
Tawaran yang sangat mencengangkan. Aleda tak kuasa mengontrol ekspresinya. Milaine memutuskan memperkerjakan Aleda sesuai mengetahui kemampuan gadis itu.
"Apakah Anda serius?" tanya Aleda memastikan.
"Kenapa? Apa kau meragukanku? Bukankah kau butuh biaya besar untuk pengobatan Ayahmu? Aku akan memberimu gaji lima kali lipat lebih besar dari gajimu yang bekerja sebagai pelayan hotel. Bagaimana? Apa kau bersedia?"
Aleda mencubit pipinya. Dia pikir ini mimpi, rupanya sekarang ia berada di dunia nyata. Terlebih lagi penawaran Milaine tentang gaji dengan jumlah yang menakjubkan. Jikalau begini, Aleda bisa membiayai pengobatan Ayahnya tanpa khawatir soal uang.
"Sebelum itu, bolehkah saya tahu Anda sebenarnya berasal dari keluarga mana?"
"Apakah kau tidak tahu aku? Jarang sekali pekerja hotel tidak mengenaliku. Baiklah, perkenalkan, aku Milaine Lysander, salah satu calon pewaris kekayaan Lysander Group," tutur Milaine.
"Lysander Group? Maksud Anda Lysander Group yang itu?"
Milaine mengambangkan senyum polos.
"Ya, Lysander Group yang itu."
Aleda syok berat. Siapa sangka kalau dia berurusan dengan salah satu calon pewaris dari keluarga mendominasi di negara Helsper.
"Saya sangat terkejut. Jantung saya nyaris berhenti mengetahui identitas Anda," kata Aleda meraba jantungnya yang berpacu lebih kencang.
"Aku pikir kau mengenal aku, makanya aku tidak memperkenalkan diri padamu," ucap Milaine.
"Saya tidak pernah tertarik mencari tahu soal siapa saja calon pewaris dari perusahaan besar. Selama ini saya hanya sibuk bekerja, jadi wajar saja saya tidak mengenali Anda."
Milaine mengangguk paham. Dia pun mengulurkan tangannya ke Aleda.
"Kau mau bekerja di bawahku kan?"
Aleda menerima uluran tangan Milaine.
"Iya, Nona. Saya bersedia bekerja di bawah perintah Anda."
"Bagus! Kau bisa kunjungi kediaman Lysander besok. Aku akan menjelaskan padamu, jenis pekerjaan seperti apa yang kau lakukan nanti."
Aleda mengiyakan, ia terlihat senang karena mendapatkan pekerjaan baru di bawah naungan Milaine. Sesudah itu, Milaine pun pamit kembali ke akademi lagi sebab masih ada ujian selanjutnya yang menunggunya di akademi.
__ADS_1
Pada hari berikutnya, sesuai apa yang dikatakan Milaine kemarin, Aleda pun mengunjungi paviliun kediamannya. Milaine menjelaskan secara terperinci tugas yang harus dilakukan Aleda. Salah satu tugasnya ialah membunuh siapa pun orang yang dikirim oleh saudaranya untuk membunuhnya.
"Milaine! Milaine! Keluar kau!"
Waktu istirahat Milaine terganggu ketika mendengar suara teriakan Mayra dari luar kamar. Terpaksa Milaine menunda sejenak waktu tenangnya demi meladeni wanita menyebalkan itu.
"Ada apa lagi? Jangan berisik di kediamanku!" bentak Milaine, marah besar.
"Sekarang kau semakin berani padaku. Aku datang kemari untuk menyuruhmu pindah dari paviliun ini," ujar Mayra.
Milaine mengerutkan kening sembari menyandar di ambang pintu.
"Kenapa aku harus keluar dari paviliun ini? Bukankah sejak awal paviliun kecil ini ditempati olehku seorang?"
"Sekarang sudah tidak lagi! Paviliun jelek ini akan dibangun ulang menjadi tempat latihan anakku. Lagi pula kenapa kau tidak tinggal di paviliun milik Ibumu saja? Oh astaga, aku lupa. Kau kan diusir oleh Ibumu dari paviliunnya."
Mayra tertawa kecil meledek Milaine. Dia memang suka seenaknya saja sedari dulu.
"Aku memang diusir Ibuku dan Ayah memberiku paviliun ini. Jadi, kenapa aku harus mematuhi kemauanmu?" tegas Milaine.
Milaine menguap, ia menganggap remeh kehadiran Mayra kala itu.
