
Lisbeth menggerutu. Giginya bergemelatuk mendengar kesombongan Milaine. Gadis itu menjadi ketakutan terbesarnya. Karena apa? Karena kemampuan dan kecerdasannya membuat semua orang mewaspadainya.
"Baiklah. Mari kita lihat nanti siapa yang menjadi pemenangnya. Aku yakin kau takkan pernah bisa menandingi putraku," ucap Lisbeth.
Milaine tersenyum miring sambil melipat kedua tangan di dada.
"Benarkah dia sanggup mengalahkanku? Aku tidak yakin karena sampai mati pun aku takkan pernah menyerahkan dan membiarkan keluarga Lysander jatuh ke tangan selain aku," tekan Milaine.
Lisbeth membungkam. Sorot mata wanita itu menggambarkan sesuatu yang sulit diartikan Milaine. Kala itu pun Milaine tersadar bahwa ada sesuatu yang dia lewatkan tentang Lisbeth.
"Ya, aku menantikan omonganmu menjadi kenyataan walau itu mustahil terjadi."
Lisbeth berlalu dari hadapan Milaine. Dia tadi hendak menampar gadis itu, tetapi ia tak bisa melakukannya sebab ada banyak mata yang mengawasi mereka.
'Sudah aku duga. Wanita itu sedang merahasiakan sesuatu. Haruskah aku korek satu per satu rahasianya itu?' batin Milaine berpikir.
Kemudian Milaine bisa pergi dengan tenang ke paviliun kediamannya. Dia sudah memantapkan hati untuk memulai penyelidikan terhadap Lisbeth.
"Nona, Anda sudah kembali?" Halia dan Aleda menyambut kepulangan Milaine.
__ADS_1
"Iya, tolong siapkan minuman dingin. Aku haus karena terlalu banyak berbicara sedari tadi." Milaine langsung memberi perintah Halia.
"Baik, Nona. Akan segera saya ambilkan."
Milaine mendudukkan diri di atas sofa. Aleda berdiri seperti patung di samping sofa tersebut.
"Aleda, bisakah kau menyelidiki Lisbeth diam-diam? Wanita itu sangat mencurigakan," ujar Milaine membuka suara.
"Menyelidiki Nyonya Lisbeth?"
"Iya, menyelidikinya sampai ke akar-akarnya dan jangan lewati satu pun."
Aleda berpikir sejenak. Dia berpikir bagaimana cara menyelidiki Lisbeth supaya tidak ketahuan. Setelah tahu caranya, dia pun baru merespon.
Tanpa menunggu lama, Aleda segera bergerak pergi ke paviliun kediaman Lisbeth. Dia memang lihai bergerak secara bersembunyi dan minim resiko ketahuan oleh orang lain.
"Ini minumannya, Nona." Halia menyerahkan segelas jus jeruk kepada Milaine.
"Terima kasih."
__ADS_1
Milaine langsung menyeruput habis jus jeruk tersebut. Tiba-tiba saja dia teringat sesuatu setelah minumannya habis.
"Oh iya, di mana Nigel? Aku belum melihatnya dari kemarin."
Milaine sontak bediri dari tempat duduk.
"Halia, aku pergi menemui Nigel sebentar. Nanti aku kembali lagi," kata Milaine bergegas pamit pergi.
Sesampai di kamar Nigel, dia tidak menemukan sang adik di mana pun. Pada akhirnya, Milaine memutar langkah menuju lapangan latihan.
Dari kejauhan, dia melihat sosok Nigel yang sedang mengayunkan pisau. Walau dalam kondisi napas tersengal-sengal, dia tetap mengayunkan pisaunya.
"Nigel, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Milaine menghampiri Nigel.
Nigel terkesiap mendengar suara dan melihat kedatangan Milaine. Buru-buru dia menyimpan sebilah pisau miliknya.
"Kak, apa yang membawamu kemari?" Nigel mengalihkan pertanyaan dari Milaine.
"Jawab dulu pertanyaanku. Kenapa kau berada di sini dan bukannya beristirahat? Lalu kenapa kau memegang pisau? Apa kau berlatih diam-diam lagi tanpa sepengetahuan Ibu?"
__ADS_1
Milaine menatap Nigel dengan sorot mata penuh curiga. Nigel pun merasa tak enak hati menyembunyikan hal ini dari sang kakak.
"Iya, aku bermaksud untuk melatih kemampuan bertarungku supaya aku tidak menyusahkan Kakak lagi. Tolong rahasiakan ini dari Ibu, aku tidak mau Ibu marah."