Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Conrad Membela Milaine


__ADS_3

"Jangan sesekali mencoba-coba membuatku terlihat sangat jahat di mata Nigel. Aku tidak—"


"Jangan mengelak lagi!" sentak Fiona. "Aku tahu kau mau Nigel celana dan sakit lagi kan? Supaya kau bisa menyingkirkan Nigel. Aku tahu semua akal busukmu."


Fiona marah besar sambil mengarahkan telunjuk ke Milaine. Gadis itu hanya menatap lurus dan datar menyikapi kemarahan Fiona. Dia sudah terbiasa. Bahkan, jika ia dibunuh detik itu juga oleh Fiona, Milaine tidak lagi terkejut.


"Terserah kau saja berbicara apa. Aku sudah bosan berdebat denganmu. Sekarang aku akan pergi dan urus Nigel baik-baik."


Milaine memutar bola mata malas sembari berbalik badan meninggalkan Fiona. Akan tetapi, Fiona ternyata enggan membiarkan Milaine pergi begitu saja tanpa adanya penyelesaian masalah.


"Siapa yang mengizinkanmu pergi dari sini?! Aku belum seles—"


"Fiona!"

__ADS_1


Fiona terperanjat kaget mendengar suara Conrad berteriak memanggil namanya dari arah lain lapangan. Dia tidak bisa berkata-kata menyaksikan kedatangan sang suami.


Ekspresi Conrad sangat tidak baik. Dia tampak marah, tetapi alasan kemarahannya masih belum diketahui.


"Tuan, apa yang membawa Anda kemari?" Fiona pun menurunkan nada bicaranya.


Terpaksa Milaine kala itu harus mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana. Entah mengapa, dia merasa ada sesuatu yang terjadi sesudah ini.


"Apa yang kau lakukan di sini? Kau mau menyalahkan Milaine lagi dan membuatnya menjadi orang paling bersalah di sini?!" bentak Conrad.


"Nigel, jelaskan sekarang kepada ibumu. Mengapa kau bisa berada di sini? Apakah Milaine menyuruhmu untuk latihan atau tidak?"


Nigel menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Tidak, Ayah. Kakak tidak menyuruhku latihan. Saya sendiri yang ingin melatih diri. Ini bukan salah kakak," jawab Nigel membela Milaine.


Conrad menyorot tajam Fiona. Dia benar-benar kecewa dengan Fiona yang selalu menyalahkan Milaine atas kesalahan yang tidak dilakukannya. Fiona seolah-olah memang sengaja memojokkan Milaine dan membuat gadis itu merasa sedih. Untung saja Milaine kuat, ia tak terpengaruh dengan apa pun yang diucapkan Fiona.


"Kau dengar itu?! Kau mau membunuh anakmu sendiri hah?! Sudah berapa kali aku melihatmu seperti ini. Kenapa kau tidak pernah berubah?! Kau menyalahkan Milaine atas kematian kedua putramu. Kalau begitu, sekarang coba bunuh Milaine! Bunuh dia untuk melampiaskan kemarahanmu!"


Nada suara Conrad terdengar tinggi, dingin, dan dibubuhi emosi menggelegar di dada. Fiona hanya tertunduk diam mendengar kalimat marah Conrad.


"Maaf, Tuan. Saya sungguh meminta maaf. Sungguh, saya tidak bermaksud seperti itu."


Dengan penuh keterpaksaan, Fiona meminta maaf. Padahal sebenarnya dia enggan meminta maaf atas kesalahan yang dia rasa tak pernah dia lakukan. Milaine sadar bahwa Fiona tidak merasa menyesal atas apa yang terjadi padanya.


"Ya sudahlah. Mulai sekarang, jika aku melihatmu memarahi Milaine lagi atas kesalahan yang tidak pernah dia perbuat, maka jangan salahkan aku memberimu hukuman. Aku paling tidak suka bila kau bersikap seenaknya saja kepada putri kandungmu sendiri."

__ADS_1


Fiona mengiyakan omelan Conrad. Dia tidak mau terlibat masalah dengan suaminya. Sungguh, melihat Conrad berbicara panjang lebar begini bukanlah sesuatu yang biasa disaksikan banyak orang, termasuk Milaine.


"Ayah, jangan emosi lagi. Saya tidak apa-apa karena saya sudah terbiasa diperlakukan buruk oleh Ibu. Jangan terlibat lebih dalam karena bisa-bisa istri Anda yang lain mengetahui permasalahan ini hingga terjadi hal yang sangat buruk di kediaman ini."


__ADS_2