Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Kejengkelan di Hari Pertama


__ADS_3

Terlihat di sebuah ruangan kosong, ada sejumlah mayat manusia bersimbah darah di atas ubin. Di tengah-tengah tumpukan mayat tersebut, berdiri seorang gadis berambut pendek sebahu. Tangannya menggenggam payung yang ternodai oleh cairan merah segar. Diketahui bahwa dialah yang membunuh orang-orang itu menggunakan payung hitamnya.


Gadis tersebut bernama Ophelia Elles, putri dari pemimpin Elles Group. Senyuman gilanya membuat pihak lawan ketakutan. Walaupun badannya kecil, tetapi kemampuannya dalam membunuh tidak perlu diragukan. Ophelia terkenal sebagai gadis yang sangat kejam, ia tak segan-segan menghabisi nyawa bawahannya bila melakukan sesuatu yang mengganggunya.


“Kenapa orang-orang ini sangat lemah sekali? Padahal sebelumnya mereka berterus terang menantangku. Rupanya mereka tidak lebih dari seonggok sampah,” gumam Ophelia seraya menginjak kepala mayat di bawah kakinya.


Di waktu bersamaan, seorang bawahan Ophelia datang menghampirinya.


“Nona, Tuan Muda Ervan Velmilish menghubungi Anda.”


Bawahan itu menyodorkan sebuah ponsel kepada Ophelia. Seseorang yang dikenal Ophelia jarang melakukan panggilan ponsel mendadak saja menghubunginya. Tanpa berpikir panjang Ophelia langsung menjawab panggilan tersebut karena dia tahu pasti ada sesuatu yang penting ingin dibicarakan Ervan.


“Tumben sekali kau menghubungiku. Ada apa ini? Apakah ada sesuatu yang bagus sedang terjadi?” tanya Ophelia.


“Ophelia, kenapa lama sekali kau menjawab teleponku? Ah iya, aku punya berita mengejutkan. Aku yakin, kau pasti bersemangat saat mendengarnya,” tutur Ervan di seberang ponsel.


Ophelia seketika tertarik. Jika Ervan bilang seperti demikian, maka sudah pasti beritanya menarik.


“Katakan kepadaku. Berita apa yang hendak kau bicarakan denganku? Jelaskan secara detail.”


“Apakah kau ingat dengan Milaine Lysander?”


Ophelia memutar memorinya, samar-samar penampakan wajah Milaine melintas di kepalanya.


“Maksudmu, Milaine si gadis gila yang sempat menghebohkan jagat dunia maya itu? Ada apa dengan dia?”


“Gadis gila itu sudah kembali dan dia secara resmi telah terdaftar sebagai murid baru kelas dua Akademi Eleutheria. Aku yakin, dia tidak akan diam saja selama belajar di akademi, mungkin juga sesuatu yang besar terjadi setelah ini,” kata Ervan.

__ADS_1


Ophelia terkekeh mendengar perkataan Ervan. Pria itu dinilai terlalu menyanjung gadis yang belum pernah mereka temui.


“Terjadi sesuatu yang besar? Apakah dia memang sehebat itu? Tidak mungkin ada gadis akademi yang lebih hebat dariku. Apabila dia menjadi penghalang, maka aku tinggal membunuhnya saja. Tampaknya kau sangat berlebihan, Ervan,” ujar Ophelia.


“Jangan remehkan gadis itu!” teriak Ervan tiba-tiba membuat telinga Ophelia berdengung. “Milaine punya kemampuan bertarung yang sangat hebat! Ada rumor yang mengatakan kalau gadis itu bisa menjadikan apa pun di sekitarnya menjadi senjata mematikan. Apakah kau lupa? Waktu kecil dia dilatih oleh Bibinya – Yuria.”


Ophelia terdiam mendengar nama Yuria, itu adalah nama yang tak pernah lekang di sejarah negara Helsper, terutama di kalangan para wanita.


“Yuria? Maksudmu Yuria si petarung hebat itu?! Walaupun terlahir dari keluarga miskin, dia bisa menjadi pertahanan garda terdepan negara Helsper. Mengapa kabar ini tidak pernah terdengar ke telingaku?”


Ya, itu benar! Nama Yuria selalu menjadi perbincangan di antara para konglomerat. Tidak sedikit dari mereka yang mencoba merekrut Yuria. Akan tetapi, Yuria menolaknya dan memilih bekerja sebagai pengawal di kediaman Lysander. Yuria adalah Adik kandung Fiona, makanya dia berpikir untuk melindungi Kakaknya lebih dekat di mansion Lysander.


