuhi oleh pengawal Lysander Group. Tampaknya rumah sakit juga kewalahan akibat masalah ini. Ditambah lagi pihak media massa berbondong-bondong ingin tahu mengenai kondisi Conrad saat ini.
"Bagaimana kondisi Ayah? Apakah ada luka serius?" tanya Milaine kepada Gizdo.
"Tenang saja, Nona. Saya telah mengatasi pendarahan di kepala Tuan. Sekarang keadaan Tuan jauh lebih stabil dari sebelumnya."
Perasaan panik serta kecemasan Milaine seketika meredam. Dia sangat mengkhawatirkan Conrad, untungnya Gizdo dapat menanganinya.
"Syukurlah. Aku sangat takut sesuatu yang buruk menimpa Ayah."
'Nona terlihat dingin dari luar, tetapi beliau tulus mencemaskan kondisi Tuan. Jika dibandingkan dengan anak yang lain, Nona Milaine adalah anak yang paling tulus terhadap Tuan. Beliau tidak pernah mengharapkan balasan apa pun,' batin Gizdo memandang kagum Milaine.
Sesudah melihat keadaan Conrad, Milaine melepaskan sejenak rasa lelah yang mendominasi di badan.
"Rasanya kacau sekali."
Milaine mendudukkan diri di atas sebuah bangku di taman rumah sakit.
"Bolehkah aku duduk di sini?"
Lamunan Milaine buyar sesaat suara sesosok pria datang menyadarkannya. Milaine mendongakkan kepala, ternyata pria itu adalah Eron Vins.
"Oh, silakan."
Milaine sedikit bergeser ke samping. Eron pun duduk di sisi kiri Milaine. Terpaan angin kala itu, menyibakkan kecantikan gadis itu. Eron sampai terpana dan lupa diri sejenak menatap Milaine.
"Melihat dari reaksimu, apa kau tidak ingat siapa aku?"
Milaine menoleh ke arah Eron. Pria yang dikenal tak pernah tersenyum itu secara mengejutkan memperlihatkan sekilas senyum lembut kepada Milaine.
__ADS_1
"Maafkan aku, tetapi apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" bingung Milaine.
"Pernah, delapan tahun lalu di rumah sakit ini."
Eron memperlihatkan sehelai sapu tangan berwarna pink bermotif bebek dan di pinggir sapu tangannya terukir nama Milaine. Sekelebat bayangan pun menghujam masuk ke kepala Milaine.
Kala itu Milaine berusia sembilan tahun, ia bertemu anak kecil laki-laki tengah menangis sendirian di depan pintu kamar rawat. Milaine yang penuh luka di tubuhnya menghampiri anak laki-laki tersebut.
"Ini, pakailah. Hapus air matamu." Milaine kecil memberikan sapu tangan kesayangannya ke anak kecil yang bernama Eron.
"Kau siapa?"
"Aku Milaine." Milaine ikut duduk di samping Eron. "Aku tidak tahu kenapa kau bersedih, tetapi aku tahu kau baru saja mengalami hal paling menyakitkan di hidupmu."
Eron terpaku, ia tidak mengenal gadis itu. Namun, dia merasakan kehangatan dari kata-katanya.
"Iya, Ibuku baru saja meninggal karena kecelakaan. Ayah dan Kakak menyalahkan aku atas kematian Ibu. Aku rasa ini memang salahmu."
Milaine tiba-tiba menggenggam tangan Eron.
"Tidak, ini bukan salahmu. Salah takdir terlalu kejam kepadamu. Aku juga sama sepertimu, kurang lebih begitu. Namun, aku masih ingin terus hidup demi membuktikan bahwa kematian apa pun yang terjadi, itu bukanlah salahku."
"Kau juga sama sepertiku?"
Milaine tersenyum polos menyimpan segala luka di balik keceriaannya.
"Iya, jadi kau jangan berlarut dalam kesedihan. Mari kita berjuang lebih lama lagi. Lupakan sejenak rasa sedih itu karena aku yakin di depan sana masih ada kejutan menarik menunggu kedatanganmu."
Milaine pun mengingat sepenuhnya soal pertemuan pertamanya dengan Eron. Anak kecil yang sempat dia beri semangat kala di rumah sakit itu kini berwujud pria dewasa.
"Jadi, itu kau? Aku tidak sempat menanyakan namamu. Bisakah kau memberi tahu namamu padaku?" tanya Milaine.
"Aku Eron Vins. Aku telah menunggumu cukup lama."
Eron meraih tangan Milaine lalu mengecup punggung tangannya.
"Aku benar-benar bersyukur kau bisa kembali dari rumah sakit jiwa. Aku telah mencarimu ke mana-mana sebelumnya. Sekarang aku akhirnya bisa berbicara langsung denganmu," tutur Eron.
"Kau mencariku?"
Eron mengangguk pelan. "Kau hanya memberi tahu nama pendekmu. Aku tidak tahu kau dari keluarga mana. Sampai ketika berita tentangmu muncul di media. Saat itulah aku tahu bahwa kau adalah perempuan yang aku cari."
Eron menatap lekat Milaine. Terpancar dari pandangan netranya, terdapat perasaan mendalam terhadap Milaine.
__ADS_1
"Aku sungguh berterima kasih, jika bukan karenamu hari itu, mungkin aku akan mengakhiri hidupku. Kau mengubah segalanya dan memberiku sepercik harapan. Setidaknya aku masih bisa bertahan hingga detik ini berkat dirimu."