Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Kencan


__ADS_3

Arthyn bermain mata. Tatapannya seakan-akan melahap tubuh Milaine. Bukan tatapan wajar bagi seorang saudara laki-laki kepada saudarinya. Seketika Milaine pun merasa tidak nyaman karena hal tersebut.


"Tidak jadi. Aku tidak jadi berbicara denganmu. Lain kali saja."


Arthyn bergerak pergi meninggalkan Milaine. Itu benar-benar menjengkelkan bagi gadis itu. Rasanya seperti ini menebas kepala Arthyn, tetapi dia tidak membawa senjata saat ini.


"Dasar bajing*n gila! Aku ingin mematahkan tulang lehernya. Sungguh membuatku jengkel," gumam Milaine mengumpati Arthyn.


Kemudian Milaine sendiri memutuskan untuk melanjutkan kembali langkahnya. Ada berbagai macam pikiran yang menyusup masuk ke kepala Milaine. Namun, tiada satu pun dari puluhan hal yang dapat ditemukan solusinya olehnya.


"Nona, ada kiriman buket bunga untuk Anda." Aleda menyerahkan buket bunga mawar kepada Milaine.


"Siapa yang mengirimnya?" Milaine tidak tahu siapa pengirim bunga itu.


"Sepertinya Tuan Muda Gazelle."


Bersamaan detik itu pula, ponsel Milaine bergetar pertanda ada pesan singkat yang masuk. Buru-buru ia melihat layar ponselnya. Rupanya Gazelle yang mengirimkan bunga tersebut ke paviliunnya.

__ADS_1


"Apa kau suka bunganya?" Itu adalah pertanyaan di pesan singkat kiriman Gazelle.


Milaine tanpa sadar malah tersenyum. Tidak disangka ia mendapatkan hadiah yang begitu manis dari Gazelle.


"Aku rasa Gazelle memang suka menghambur-hamburkan uangnya untuk hal tidak berguna." Milaine menaruh baik-baik bunga tersebut di atas meja.


Kemudian ponselnya kembali bergetar. Gazelle mengirimkan beberapa stiker lucu yang membuat Milaine terkikik. Setelah itu, dia mengirimkan sebuah kalimat pertanyaan.


"Apa kau mau pergi berkencan denganku?"


Milaine mengiyakan ajakan Gazelle. Tanpa diketahui Milaine, Gazelle saat ini sedang kegirangan tatkala Milaine tidak menolaknya. Sejujurnya, dia sempat khawatir Milaine akan menolak ajakan kencannya. Akan tetapi, tampaknya itu tidak sesuai dengan apa yang dia khawatirkan sebelumnya.


"Baju apa yang aku kenakan untuk bertemu Milaine? Haruskah aku membeli pakaian baru lagi?"


Gazelle bersiul bahagia. Para pelayan yang berada di kamar yang sama dengannya menatap heran ke arah Gazelle.


"Ya sudah, pakai baju ini saja. Aku rasa ini lebih cocok untuk berkencan dengan Milaine."

__ADS_1


Gazelle berjanji akan menjemput Milaine nanti. Gadis itu melarang Gazelle pergi menggunakan helikopter, jadi nanti Gazelle menjemputnya dengan mobil. Padahal Gazelle mau berkencan ke tempat yang lebih jauh menggunakan helikopter, tetapi sayangnya Milaine ingin berkencan di ibu kota saja.


"Milaine, aku di sini!" seru Gazelle memanggil Milaine.


Milaine segera bergerak cepat ke arah Gazelle. Mereka sama-sama terpaku sebab mereka mengenakan pakaian dengan warna biru tua.


"Aku pikir kita sehati," ujar Gazelle tersenyum sumringah.


"Oh benarkah? Sungguh suatu kebetulan yang cukup menyenangkan."


Mereka pun berangkat menuju taman yang terkenal akhir-akhir ini sebab di sana banyak pasangan yang berkencan. Ditambah lagi ada nuansa indah danau buatan sehingga menambah daya tarik orang-orang pergi ke sana.


"Wah, di sini benar-benar sangat indah. Tempat yang sangat mengagumkan." Milaine menatap takjub taman tersebut.


Entah mengapa belakangan ini Milaine lebih pandai dalam mengekspresikan perasaannya. Hal ini hanya berlaku ketika dia bersama dengan kelima pria yang selalu mengejarnya. Suatu perubahan yang cukup mencengangkan bagi si es balok Milaine.


"Milaine, apa kau ingat pertemuan pertama kita?"

__ADS_1


__ADS_2