
Si kembar Sherwin dan Steiner melangkah berbarengan mengarah ke paviliun kediaman Milaine. Mereka dengan senyum penuh kejahatan merencanakan untuk mengganggu Milaine dan Nigel.
"Hei, anak pelayan! Apa yang kalian lakukan di sini?"
Milaine tengah menikmati waktu bersantai bersama Nigel malah terusik oleh kedatangan mereka berdua. Terpaksa Milaine menjeda sejenak aktivitasnya lalu bangkit meladeni si kembar.
"Kenapa kalian kemari? Apa ada urusan denganku atau Nigel?"
Milaine melipat kedua tangan di dada seraya menyorot tajam dua pria menyebalkan itu. Mereka melotot membalas tatapan mematikan dari Milaine.
"Apakah kami harus menunggu ada urusan dulu untuk bertemu manusia rendahan seperti kalian? Kami kemari karena ingin melihat wajah kalian sebelum mati di tangan kami berdua," tekan Sherwin.
"Membunuhku dan Adikku? Sepertinya kalian takkan bisa melakukannya. Karena apa? Karena aku jauh lebih kuat dari kalian."
Milaine merekahkan senyum menjengkelkan untuk meremehkan mereka berdua. Sherwin dan Steiner merasa direndahkan hanya karena sebuah senyuman.
__ADS_1
Milaine memilih mundur dua langkah ke belakang demi memberi jarak di antara mereka. Khawatirnya, mereka malah melayangkan pisau yang selalu mereka bawa dan langsung menebas urat lehernya. Jadi, sebelum itu terjadi, Milaine terlebih dahulu mengambil langkah untuk menjauh.
"Kurang ajar! Apa kau pikir kami akan kalah dari anak berdarah pelayan sepertimu? Jangan sombong hanya karena Ayah menaruh perhatian lebih terhadapmu!" Steiner terpancing. Dia menodongkan pisau ke arah Milaine.
"Oh, kau mengeluarkan senjatamu. Baiklah, mari kita bermain-main sebentar. Jangan salahkan aku bila kalian kalah dariku. Paham?" Milaine menjangkau sebuah pisau makan di atas meja.
Milaine juga menyuruh Nigel untuk menjauh dari sana. Dia cemas bila Nigel terlalu dekat dengannya maka dia mungkin saja akan terkena imbas dari serangan mereka.
"Ayo, majulah kalian berdua sekaligus. Biar aku perlihatkan siapa yang paling hebat di sini."
Kedua pria itu menyerang Milaine serentak. Mereka hampir tidak bisa mengendalikan diri sendiri sehingga arah serangan mereka menjadi tidak teratur. Hal ini malah mendatangkan kerusakan pada bagian lain yang berada di sekitar mereka.
"Apakah hanya ini batas kemampuan kalian?" Milaine berhasil menghindari satu per satu ujung pisau yang mereka arahkan padanya.
Hingga tibalah saat di mana mereka sama-sama kelelahan karena membuat pergerakan berlebihan. Sedangkan Milaine masih bisa bergerak bebas dan cepat tanpa adanya tanda-tanda kelelahan di tubuhnya.
__ADS_1
"Apa yang kalian lakukan di sini?"
Pertarungan mereka berhenti begitu mendengar suara Conrad mendekati. Bergegas mereka mengambil sikap berdiri yang baik untuk menyambut kedatangan Conrad.
"Apa yang membawa Anda kemari, Ayah?" Milaine bertanya sembari menaruh pisau di atas meja kembali.
"Aku hanya kebetulan lewat, jadi aku mampir untuk melihat kalian. Namun, siapa sangka ternyata kalian sedang beradu kekuatan."
Sherwin dan Steiner tidak menyangka Conrad datang menghentikan mereka.
"Kalian Sherwin dan Steiner, kalian sedang melakukan tugas sebagai calon ahli waris?"
"Benar, Ayah. Namun, karena Ayah di sini, jadi kami menghentikannya sejenak," jawab Steiner.
"Begitukah? Kalau begitu, lanjutkan besok lagi karena aku harus berbicara dengan Milaine. Ini sangat penting dan tidak bisa diganggu gugat," tegas Conrad.
__ADS_1