
Milaine mengatur irama napasnya. Dia belum melihat wajah pria yang menyelamatkannya dari kegilaan kuda tersebut. Jantungnya nyaris copot akibat berdebar terlalu kencang dari batas normal.
"Aku baik-baik saja," jawab Milaine bernada lunak.
Sepasang tangan yang melingkar di tubuhnya terasa sangat kekar. Tampaknya pria itu telah berlatih keras selama ini dalam bela diri serta penggunaan senjata tajam.
Kemudian Milaine melirik wajah penyelamatnya. Rupanya pria itu adalah Lloyd Velmilish, salah satu saudara Ervan.
"Benarkah kau baik-baik saja?" tanya Lloyd terdengar cemas.
"Ya, sungguh aku baik-baik saja. Aku hanya sedikit syok karena kuda itu tiba-tiba menggila."
Milaine masih belum kenal dengan Lloyd. Pria berwajah tampan itu menyelamatkannya tepat waktu seolah-olah dia telah mengawasi pergerakan Milaine selama berada di lapangan.
"Kau siapa?" Milaine pun bertanya disertai ekspresi bingung.
"Ah, maafkan aku. Aku belum memperkenalkan diriku. Aku Lloyd Velmilish, kau pasti pernah mendengar rumor soal diriku."
Milaine berpikir sejenak. Dia pun teringat informasi tentang beberapa calon pewaris dari perusahaan lain. Salah satunya yaitu Lloyd Velmilish.
"Ah itu, kau—"
"Anak haram Velmilish. Itulah sebutan orang-orang terhadap diriku."
Ya, Lloyd adalah anak haram yang dilahirkan dari rahim seorang wanita dari keluarga biasa. Dahulu sang Ibu bekerja di perusahaan Velmilish Group dan berakhir melakukan hubungan terlarang dengan CEO Velmilish Group. Oleh sebab itulah, Lloyd lahir dan berakhir menjadi salah satu calon pewaris Velmilish Group.
"Ya, aku tahu. Lalu kenapa kau bisa kenal aku? Apakah sebelumnya kita pernah bertemu?"
Lloyd merekahkan senyum manis seraya menjawab, "Pernah, dulu sekali."
Milaine terdiam, mengingat-ingat di mana ia pernah bertemu Lloyd. Memang wajah Lloyd terasa amat familiar di memorinya. Mencoba terus dalami hingga tenggelam di ingatan sendiri.
"Milaine, ayo turun."
Tanpa sadar, ternyata laju kuda telah berhenti. Lloyd mengulurkan tangannya untuk membantu Milaine turun dari kuda.
"Ya, terima kas— ehh!"
Pergerakan Milaine tidak seimbang sehingga ketika dia hendak turun, gadis itu hampir terjatuh. Lloyd dengan sigap menangkap tubuh Milaine dari bawah.
"Apa kau merasa pusing?"
"Maaf, sepertinya aku kehilangan keseimbangan. Tolong turunkan aku—"
"Tidak, ayo pergi ke ruang perawatan. Suruh Dokter akademi untuk memeriksa kondisimu," potong Lloyd.
__ADS_1
"Aku bilang, aku tidak apa-apa. Jangan bawa aku ke sana, ada sesuatu yang harus aku pastikan terlebih dahulu."
Milaine meronta-ronta minta dilepaskan. Lloyd pun akhirnya mengalah dan melepaskan Milaine dari gendongannya. Di sisi lain, penghuni kelas menyaksikan Milaine dari kejauhan. Guru berkuda pun menanyakan kondisi terkini Milaine. Dia takut akan dituntut oleh Conrad kalau Milaine sampai terluka.
"Aku baik-baik saja. Jangan khawatir," ujar Milaine kepada sang Guru.
"Sungguh? Saya khawatir Tuan Conrad akan menuntut saya—"
"Tenang saja, Ayahku bukanlah orang yang mudah memarahi orang hanya karena masalah sepele seperti ini."
Milaine meyakinkan Gurunya untuk tidak takut terhadap imajinasi-imajinasi yang berhubungan dengan Conrad. Ketakutannya pun memudar begitu Milaine menenangkannya.
Sekarang Milaine bergerak mengamati kuda putih yang terkapar di tanah. Kuda itu tadi menabrak tembok pembatas sampai membuatnya tidak sadarkan diri.
"Sudah aku duga, ada sesuatu yang salah dari kuda ini."
Milaine meraba-raba kepala kuda itu. Dia merasakan adanya serbuk halus di kepala kuda tersebut.
"Serbuk ini, apakah ini yang membuat kudanya menggila?" Milaine mengendus serbuk itu berulang kali untuk memastikannya.
"Apa kau menemukan sesuatu?" Lloyd menghampiri Milaine.
"Iya, ada sesuatu yang aneh di sini. Ada sisa-sisa serbuk di kepala kudanya. Aku yakin serbuk inilah yang membuat kudanya menggila."
Lloyd mengecek serbuk itu, tampaknya dia tahu mengenai serbuknya.
"Serbuk halusinasi? Aku pernah membaca soal ini. Namun, aku belum pernah melihat secara langsung. Bukan tanpa alasan kuda ini menggila. Mungkinkah ada seseorang yang sengaja menaruh serbuk ini untuk mencelakaiku?"
