Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Nigel Kecelakaan


__ADS_3

Mayra mengacak-acak kamarnya. Dia frustrasi memikirkan masalah sang putra. Dia kebingungan harus melakukan apa lagi demi membalaskan rasa sakit hati terhadap perlakuan Milaine.


"Apakah tidak ada cara membunuhnya? Sial! Aku tidak punya sesuatu yang dapat aku andalkan," gumam Mayra menghempaskan seluruh dokumen penyelidikan di atas meja.


Mayra menggigiti ujung jemari sambil berpikir keras. Berharap ada seseorang yang dapat memberinya petunjuk mengenai permasalahan tersebut.


"Oh iya, aku harus menghubungi beliau."


Mayra meraih ponsel, dia pun menekan nomor telepon misterius yang tesimpan di ponselnya.


"Ada apa kau menghubungiku?" Terdengar suara seorang pria dari balik telepon.


"Mohon maaf saya menghubungi Anda malam-malam begini. Saya ingin meminta tolong terkait kondisi putra saya."


"Putramu? Ada apa dengannya?"


Mayra mengambil napas dan merilekskan badan sejenak.


"Putra saya menderita kelumpuhan total akibat racun yang menyerang tubuhnya. Apakah ada cara untuk menyembuhkannya?"


"Racun? Tampaknya aku tahu jenis racun itu. Baiklah, aku akan membantumu, tetapi apa bayaran yang dapat kau persembahkan padaku?"


Raut cemas di wajah Mayra padam seketika.


"Benarkah Anda dapat membantu saya menyembuhkan Deon? Saya akan memberi Anda apa pun itu. Silakan katakan kepada saya imbalan apa yang Anda inginkan?"


Pria itu tertawa mendengar penuturan Mayra. Dia mendapatkan sebuah penawaran yang cukup menggiurkan.


"Kalau begitu, kau harus mencuri formula produk Lysander Group. Selama ini kau cukup membantuku menyelidiki pergerakan Conrad. Sekarang aku ingin kau mengambil formula produk perusahaannya. Hanya itu bayaran yang setimpal untuk pertukaran kita kali ini."


Mayra mematung mendengar permintaan yang cukup tidak masuk akal itu. Formula produk perusahaan adalah sesuatu yang bersifat rahasia sehingga ini bukanlah hal yang mudah dia berikan. Namun, dia tak punya pilihan lain selain menyanggupi permintaannya.


"Baiklah, saya akan melakukannya. Lalu tolong beri tahu saya cara agar saya dapat membunuh Milaine," ucap Mayra.


"Membunuh Milaine? Ini cukup sulit. Bukankah aku pernah mengatakan padamu dulunya? Jangan pernah membunuh Milaine tanpa seizin dariku."


Mayra tersentak, ia baru saja melakukan kesalahan fatal. Pria itu sangat mengintimidasinya setiap saat memberi perintah. Mayra melupakan betapa menakutkannya pria misterius yang dia layani selama ini.


"Maafkan saya. Untuk saat ini saya hanya perlu untuk menyembuhkan putra saya saja. Tolong bantu memulihkan kondisi tubuh putra saya, Tuan," tutur Mayra.


"Ya, sekarang kau bawa putramu keluar dari sana. Aku akan mengutus seseorang untuk menjemputmu dan mengobati putramu."


Panggilan telepon langsung terputus seusai pria itu menyuruh Mayra membawa Deon ke luar. Segera saja Mayra memerintahkan beberapa orang untuk menggotong Deon ke depan gerbang utama.


Tidak lama menunggu, sebuah mobil berwarna hitam datang menjemput mereka. Lekas Mayra pergi membawa Deon dari kediaman ini.


Sekitar tiga jam kemudian, Milaine dan Aleda bergerak menuju paviliun kediaman Deon. Mereka tidak menemukan siapa pun di sana. Hanya ada kekosongan dan tak ada tanda-tanda keberadaan para pengawal.