“Aku pikir kau sudah mengetahuinya. Pokoknya kau tidak boleh sembarangan mendekatinya. Akan sangat merepotkan kalau dia mengamuk. Terlebih lagi Milaine itu dikenal sebagai gadis dingin berhati batu. Dia takkan segan-segan menumpaskan kita jika salah satu dari kita mengusik ketenangannya,” tekan Ervan.


“Baiklah, aku akan ingat itu. Jangan khawatir, sekarang sebaiknya kau lanjutkan saja penyelidikanmu soal gadis itu. Kirim mata-mata untuk mengawasinya, bila keberadaannya mengancam kita maka kita harus menghabisi nyawanya segera,” pungkas Ophelia.


Panggilan pun diakhiri oleh Ervan, mereka kini sangat mewaspadai Milaine dan dicurigai sebagai seseorang yang mengancam mereka.


***


Dua hari berlalu, Milaine hari ini resmi menjadi murid di Akademi Eleutheria. Gadis itu menarik perhatian seluruh penghuni akademi. Berita soal Milaine yang dimasukkan ke rumah sakit jiwa sangat menggemparkan negara Helsper. Tidak sedikit orang akhirnya beranggapan bahwa Milaine hanyalah aib dari Lysander Group.


“Nona, kita telah tiba di akademi.”


Milaine memutar bola mata memandangi gedung akademi dari dalam mobil. Akademi Eleutheria memang sangat mewah. Terdapat banyak teknologi canggih mendominasi di sana sehingga akademi ini dipandang baik oleh dunia.


“Kak, ayo kita turun,” ajak Nigel.

__ADS_1


“Baiklah.”


Milaine dan Nigel turun berbarengan dari mobil. Baru saja Milaine bergerak beberapa langkah, ia langsung dihadapkan dengan tatapan para murid akademi.


Penampilannya menjadi salah satu daya tarik utama. Seragam akademi terlihat pas di tubuhnya hingga memperlihatkan lekukan tubuh Milaine. Lalu rambut panjang yang digerai, bibir tipis merah muda tanpa polesan, bulu mata nan melentik, kulit seputih porselen, mata besar nan tajam, serta hidung kecil nan mancung. Ditambah lagi tinggi badan Milaine terlihat sangat mencolok dibanding gadis pada umumnya.


“Itu dia! Milaine Lysander, gadis gila yang baru saja keluar dari rumah sakit jiwa.”


“Apa-apaan itu? Dia seperti boneka hidup. Benarkah dia seorang manusia?”


“Kecantikannya tidak diragukan lagi, dia bahkan jauh lebih cantik dari Athia. Hanya saja, sayangnya dia tidak lebih dari sekedar aib keluarga sehingga kecantikannya tertutup akibat darah kotor yang mengalir di tubuhnya.”


Di sela bisikan-bisikan para siswa, tanpa disadari ada empat orang pria yang memperhatikan Milaine sedari tadi. Mereka bersembunyi di tempat yang berbeda sehingga Milaine tidak akan bisa melihat mereka saat ini.


“Dia kembali. Akhirnya, aku bisa bertemu lagi denganmu, Milaine.”


Milaine dan Nigel berpisah di persimpangan lorong karena lokasi kelas Nigel sedikit lebih jauh dari kelas sang Kakak. Milaine berhenti sejenak di depan pintu kelas. Di balik daun-daun pintu ini Milaine akan menemukan hal yang mungkin membuatnya terusik.


“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi aku yakin penghuni kelas ini juga tidak menyambut kehadiranku,” gumam Milaine.


Ketika Milaine membuka pintu kelas, dari atas pintu tiba-tiba saja jatuh sebuah kotak berisi air. Kotak itu jatuh tepat di kepala Milaine hingga membuat sekujur badannya basah kuyub.


“Hahaha. Tepat sasaran! Aku melakukannya dengan benar.”


“Ya ampun, kasihan sekali. Padahal ini hari pertamanya masuk, tetapi sudah dikerjai seperti ini.”


“Apa yang akan terjadi berikutnya? Apakah dia akan menangis atau malah mengamuk?”

__ADS_1


Milaine menyibak rambutnya yang basah. Sudut bibirnya terangkat, sekilas senyum mematikan terukir jelas di bibir Milaine. Sorot matanya mengedar ke segala arah, dia pun memusatkan netra merahnya ke seorang gadis yang bernama Athia.


“Wah, memanfaatkan orang lain dan menghasut penghuni kelas untuk menjahiliku. Sungguh sebuah perbuatan yang memalukan. Benar begitu bukan, Nona Athia?”


__ADS_2