
Irama napas Milaine seakan-akan berhenti. Jantungnya kian berdegup kencang mendengar perkataan Conrad yang serius. Kemudian Milaine mencoba menenangkan diri sambil menata isi pikiran.
"Ayah membunuhnya? Lalu siapa yang berurusan dengan Birdella? Dan siapa yang meneror kita selama ini? Kenapa saya yang menjadi target mereka? Sebenarnya, apa yang terjadi di sini? Saya tidak paham sama sekali."
Milaine melontarkan pertanyaan beruntun kepada Conrad. Sang ayah terlihat kebingungan hendak menjawab pertanyaan Milaine.
"Itulah yang sedang aku selidiki sekarang. Sangat mencurigakan sekali bukan? Mengapa hanya kau dan Nigel yang menjadi sasaran pembunuhan mereka? Aku sama sepertimu. Tidak mengerti apa tujuan dari rencana mereka. Jadi, Milaine, bersabarlah sampai aku berhasil menemukan siapa dalang sesungguhnya di balik ini semua," ujar Conrad tegas.
"Baiklah kalau begitu. Saya juga akan membantu menyelidikinya. Setidaknya, sekarang rasa penasaran saya sedikit lebih lapang. Maaf karena telah mengganggu waktu berharga Anda."
Milaine membungkuk meminta maaf kepada Conrad.
"Ya sudah, lupakan saja. Oh iya, apa kau sudah makan?"
__ADS_1
"Belum. Saya belum makan."
Conrad tersenyum tipis. "Bagaimana kalau kita makan bersama di restoran? Kebetulan sekali, aku juga belum makan apa pun sedari tadi," tawar Conrad.
Tanpa berpikir panjang, Milaine menjawab, "Baiklah, Ayah. Saya akan ikut dengan Anda makan di restoran."
Mereka berdua akhirnya pergi ke restoran terdekat dari perusahaan. Tidak biasanya Conrad makan bersama putri satu-satunya. Tentu saja hal ini menjadi pusat perhatian utama tanpa mereka sadari. Terlebih lagi, ada mata-mata Lisbeth yang memantau pergerakan kedua orang itu.
Lisbeth lagi-lagi mengamuk ketika mengetahui hal tersebut. Suasana hatinya memburuk karena mendengar laporan dari mata-matanya.
Lisbeth mondar-mandir ke sana kemari memikirkan langkah berikutnya untuk menyingkirkan Milaine. Dia tidak mau membiarkan gadis itu berlama-lama bertahan di kediaman ini.
"Aku harus memikirkan cara lain untuk membunuh Milaine. Ya, aku pastikan rencana kali ini berhasil menghabisi nyawa gadis itu."
__ADS_1
Sementara itu, Milaine kembali ke mansion seusai makan di restoran. Dia terkejut melihat Nigel sudah berada di mansion. Adiknya itu tidak lagi dirawat di rumah sakit dan diperbolehkan pulang oleh dokter.
"Kak, kenapa Kakak pulang lama sekali?" tanya Nigel.
Memang Milaine pulang dalam keadaan langit sudah tenggelam kegelapan malam. Terlalu banyak hal yang dia lalui hari ini sehingga dia sampai lupa waktu untuk pulang.
"Maafkan aku. Tadi aku menyelesaikan urusan penting di luar. Bagaimana keadaanmu sekarang? Apakah Dokter mengatakan kondisimu membaik?"
Nigel mengangguk dengan ceria. "Iya, Dokter bilang aku mungkin akan baik-baik saja sementara waktu. Aku senang bisa kembali ke mansion lagi dan bertemu Kakak."
Milaine mengulas senyum tipis seraya mengusap lembut puncak kepala Nigel.
"Aku juga senang bisa melihatmu lagi. Aku harap penyakitmu lekas sembuh ya, Adikku."
__ADS_1
Kemudian mereka pun masuk bersama ke paviliun. Mereka berbincang berdua sampai menjelang malam. Milaine sengaja menemani Nigel sesuai permintaan sang adik sampai dia tertidur.
'Bagaimana pun juga, hidup Nigel harus lebih baik dariku. Adikku satu-satunya yang aku sayangi, dia menjadi alasan kenapa aku bertahan sampai saat ini.'