"Kenapa di sini sangat sepi sekali?" tanya Mialine keheranan.


"Saya tidak tahu, Nona. Kita harus memeriksa ke kamar Tuan Muda Deon."


Milaine menyuruh Aleda untuk mengecek masuk ke dalam. Akan tetapi, Aleda tidak menemukan siapa pun di kamar Deon.


"Nona, tampaknya Nyonya Mayra membawa putranya kabur dari sini. Apa yang harus kita lakukan sekarang?"


Milaine terlihat sudah menyangka hal seperti ini akan terjadi. Dia pun segera membelokkan langkah menuju kamar yang ditempati Mayra.


"Bantu aku memeriksa kamar ini. Jangan abaikan satu pun hal yang terlihat mencurigakan," titah Milaine langsung diiyakan oleh Aleda.


Beberapa saat kemudian, Milaine mendapati sejumlah dokumen yang menumpuk dan berserakan di atas lantai. Milaine memungut satu persatu dokumen tersebut. Rupanya itu adalah kumpulan hasil penyelidikan Mayra di kediaman ini.


"Astaga, siapa sangka kalau wanita ini menyelidiki seluruh penghuni mansion serinci ini. Namun, sayangnya dia takkan bisa menemukan apa-apa soal diriku."


Milaine membaca hasil penyelidikan yang lain. Di sana ia menemukan penyelidikan soal sang Ayah. Laporannya terasa sangat janggal.


"Apakah dia menyelidiki ini semua untuk ia laporkan kepada seseorang? Aku rasa dia memang bekerja di bawah perintah orang yang tidak aku kenal," gumam Milaine.

__ADS_1


Kecurigaan Milaine bertambah saat membaca penyelidikan tentang Conrad yang amat mendetail dibanding penyelidikan yang lain.


"Wanita ini, mungkinkah dia bermaksud mengkhianati Ayah? Tidak bisa aku biarkan. Aku harus segera menghabisi nyawanya sebelum dia bertindak lebih jauh lagi," gerutu Milaine.


Demi mengurangi kecurigaan dari Mayra karena dia menggeledah kamar wanita itu tanpa permisi, Milaine dan Aleda pun memotret satu persatu hasil penyelidikan Mayra. Mereka tidak melewatkan satu pun isi dari kertas putih tersebut.


"Ayo kita pergi sekarang. Sementara waktu, mari kita awasi pergerakan Mayra," kata Milaine.


"Baik, Nona."


Kedua gadis itu bergerak meninggalkan kamar Mayra. Prasangka-prasangka buruk menghantui kepala Milaine. Dia tidak tahu ke mana Deon dibawa oleh Mayra. Namun, ia punya firasat buruk mengenai hal tersebut.


Ketika Milaine melintasi koridor mansion, langkahnya dicegat oleh saudara kembarnya yakni Sherwin dan Steiner. Mereka sedari tadi berkeliling mencari Milaine, ternyata gadis itu sedang berkeliaran di luar kediamannya.


"Apa yang kalian lakukan? Sebaiknya, kalian menyingkir dari jalanku sekarang juga," tekan Milaine sangat jengkel.


"Apa yang kau katakan, Milaine? Justru kami ini sedang menantimu karena ingin berbicara denganmu." Sherwin mendekati Milaine.


Steiner ikut maju dan berdiri di samping Sherwin.


"Kami dengar akhir-akhir ini kau dekat dengan Ayah. Apa kau sedang mencoba berbuat curang? Ingatlah! Selagi kami masih hidup, maka kau takkan bisa mengambil posisi sebagai pewaris Lysander Group."


Milaine mengernyitkan kening. Dia berpikir bahwa kedua orang ini sangatlah bodoh.


"Berbuat curang? Untuk apa? Bahkan, tanpa harus dekat dengan Ayah, aku masih bisa menjadi pewaris dengan mengandalkan kemampuanku sendiri."


