
Luke tertawa kaku. Dia melupakan hal itu, padahal Milaine sudah mengatakannya beberapa hari yang lalu padanya.
"Benarkah? Maafkan saya melupakan soal itu."
"Hmm, tidak masalah. Wajar saja bila kau lupa."
Mereka melanjutkan obrolan di atas mobil sampai mereka tiba di mansion. Conrad yang berpapasan di area parkiran mansion dengan Milaine merasa sedikit heran melihat sang putri turun dari mobil Luke.
"Milaine, ada di mana mobilmu? Kenapa kau menaiki mobil Luke?" tanya Conrad.
"Mobil saya masuk bengkel. Tadi ada orang yang tidak bertanggung jawab menabrak mobil saya. Jadi, saya terpaksa pulang bersama Luke," jelas Milaine sambil menghela napas berat mengingat kejadian sebelumnya.
"Ternyata begitu."
Milaine melirik Conrad dari atas sampai bawah. Milaine memandang heran karena Conrad tidak mengenakan setelan jas untuk bekerja.
"Apa Anda tidak pergi bekerja?" tanya Milaine.
__ADS_1
"Tidak, aku ada urusan di luar. Ya sudah aku pergi dulu."
Conrad pun berangkat. Dia segera meninggalkan kediaman Lysander. Sementara Milaine, ia bergerak masuk ke dalam mansion.
Pada saat Milaine melintasi koridor mansion, tiba-tiba ada pisau melesat tajam ke arahnya. Untung saja Milaine bergerak cepat menghindari pisau itu.
"Sepertinya ada pembunuh di sekitar sini."
Milaine berlari ke tempat yang lebih terbuka. Memang benar dugaannya, ada sekelompok pembunuh yang datang mengusiknya.
"Siapa lagi yang mengirim mereka? Sial! Padahal aku berniat untuk sedikit bersantai. Siapa sangka aku dihadapkan dengan situasi ini," gerutu Milaine.
Milaine bisa menumpaskan para pembunuh itu satu per satu tanpa ada masalah serius. Dia tahu kalau mereka dikirim oleh saudaranya.
"Kalian membuang-buang waktuku. Mengecewakan!"
Milaine lalu menyuruh para pengawal untuk mengurus para pembunuh tersebut. Sekarang dia bergerak masuk menuju paviliun kediamannya.
__ADS_1
"Kemampuanmu dari hari ke hari semakin mengesankan, tetapi itu tidak mengubah kemungkinan bahwa putraku yang akan menjadi pemimpin berikutnya."
Milaine berbalik badan menghadap sumber suara. Dia menemukan Lisbeth bersama sejumlah pelayan. Wanita itu bergerak menghampiri Milaine dengan raut muka yang angkuh.
"Oh, kenapa kau di sini? Kau sengaja mengikutiku?" Milaine menanggapi Lisbeth dengan sangat dingin.
"Apa? Mengikutimu? Mana mungkin aku melakukannya. Sangat mustahil."
"Kalau begitu, baiklah. Aku akan pergi sekarang. Tidak ada gunanya aku berbicara dengan orang sepertimu."
Milaine memutar bola mata sinis. Dia jijik melihat Lisbeth yang masih terikat dengan topengnya. Wanita itu tidak lebih dari seorang munafik. Dia bersikap seakan-akan dia wanita bijak dan jarang berbicara. Padahal itu justru sebaliknya, dia hanya wanita gila yang bodoh dan punya temperamen yang buruk.
"Apa? Lancang! Tidak heran karena di darahmu mengalir darah pelayan rendahan! Dasar kau anak penggoda!"
"Sepertinya penggoda itu kau. Jangan kau pikir aku tidak tahu apa-apa. Aku tahu lebih banyak dari yang kau bayangkan. Berhati-hatilah saat berbicara denganku. Aku bisa saja membongkar keburukanmu di depan Ayah," ancam Milaine.
"Hah? Memangnya apa yang ingin kau tunjukkan? Jangan berbohong seperti kau tahu segalanya tentang aku. Benar-benar tak habis pikir kenapa kau bersikap sombong di hadapanku."
__ADS_1
Milaine menyeringai. "Wajar aku sombong. Aku punya peluang besar mengalahkan putramu. Jadi, bersiap-siap saja untuk kalah."