"Aku takkan menyerahkan paviliun ini. Sebaiknya, kau pergi dari sini segera sebelum aku membuatmu babak belur," gertak Milaine, tidak main-main.
Mayra menggertakkan giginya. Dia selalu geram setiap kali berurusan dengan Milaine.
"Awas saja kau nanti. Aku akan membuatmu menyesal karena menolak untuk pergi dari sini."
Dipenuhi kekesalan, Mayra pun memilih pergi dari hadapan Milaine. Dia menghentakkan kakinya menunjukkan bahwa dia benar-benar emosi karena ulah gadis itu.
"Aku tidak diperbolehkan oleh Ibu tinggal di paviliun yang sama dengannya. Makanya Ayah menyuruhku tinggal di sini setelah aku kembali dari rumah sakit jiwa. Namun, Mayra mengatakan bahwa Ayah mengizinkannya mengambil alih paviliun ini. Apakah itu benar? Sebaiknya, aku tanya langsung ke Ayah," gumam Milaine.
Milaine bergegas mengganti pakaian dan segera menuju ke ruang pribadi Conrad. Untung saja Conrad saat itu sedang senggang sehingga dia bisa meladeni Milaine dengan tenang.
"Ayah, bolehkah saya berbicara sebentar?" Milaine mengintip sedikit dari celah ambang pintu masuk.
"Berbicaralah. Kebetulan aku sedang tidak sibuk."
__ADS_1
Milaine pun memasuki ruangan. Di saja juga ada Veno tengah merapikan beberapa dokumen.
"Apakah Ayah sungguh memberi izin Mayra untuk mengambil alih paviliun kediaman saya?" tanya Milaine.
"Iya, aku memberinya izin. Dia mengatakan—"
"Saya tidak peduli apa pun alasannya. Paviliun itu menjadi milik saya sekarang. Ayah tidak boleh mengizikannya tanpa bertanya kepada saya," potong Milaine, emosi.
Milaine mengambil napas. Sudah tidak ada tempat yang cocok untuk ia tinggali di mansion Lysander. Bahkan, pavilun yang sekarang dia tempati itu merupakan tempat paling kecil dan kumuh.
"Dengarkan dulu, Milaine. Aku memang memberi izin Mayra mengambil alih paviliun milikmu. Bukan berarti aku tidak menyediakan tempat tinggal baru untukmu."
Veno pun menyerahkan sebuah kunci kepada Milaine.
"Ini adalah kunci paviliun tengah. Kau bisa menggunakan paviliun itu mulai saat ini," lanjut Conrad berucap.
Milaine terpaku, siapa pun pasti tahu mengenai paviliun tengah yang terkunci selama bertahun-tahun. Tempat itu adalah kediaman Ibu kandung Conrad alias Nenek Milaine. Selama menikah dan punya anak, Conrad melarang semua orang untuk menyentuh paviliun tersebut.
"Paviliun tengah? Tetapi, kenapa Ayah mengizinkan saya menempatinya?"
"Aku memutuskan membuka paviliun itu lagi. Aku mengizinkanmu tinggal di sana karena aku pikir hanya kau yang pantas menempatinya. Terimalah kuncinya, aku takkan mengizinkan Mayra jika aku tidak mempersiapkan ini," ujar Conrad.
Dengan perasaan penuh keraguan, Milaine menerima kunci pavilun tersebut.
"Baiklah. Terima kasih, Ayah."
Milaine membungkukkan badan seraya berputar ke arah pintu keluar. Conrad tersenyum tipis menatap punggung Milaine yang menghilang dari pandangannya.
"Kenapa Anda memutuskan membuka paviliun milik Ibu Anda, Tuan?" tanya Veno penasaran.
"Milaine sudah mengalami banyak kesulitan selama ini. Aku tidak bisa melindunginya meski dia seorang perempuan. Aku ingin paviliun milik Ibuku menjadi pelindung baginya. Aku yakin, Ibu akan senang bila cucunya menempati paviliun itu."
Milaine langsung pindah hari itu juga ke paviliun tengah. Kabar mengenai kepindahan Milaine pun menyebar secepat kilat ke telinga para penghuni mansion. Berbagai reaksi timbul, tetapi Milaine mengabaikan reaksi tersebut.
Hingga beberapa hari kemudian, akademi pun mengumumkan hasil ujian di papan pengumuman. Milaine membatu tatkala melihat nilai ujiannya.
"Huh? Kenapa nilai ujianku semuanya di bawah rata-rata? Apa yang terjadi sebenarnya?"
__ADS_1