Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Mobil Milaine Tertabrak


__ADS_3

Ervan mendengus kesal. Terpaksa dia mengurungkan kemarahannya demi menjaga harga dirinya di hadapan umum.


"Nanti aku akan mencari perhitungan denganmu. Tunggu saja," ucap Ervan berlalu pergi meninggalkan Milaine dan Lloyd.


Milaine mengembuskan napas lega. Dia tidak lagi perlu melakukan sesuatu yang lebih kasar agar mengusir Ervan dari hadapannya.


"Kenapa pria itu aneh sekali? Untunglah dia sudah pergi."


Lloyd tersenyum lembut menatap Milaine. Dia sedikit salah tingkah ketika gadis itu berkata akan pergi berkencan dengannya.


"Apa kau benar-benar ingin berkencan denganku?" tanya Lloyd.


Milaine menatap Lloyd lalu menjawab, "Ya kalau kau mengajakku."


"Kalau begitu, ayo pergi kencan denganku. Aku akan mengabarimu lagi nanti."


Milaine sedikit terkejut mendengar ajakan kencan dari Lloyd. Sebenarnya dia tidak berharap banyak, tetapi rupanya Lloyd sungguh berani mengajaknya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku tunggu kabar darimu. Cukup kirimkan saja pesan, aku siap kapan pun itu."


Kemudian mereka pun berpisah di persimpangan lorong sebab mereka sekarang punya kesibukan yang berbeda.


Sepulangnya dari akademi, Milaine merasakan ada dua mobil yang mengikutinya dari belakang. Lama kelamaan mobil itu melaju lebih cepat untuk menyusul mobil Milaine.


"Mereka pasti pembunuh. Aku harus cepat."


Milaine menambah kecepatan mobil. Dia membanting stir menuju jalan pintas ke arah kediaman Lysander.


"Kenapa mereka masih tidak menyerah? Sial! Siapa yang mengirim mereka? Ah, aku yakin, ini pasti ulah si kembar atau wanita jal*ng itu. Membuatku jengkel saja."


"Berani-beraninya mereka menabrak mobilku. Aku tidak bisa membiarkannya begitu saja."


Milaine lekas mengambil sebuah pedang di kursi belakang. Dia langsung keluar dari mobil untuk menghadapi mereka. Akan tetapi, ketika Milaine keluar dari mobil, orang-orang itu justru malah kabur dari kemarahan Milaine.


"Hei, bajing*n! Kemari kalian! Dasar pengecut!" Milaine termakan api amarah. Dia paling tidak suka menghadapi situasi seperti ini.

__ADS_1


Milaine mengatur irama napas yang menggebu-gebu akibat emosi. Dia melihat bagian depan dan belakang mobilnya rusak serta mengeluarkan asap.


"Mobil kesayanganku. Aku jadi tidak bisa menggunakannya karena ulah mereka."


Bertepatan saat itu, Luke lewat dengan mobilnya. Dia segera berhenti di bahu jalan dan menghampiri Milaine.


"Nona, ada masalah apa? Kenapa dengan mobil Anda?" tanya Luke.


"Ada orang yang menabrakku barusan, tetapi mereka malah pergi begitu saja. Aku sangat kesal melihat mobil kesayanganku rusak akibat perbuatan para bajing*n itu," ucap Milaine.


"Saya akan memanggilkan seseorang untuk membawa mobil Anda ke bengkel. Sekarang sebaiknya Anda masuk ke mobil saya saja. Hari ini saya akan mengantar Anda pulang."


Milaine membuang napas berat. Dia perlahan mengangguk lalu mengambil tasnya dari dalam mobil.


Ini pertama kali bagi Milaine menaiki mobil Luke. Mereka selalu berangkat sekolah secara terpisah. Apalagi akhir-akhir ini Luke sering menghabiskan waktu untuk belajar mengelola perusahaan keluarganya.


"Bagaimana dengan wilayah distrik Zero? Apa Anda sudah menyelesaikan bisnis yang diperintahkan Tuan?" Luke bertanya untuk membuka obrolan di antara mereka.

__ADS_1


"Aku baru akan memulainya. Bukannya aku sudah mengatakan padamu kalau kau juga ikut terlibat di sini?"


__ADS_2