Pikiran Milaine mulai menggeliat ke mana-mana. Dia memikirkan berbagai kemungkinan yang bisa saja terjadi. Dugaan sementaranya yakni ada oknum yang sengaja untuk mencelakai dirinya.
Di saat bersamaan di sisi berlainan gedung akademi, Ervan dan Ophelia mengawasi Milaine dari kejauhan. Ervan menggunakan teropong untuk memperdekat jarak pandang supaya dia bisa melihat ekspresi serius Milaine.
"Siapa sangka Adikmu menggagalkan rencana kita untuk mencelakai Milaine," ujar Ophelia.
"Aku tidak tahu kalau mereka punya hubungan. Aku pikir Lloyd tidak kenal dengan Milaine, tetapi baguslah. Setidaknya kulit mulus Milaine tidak lecet karena ide bodohmu itu," tutur Ervan.
"Hei, kau ini sebenarnya punya perasaan terhadap Milaine? Jangan pernah lupakan rencana awal kita."
Ervan menyudahi pengawasannya terhadap Milaine.
"Aku tahu. Hanya saja, sangat sayang sekali kalau gadis cantik itu terluka parah. Kau tahu? Aku hanya ingin mencicipi tubuhnya sedikit."
Ophelia memandang jijik Ervan. Pria itu punya reputasi bagus di akademi. Namun, di balik reputasinya itu, Ervan punya semacam imajinasi liar tentang gadis cantik, bertubuh molek, serta punya aroma nan menggoda.
"Kau gila ya?! Pemimpin juga menginginkan Milaine. Apa kau pikir ingin memberikan bekasmu kepada pemimpin? Jangan macam-macam kau, Ervan!"
__ADS_1
Ervan melirik Ophelia. "Jangan-jangan kau cemburu? Aku tidak pernah menaruh perhatian terhadap tubuhmu karena bentuk badanmu terlalu biasa."
Muka Ophelia merah padam mendengar penuturan Ervan. Kali ini ia merasa Ervan sangat keterlaluan.
"Berhentilah membicarakan omong kosong! Aku tidak pernah tertarik padamu."
Ophelia berlalu pergi meninggalkan Ervan. Perasaan dan pikirannya menjadi tidak karuan akibat perkataan Ervan.
'Bagaimana bisa aku menyukai pria bajing*n seperti Ervan? Seharusnya sejak awal aku buang saja perasaan tidak suka ini,' batin Ophelia.
Mendengar kecelakaan kecil saat berkuda yang menimpa Milaine, Luke dan Eron bergegas pergi menemui Milaine untuk melihat kondisi gadis itu.
"Bagaimana keadaan Anda, Nona? Saya mendapat kabar tidak mengenakkan," ucap Luke tidak mempedulikan keberadaan Lloyd di sana.
"Kenapa kalian sangat khawatir? Aku baik-baik saja. Lloyd menyelamatkanku tepat waktu," kata Milaine menunjuk Lloyd.
Luke dan Eron berdengus kesal. Mereka sangat mengenal Lloyd. Tentu saja ini dikarenakan mereka adalah teman sekelas.
"Kau menyelamatkan Milaine?" tanya Eron menatap dingin Lloyd.
"Iya, seperti yang kalian dengar. Aku baru tahu kalau kalian dekat dengan Milaine." Lloyd berbicara disertai nada suara datar. Namun, terdengar amat menyebalkan.
"Aku dan Nona Milaine telah bersama-sama sejak kecil. Kenapa harus pria menyebalkan ini yang menyelamatkan Nona?!" gerutu Luke diangguki Eron.
"Begitu rupanya, kau dekat dengan Milaine sejak kecil. Ya, aku tidak peduli. Sekarang aku di sini hanya untuk menemani Milaine."
Lloyd sengaja memancing kemarahan kedua pria itu. Mereka sekarang berada di ruang perawatan akademi. Mengingat Milaine sebelumnya sedikit syok karena insiden menggilanya kuda tadi, Lloyd pun mengantar Milaine kemari untuk beristirahat.
"Kau ini—"
"Cukup kalian bertiga! Jangan mempertengkarkan hal yang tidak berguna. Sekarang keluar kalian dari sini!" Milaine mengusir mereka dari tempatnya berada kini.
"Tetapi—"
"Keluar!" tekan Milaine.
Mereka pun akhirnya memutuskan keluar dari ruangan dan membiarkan Milaine untuk beristirahat sejenak.
"Ini gara-gara kalian Nona jadi marah," ujar Luke menyalahi Eron dan Lloyd.
"Kau sangat berisik, makanya Milaine mengusir kita," celetuk Lloyd.
"Hah? Dasar sialan! Kau yang salah, bukan aku!"
"Ini salahmu! Jangan coba-coba menyalahkanku."
__ADS_1
Mereka terus berdebat seperti itu sampai satu persatu memilih untuk memisahkan diri di persimpangan lorong. Mereka sama-sama punya rasa terhadap Milaine sehingga saat ini mereka saling menganggap saingan satu sama lain demi memperebutkan hati Milaine yang sedingin es kutub.