Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Lama Tidak Berjumpa, Nonaku


__ADS_3

Deysi merasa tertohok atas penghinaan Milaine. Gadis kecil itu kian menunjukkan sifat kurang ajarnya. Deysi menggigit bibir bawahnya, dia menahan diri mempertahankan reputasinya di antara para pekerja mansion.


“Bukankah itu sudah jelas? Aku adalah salah satu Nyonya di kediaman ini. Lalu kau hanyalah anak seorang pelayan. Level kita berbeda jauh, sebaiknya kau jaga sikapmu di hadapanku,” tegas Deysi.


“Level kita berbeda jauh? Apakah benar begitu?” Milaine menyibak rambut panjangnya. “Tetapi, aku ini anak CEO Lysander Group, sedangkan kau hanyalah istri yang ditiduri satu kali oleh Ayah. Terlebih lagi, kau berasal dari Nona perusahaan yang tidak begitu terkenal. Apa yang bisa kau jadikan tolak ukur denganku?”


“Keterlaluan!” Deysi mengangkat tangan kanannya dan bersiap mendaratkan tamparan di pipi Milaine. Namun, tiba-tiba pergelangan tangannya di tangkap oleh gadis itu, ia tak diberi kesempatan untuk melawan.


“Jangan coba-coba untuk menyentuhku.” Milaine menyentak tangan Deysi. “Aku pikir di sini kau yang perlu sadar diri. Baik itu kau, Mayra, atau pun Lisbeth hanya memiliki satu anak dari Ayah. Lalu Ibuku mempunyai empat orang anak. Apa kau mengerti? Fakta bahwa Ayah lebih mencintai Ibuku tidak bisa dipungkiri lagi. Kalian hanyalah istri yang dilempar oleh keluarga kalian ke keluarga ini.”


Milaine berjalan pelan mengelilingi Deysi yang mulai dikuasai pikiran buruk.


“Kakek dan Neneklah yang mengatur pernikahan kalian dengan Ayah, sedangkan Ibuku dipilih langsung oleh Ayah. Posisi Ibuku di mata Ayahku jauh lebih tinggi dibanding wanita licik dan penuh siasat buruk. Berhentilah memposisikan dirimu seperti Nyonya, bagaimana pun kau takkan mampu merebut hati Ayahku,” tukas Milaine.


Deg!


Degup jantung Deysi berdetak kencang, dadanya sesak bukan main kala Milaine menyadarkan dia soal perbedaan perlakuan di antara empat istri Conrad.


“Omong kosong! Kau mencoba menabur perselisihan di antara kami kan? Kau—"


Milaine mendorong kasar tubuh Deysi hingga terjerembab ke lantai. Aksi gadis itu disaksikan oleh puluhan pasang mata pekerja mansion.


“Upss, kenapa kau menjatuhkan diri? Apa kau mau bersujud di kakiku? Ya ampun, Nyonya Deysi, tidak ada gunanya bersujud di bawah kaki anak pelayan.”


Sekujur badan Deysi gemetar akibat rasa malu menyerangnya setengah mati. Dia mendongakkan kepalanya, Milaine menertawakan sambil merendahkan Deysi. Betapa jengkelnya Deysi kala itu, tetapi dia tidak bisa melawan gadis itu.


Deysi mengepalkan tangannya kuat-kuat, penghinaan dari Milaine tak bisa dia terima begitu saja.


“Lihat saja, aku akan mengadukan perbuatanmu kepada Tuan. Menyerang dan menghina istrinya, apa kau pikir beliau akan diam begitu saja?” gertak Deysi.


“Ya, coba saja kau adukan. Sekarang aku pergi dulu. Aku masih punya banyak pekerjaan yang masih belum diselesaikan.”

__ADS_1


Milaine berlalu meninggalkan Deysi, wanita itu hanya bisa mengadu kepada Conrad tentang perilakunya yang kelewat batas. Sesungguhnya, Milaine dahulu sering kena imbasnya akibat aduan Deysi yang berlebihan.


Waktu bergulir cepat, tak terasa jam dinding sekarang menunjukkan pukul dua belas malam. Seluruh aktivitas mansion telah berhenti, para pekerja beristirahat di ruang mereka masing-masing. Hanya ada suara derap kaki pengawal yang memantau keamanan sekitar mansion. Namun, malam ini lagi-lagi Milaine kesulitan memejamkan mata.


Pada malam ini pula Milaine mendapatkan serangan kejutan dari beberapa orang pengawal suruhan salah satu saudaranya. Suasana mansion selalu seperti ini semenjak kehadirannya di kediaman Lysander. Setiap rencana pembunuhan yang terang-terangan begini kerap kali dilumpuhkan dengan mudah oleh Milaine.


