
Mendengar jawaban dari Milaine, Athia tidak terima. Tiba-tiba saja gadis itu menumpahkan sebotol air ke kepala Milaine. Ini bukan pertama kalinya Athia membasahi tubuhnya menggunakan air.
"Lebih baik kau jauhi mereka karena ada banyak wanita di akademi ini tergila-gila kepada para Pangeran. Harap perhatikan setiap langkahmu, jangan coba-coba memanfaatkan wajah cantik dan tubuh seksimu itu untuk menggoda mereka," tekan Athia.
Sudut bibir Milaine terangkat. Dia menyeringai begitu Athia menekannya dengan sangat percaya diri. Kemudian Milaine bangkit dari tempat duduk. Netra merah menyala itu menyorot tajam Athia.
"Kenapa aku harus tunduk pada gertakan kecilmu itu? Ah, apa kau juga bagian dari mereka? Siapa yang kau sukai di antara mereka?"
Raut muka Athia berubah masam. Giginya menggertak marah karena ulah Milaine.
"Kurang ajar! Kau selalu saja menguji kesabaranku." Suara emosi Athia menggema ke setiap sudut ruang.
Milaine menyibak rambutnya. Seragam berwarna putih miliknya kini basah karena air. Terlihat jelas dari luar seragam Milaine pakaian dalam berwarna abu-abu. Para pria yang berada di dalam kelas memusatkan fokus mereka ke arah tubuh Milaine.
__ADS_1
"Athia, aku tahu kalau kau sebenarnya bermimpi disukai dan diperebutkan mereka berlima. Biar kau tidak kecewa, sebaiknya turunkan imajinasi liarmu itu karena kau takkan pernah berhasil mencuri perhatian mereka."
Athia mengangkat tinggi-tinggi tangannya. Dia mencoba untuk menampar Milaine.
"Keterlaluan! Kau—"
"Beraninya kau mencoba menampar Milaine!"
Seluruh mata membelalak kaget melihat kedatangan para pria yang disebut sebagai Pangeran akademi. Mereka masuk begitu saja tanpa mengucap permisi. Padahal rencana awal mereka hanya untuk mengintip Milaine, tetapi siapa sangka gadis itu malah dirundung oleh teman sekelasnya.
"Aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit emosi."
Menyaksikan kekhawatiran kelima pria itu membuat banyak wanita merasa iri. Mereka sangat marah kepada semua orang yang berada di kelas.
__ADS_1
"Hei, kau wanita pembuat onar! Apa yang dilakukan oleh Nonaku sampai kau merundungnya begini?" Tatapan mata Luke seolah-olah memancarkan aura kematian.
"T-Tidak, a-aku—"
"Kau belum pernah merasakan ujung pedang kan? Apa kau mau merasakannya sekarang?" Eron mengintimidasi Athia melalui kata-kata nan dingin dan menusuk.
"Kalian sepertinya senang sekali mengusik Milaine. Terutama kau, Athia! Sejak awal aku selalu melihatmu mencoba mencelakai Milaine. Apa perlu aku membuat perusahaan keluargamu hancur?"
Albern kali ini benar-benar marah kepada Athia. Dia menyesal membiarkan Athia hidup. Ancaman Albern bukan hanya sebatas gertakan, melainkan sebuah keseriusan. Dia sungguh akan menghancurkan perusahaan keluarga Athia bila gadis itu bertindak lebih jauh lagi untuk merundung Milaine.
"Aku akan menjatuhkan bom dari langit jika kalian berani mengganggu Milaine lagi. Jangan harap kalian bisa lolos dariku," imbuh Gazelle ikut mengancam.
Kemudian mereka membawa Milaine keluar dari kelas. Mereka tidak mau lagi membiarkan Milaine berada di tengah-tengah situasi memuakkan seperti itu.
__ADS_1
"Kenapa gadis itu selalu beruntung? Dia merebut perhatian mereka dengan mudah. Aku tak boleh membiarkannya hidup lebih lama lagi. Aku akan menghabisi nyawanya," gerutu Athia memandang iri ke arah Milaine.
Dia memang tidak punya rasa takut walau sudah diancam. Sekarang bukannya penyesalan yang dia rasakan, tetapi dia merasakan dendam yang kian membesar di hati.