Milaine melawan mereka secara santai. Dia sudah sangat emosi karena ulah Mayra, maka dari itu ia berusaha meredamkan amarah tatkala melawan si kembar.


"Dasar angkuh! Sampai kapan pun, kau takkan pernah bisa merampas posisi kami. Lagi pula kau ini anak pelayan. Mana mungkin anak berketurunan kotor layaknya dirimu diperbolehkan menjadi pemimpin Lysander Group," hardik Sherwin.


"Seharusnya kau sedikit sadar diri, Milaine. Angan-anganmu terlampau melebihi batas," tambah Steiner.


Milaine memutar bola mata malas. Dia paling tidak suka mendengar orang-orang mencoba menjatuhkan tekad di hatinya.


"Terserah kalian saja. Aku tidak peduli kalian ingin berbicara apa soal diriku."


"Mau ke mana kau, Milaine?! Kita belum selesai berbicara!" teriak mereka serentak.


"Kapan-kapan saja kita berbicara. Lagi pula kalian orang yang tidak penting bagiku," pungkas Milaine membuat kedua anak itu dilanda emosi menggebu-gebu di diri.


***


Nigel baru saja kembali dari akademi. Sekarang dia tengah berada di dalam perjalanan menuju kediaman Lysander. Hanya saja, hari ini dia pulang sendirian karena Fiona tak bisa menjemputnya dan Milaine sedang punya kesibukan lain.


"Tuan Muda, apakah ada tempat yang ingin Anda kunjungi sebelum kembali ke mansion?" tanya sang sopir kepercayaan Fiona.


Nigel mencoba berpikir sebentar. Di depan sana dia melihat ada banyak orang berkerumun di sebuah toko roti.


"Tolong berhenti di depan sana. Aku mau membeli macaron untuk Kakak," kata Nigel.


"Baik, Tuan Muda."


Nigel lekas turun dari mobil. Tidak membutuhkan waktu lama baginya untuk membeli macaron kesukaan Milaine.


"Kakak pasti senang aku membeli untuknya."


Senyum Nigel merekah ceria. Dia membayangkan kegembiraan Milaine bila menerima hadiah darinya.


"Aku sudah selesai. Ayo jalan sekarang."


Sang sopir mulai melajukan mobil. Dia sengaja berkendara dengan sangat pelan demi menjaga keselamatan Nigel.


Tatkala melintasi jalan pintas nan sepi, keanehan pun terjadi. Tanpa tersadar, dari belakang mobil mereka, terdapat sebuah mobil hitam mengikuti ke mana arah mobil Nigel mengarah.


"Tuan Muda, sepertinya ada orang yang mengikuti kita."


Nigel sontak memutar badan. Ternyata benar kalau mobil itu mengikuti mereka. Rasa cemas serta takut mulai membayangi Nigel.

__ADS_1


"Percepat saja laju mobilnya. Jangan sampai kita dihadang mereka," perintah Nigel.


"Tetapi, Tuan Muda—"


"Sudah, lakukan saja seperti apa yang aku katakan!" Nigel mendesak sang sopir untuk menambah kecepatan mobil.


"Baiklah.Tolong kencangkan sabuk pengaman Anda. Saya akan mempercepat laju mobil ini."


Nigel mempersiapkan hati menerima kemungkinan terburuk. Dia mencoba tetap tenang di sela rasa cemas membara di dada.


Nigel terombang-ambing di tengah laju mobil yang sangat cepat. Sampailah saat di mana mobil di belakang mulai menyalip mobil yang dikendarai Nigel. Mobil itu memojokkan mobil Nigel hingga hilanglah keseimbangan sang sopir.


"Siapa mereka sebenarnya? Siapa yang mengirim mereka untuk menyerangku?!"


Beberapa detik berselang, mobil yang dinaiki Nigel menghantam pohon besar. Nigel tak sempat kabur dari situasi yang menimpanya. Hanya terdengar suara jeritan Nigel dan darah yang mengalir dari luka di kepalanya yang terbentur.


