Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Dendam yang Tak Terelakkan


__ADS_3

Tubuh Mayra meluruh ke atas lantai. Jurang kematian semakin mendekat menghampirinya. Dia telah lama bekerja di bawah perintah orang lain. Akan tetapi, mulai hari ini dia takkan bisa melakukan tugas yang diberikan kepadanya.


"Tidak ... tidak ... aku tidak berkhianat. Aku tidak pernah berkhianat! Kau jangan berbicara omong kosong. Mustahil aku berkhianat dari Lysander Group."


Sudah ketahuan, tetapi dia masih berusaha untuk membela dirinya sendiri sekaligus menutupi dalang utama di balik kekacauan yang terjadi. Mayra tak kuasa menahan air mata, untuk pertama kali ia merasakan ketakutan mahadahsyat dari gadis kecil yang belum berusia dewasa.


"Kau takkan bisa kabur. Aku akan mencarimu ke mana pun bila kau berani lari dari tanggung jawab," tekan Milaine marah.


"Aku mohon, jangan adukan hal ini kepada Tuan besar. Aku akan melakukan apa saja asalkan kau tidak membocorkan masalah ini Tolong sekali ini saja, Milaine," lirih Mayra bersujud di bawah kaki Milaine.


Milaine tersenyum miring. "Kau memohon kepadaku? Sayang sekali, aku tidak punya rasa kasihan terhadap orang seperti dirimu. Aku hanya bisa mendoakanmu untuk segera menemui alam kematian."

__ADS_1


"Tidak. Tolong Milaine, aku mohon padamu. Tolong dengarkan permintaanku kali ini saja. Selama ini aku hanya disuruh, tidak lebih dari itu. Aku mengaku salah karena aku tidak pernah baik padamu. Aku menyesalinya, tolong beri aku kesempatan memperbaiki kesalahanku."


Dingin. Milaine sungguh dingin. Dia tak merasa tertarik sedikit pun mendengar ocehan Mayra. Dia tak merasa kasihan meski wanita itu bersujud memohon pengampunan darinya.


"Memangnya kau pikir aku peduli? Oh, apakah ketika Kakak dan Bibiku dulu bersujud padamu, kau pernah menunjukkan belas kasihmu? Jangan kau pikir aku melupakan segala perlakuan burukmu di masa lalu."


Milaine membawa dendam mendalam. Dia ingin bagaimana dulu mendiang Kakak dan Bibinya selalu diperlakukan semena-mena oleh Mayra. Tanpa ampun, wanita itu malah menciptakan kondisi di mana reputasi mereka menjadi semakin buruk di mata orang lain.


Mayra mencoba tetap tenang. Dia memang melakukan itu semua demi menjatuhkan hidup saudara dan Bibi Milaine. Dia menganggap bahwa kedua saudara Milaine merupakan ancaman besar terhadap pertumbuhan sang putra, Deon.


Maka dari itu, ketika Kakak Milaine mati, dia menjadi orang yang paling bahagia ketika itu. Setidaknya, hambatan besar hilang dalam sekejap tanpa dia harus turun tangan membereskannya.

__ADS_1


"Aku tidak bermaksud seperti itu. Ampuni aku, tolong maafkan aku," kata Mayra dengan bibir bergetar.


"Kau harusnya meminta maaf kepada Kakak dan Bibiku. Supaya kau bisa meminta maaf langsung kepada mereka, maka kau harus mati untuk menemui mereka."


Milaine tersenyum menyeramkan. Mayra tidak punya jalan keluar dari sana. Hanya ada perangkap yang telah disiapkan di penjuru gedung tersebut.


"Milaine, jangan bunuh aku. Jangan adukan aku kepada Tuan. Apa pun akan aku lakukan asalkan kau tidak membunuh dan mengadukanku kepada Tuan. Tolong, sekali ini saja, aku mohon."


Milaine menendang Mayra hingga membentur tembok. Tiada rasa kasihan tertoreh di mata Milaine tatkala Mayra mencoba meluluhkan hatinya.


"Tidak. Aku tidak mau menuruti keinginanmu. Simpan saja itu semua untuk kau bawa ke neraka."

__ADS_1


__ADS_2