“Cih! Kenapa mereka tidak belajar dari kesalahan? Aku yakin, ini adalah perbuatan bodoh si kembar. Mereka sama bodohnya dengan Ibunya, sejak dulu mereka tiada henti menggangguku meski selalu kalah dariku.”


Milaine menyibak rambutnya seraya menyeka cipratan darah di wajah serta tangannya. Piyamanya yang berwarna hijau lembut ikut ternodai oleh merah dan amisnya darah.


“Haruskah aku periksa kamar Nigel? Tidak mungkin mereka hanya menggangguku saja malam ini.”


Milaine mempercepat langkahnya ke arah ruang tidur sang Adik. Meskipun Nigel belum masuk secara resmi dalam pertarungan antar calon pewaris, tetapi ia seringkali dijadikan target pembunuhan. Maka dari itulah, Milaine meningkatkan kewaspadaannya di sekitar Nigel dan tak memalingkan pandangan sedikit pun.


Tatkala kaki Milaine tiba di depan daun-daun pintu masuk, alangkah marahnya ia kala mendapati seorang pembunuh hendak menebas Nigel yang tengah terlelap. Dugaannya benar, kali ini pembunuh ini mengincar nyawa Nigel secara langsung.


“Oh, beraninya dia menargetkan Nigel.”


“Siapa yang mengirimmu kemari?!” selidik Milaine mencekik leher pembunuh itu.


“Ukkhhh … l-lepaskan aku ….” Pembunuh itu merintih sakit dan napasnya semakin tercekat.


“Jawab aku! Siapa yang mengirimmu?!”


Milaine mengulangi pertanyaan yang sama berulang kali, tetapi si pembunuh enggan menjawab pertanyaan tersebut.


“Karena kau bersikeras tak mau mengakuinya, maka kau harus mati malam ini juga.”


Dorongan keras tangan Milaine membuat tubuh pembunuh itu melayang ke bawah dan membentur permukaan tanah. Pembunuh itu mati begitu mudahnya, darah dari kepalanya tiada henti mengalir membasahi tanah.


“Membosankan sekali,” gumam Milaine berbalik badan, ia pun melangkah menuju ke ranjang Nigel.

__ADS_1


Sang Adik rupanya baru saja terbangun dari tidurnya karena mendengar suara benturan keras dari balkon.


“Kakak, apa yang kau lakukan di sini?” tanya Nigel, matanya sangat mengantuk karena baru tidur dua jam saja.


“Tidak ada. Aku hanya membereskan serangga kecil yang terbang di kamarmu,” jawab Milaine mengukir senyum tak berdosa.


“Benarkah? Tetapi, aku mendengar ada suara benturan dari balkon.”


“Itu hanya halusinasimu. Sebaiknya kau baringkan lagi badanmu, kembalilah nikmati tidurmu,” dalih Milaine.


***


Di waktu bersamaan, di sisi lain mansion, seorang pemuda bersurai hitam berkilau berdiri di tengah-tengah tumpukan mayat. Di tangan kanannya menggenggam sebilah pisau tajam berlumuran darah. Sudut bibirnya yang terangkat terlihat amat menakutnya di sela rupanya yang tampan rupawan.


“Mengusik Nonaku sama saja dengan menyulut kemarahanku. Ini merupakan hukuman dari Tuhan untuk kalian,” ujar pria itu menyorot tajam mayat manusia di bawah kakinya.


“Haruskah aku menemui Nonaku sekarang? Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Aku sangat merindukannya, aku yakin beliau tumbuh menjadi lebih kuat dan tentu saja lebih cantik dari lima tahun lalu.”


Pria itu memutar badannya, ia berbelok langkah ke arah paviliun kediaman Milaine. Kebetulan sekali saat itu dia menemukan Milaine keluar dari kamar Nigel. Sejenak ia terpana menyaksikan kecantikan Milaine di bawah sinar rembulan.


‘Ah, benar yang aku katakan. Nona Milaine jauh lebih cantik sekarang, beliau membuatku lupa diri.’


Pria itu pun melaju derap kakinya dan menyergap langkah Milaine. Dia tiba-tiba langsung memeluk Milaine dari belakang. Gadis itu sontak menoleh untuk memastikan siapa gerangan yang mendekapnya.


“Luke!” seru Milaine terkejut.


Pria bernama Luke itu mengulas senyum manis sambil melepaskan jeratan tangannya di pinggang Milaine.


“Lama tidak berjumpa, Nonaku.”


Luke meraih tangan kanan Milaine lalu mengecup punggung tangannya begitu romantis.

__ADS_1


“Saya sangat merindukan Anda. Senang rasanya Anda masih mengingat saya, Nona.”


__ADS_2