"Kakak, tolong aku ...."


Nigel kehilangan kesadaran sepenuhnya. Dia sempat memikirkan Milaine dan menggumamkan bahwa dia butuh pertolongan Milaine. Akan tetapi, sayangnya dia maupun sang sopir tidak bisa menghubungi Milaine dalam keadaan genting tersebut.


"Misi kita telah selesai. Ayo tinggalkan saja mereka," ujar salah seorang pria yang berada di dalam mobil.


Milaine pada saat itu sedang melakukan pemusnahan terhadap beberapa orang yang menguntitnya akhir-akhir ini. Dia ditemani oleh Luke, Eron, dan Lloyd. Bukan maksudnya untuk membawa mereka bersamanya. Hanya saja, mereka merengek meminta ikut dengan Milaine.


"Milaine, kami telah selesai di sini," seru Lloyd.


"Kerja bagus! Ayo kita pergi istirahat sekarang. Aku merasa sangat lelah karena belum tidur semalaman."


Sebelum itu, Milaine merawat luka-luka yang diterima olehnya dan yang diterima ketiga pria itu. Dia juga membersihkan noda darah yang memercik ke seragam miliknya.


"Apakah ada cafe atau restoran di sekitar sini? Perutku lapar," keluh Milaine.


"Oh, aku tahu restoran di sekitar sini. Ayo kita pergi ke sana."


Eron terlampau antusias. Dia menarik pergelangan tangan Milaine. Eron membawa gadis itu menuju restoran yang tidak jauh dari tempat mereka berada.


"Hei, kau tidak perlu memegang tangan Nona." Luke berusaha untuk melepaskan genggaman tangan Eron dari Milaine.


"Apa perlu aku cincang tanganmu agar lepas dari Milaine?" Lloyd mengancam dengan ekspresi menyeramkan.


"Aku tidak peduli, yang penting Milaine tidak marah dan melarangku menyentuhnya."


Eron mempercepat langkahnya, Milaine berupaya menyelaraskan langkahnya dengan Eron. Mereka saling kejar mengejar di tepi jalan sampai dilihat ramai orang.


Setiba di restoran, mereka langsung memesan makanan. Ada berbagai jenis makanan di sana dan harganya pun terjangkau.


"Bukankah mereka keturunan konglomerat? Mengapa mereka makan di restoran ini?"


"Aku tidak tahu anak konglomerat sekali pun suka makan di restoran sederhana seperti ini."


Mereka mengabaikan setiap tatapan serta ucapan yang tertuju kepada mereka. Hanya ada rasa lapar yang mendominasi diri mereka saat ini.


"Makan yang banyak, Nona." Luke menaruh tiga potong daging di atas piring Milaine.


Lloyd dan Eron juga tidak mau kalah. Mereka ikut menaruh potongan daging serta sayur di piring makanan Milaine.


"Hentikan itu! Kalian mau membuatku gemuk? Lagi pula perutku tidak sanggup menampung makanan sebanyak ini," ujar Milaine.


Di saat Milaine hendak menyuap makanannya, ponselnya berdering. Terpaksa dia mengangkat telepon terlebih dahulu sebelum melanjutkan makannya kembali. Di sana tertera nomor khusus dari rumah sakit.


"Halo. Milaine di sini," ucap Milaine.


"Halo, Nona. Apakah benar Anda Milaine Lysander, Kakak dari Tuan Muda Nigel?"


"Ya, itu benar. Ada apa? Apakah terjadi sesuatu kepada Adik saya?"


Milaine mulai merasakan khawatir dan kecemasan berlebihan memikirkan nasib Nigel.

__ADS_1


"Mohon maaf, Nona. Saya ingin mengabarkan terkait kondisi Tuan Muda Nigel. Beliau tadi mengalami kecelakaan. Sekarang kondisi Tuan Muda sedang kritis di rumah sakit."


__ADS_2