Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Bertemu Arthyn Lagi


__ADS_3

Milaine duduk bersantai di depan halaman paviliun. Kebetulan di halaman paviliun terdapat taman bunga yang sangat cantik dan menyegarkan mata.


"Nona, biar saya membantu memijit Anda." Halia dengan senang hati membantu memijit punggung Milaine. Dia selalu saja seperti ini ketika Milaine sedang bersantai.


"Kenapa kau selalu senang setiap kali memijitku?"


Halia tersenyum lebar. "Karena dengan begini setidaknya saya bisa membantu meringankan rasa lelah yang memberatkan tubuh Anda."


"Hmm, terima kasih. Kau memang baik hati."


Di saat sedang menikmati waktu tenang, Milaine tiba-tiba saja diganggu oleh sesosok wanita paling menjengkelkan. Wanita itu adalah Deysi, dia seperti sedang menahan marah tatkala menatap Milaine.


"Hei, apa kau sengaja membuat rusuh di paviliunku?! Berani sekali kau mengotori halamanku dengan sampah!"


Deysi marah-marah tak menentu. Milaine hanya menatap datar ke arahnya.


"Kau yang memulainya lebih dulu. Bukankah kau sengaja merusak spion mobilku lalu menebarkan sampah dedaunan di teras paviliunku? Apa kau pikir aku tidak tahu kelakuan busukmu itu?!"


Deysi membungkam seketika. Dia memang diam-diam menguji kesabaran Milaine. Padahal gadis itu hanya duduk manis saja dan tidak mengusik ketenangannya.

__ADS_1


"Aku tidak peduli! Aku melakukannya memang karena kau pantas mendapatkannya. Dasar kau pembunuh!"


Milaine memberi isyarat khusus kepada Aleda. Jemarinya bergerak membentuk sebuah kode yang mengatakan bahwa Aleda harus mengusir Deysi dari sini.


"Nyonya, sebaiknya Anda pergi dari sini sekarang juga," tekan Aleda.


"Apa? Beraninya kau mengusirku!" bentak Deysi.


"Tentu saja saya berani karena Nona sendiri yang meminta saya untuk mengusir Anda."


Aleda mendorong Deysi untuk segera beranjak meninggalkan paviliun kediaman Milaine. Awalnya dia menolak, tetapi Aleda memaksanya.


Milaine berdecak heran melihat Deysi. Dia sama sekali tidak mencerminkan pribadi seorang wanita dewasa. Dia selalu mencoba mengganggu Milaine setiap waktu ketikan gadis itu sedang lengah.


"Deysi ... Deysi ... kapan wanita menyebalkan itu sadar? Jika dia semakin berani menggangguku, maka mungkin saya itu akan berbalik padanya."


Hampir dua jam berselang, Milaine pun memutuskan untuk masuk ke dalam paviliun. Dia berencana menuju ke mansion utama. Ketika ia tengah berjalan di mansion, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Arthyn.


Pria itu menatap aneh Milaine. Lagi-lagi Milaine terjebak di situasi yang paling ingin dia hindari selama ini sebab berurusan dengan Arthyn itu sangat merepotkan.

__ADS_1


"Milaine, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arthyn sembari tersenyum ramah.


"Apa pun yang aku lakukan di sini, itu bukan urusanmu. Tolong jangan berbicara lagi padaku! Aku muak melihatmu."


Sorot mata Milaine dipenuhi kemarahan dan kebencian. Arthyn sama saja dengan Ibunya yang bermuka dua. Tidak heran mengapa Arthyn begitu menyebalkan.


"Tunggu dulu, Milaine. Jangan pergi dulu! Kita harus berbicara sebentar." Arthyn menangkap pergelangan jangan Milaine.


"Jangan sentuh aku!" Milaine menyentak tangan Arthyn.


"Baiklah, aku tidak akan menyentuhmu."


Arthyn merasakan gejolak panas di hatinya saat melihat Milaine sedekat ini. Dia seperti seseorang yang terobsesi berat terhadap Milaine. Padahal mereka berdua adalah saudara satu Ayah.


"Ada apa? Cepat selesaikan!" Milaine mendesak Arthyn untuk segera berbicara.


Arthyn tersenyum licik. Lagi-lagi Milaine dibuat bingung oleh tatapan serta senyuman yang terkesan menyeramkan itu.


"Ada apa sebenarnya? Kenapa kau tidak kunjung berbicara?!"

__ADS_1


__ADS_2