
Ophelia tampak sedang sibuk berkutat di hadapan layar laptop dan ponsel. Dia mengutak-atik keyboard laptop seraya mendengarkan alunan musik.
Di tengah-tengah aktivitasnya, tiba-tiba ponselnya berdering dan itu adalah panggilan telepon dari Ervan. Buru-buru Ophelia mengangkat telepon tersebut.
"Ada apa?" Ophelia merespon dengan nada dingin. Dia sengaja bersikap dingin kepada Ervan demi menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
"Sedang apa kau sekarang?" tanya Ervan terdengar dari seberang ponsel bahwa pria itu sedang berada di salah satu bar di ibu kota.
"Aku sedang mengerjakan tugas. Kenapa? Apa ada yang salah?" Ophelia bertanya balik kepada Ervan.
"Tidak. Aku hanya ingin mengajakmu bertemu. Ada sesuatu yang hendak aku bicarakan dengamu," ucap Ervan.
"Memangnya apa?"
"Mengenai rencana kita melumpuhkan Milaine. Bagaimana dengan hal itu? Kita perlu mendiskusikan segera sebelum terlambat."
Ophelia menutup laptopnya. Dia mengalihkan fokus pada ponsel dan mengabaikan sebentar tentang tugasnya.
"Kau tahu sendiri kita tidak bisa melumpuhkan Milaine. Gadis itu sangat kuat, memangnya kau punya rencana apa sampai mengajak aku berdiskusi?"
__ADS_1
Di balik ponsel, Ervan mengangkat sudut bibirnya.
"Tenang saja. Aku sudah mendapatkan perintah dari beliau. Kita hanya perlu menunggu perintah lebih lanjut bagaimana kita harus bergerak berikutnya. Ingatlah, kau jangan sampai salah langkah menyerangnya lebih dulu. Kita tidak boleh ceroboh," tutur Ervan.
"Baiklah. Mari kita bicarakan lagi nanti."
Tanpa disadari Ophelia, seorang pelayan pria mendengar apa yang dibicarakannya dengan Ervan. Lekas pelayan pria itu pergi menemui Gazelle. Dia adalah mata-mata yang dikirim Gazelle untuk memantau pergerakan Ophelia. Siapa sangka kalau dia mendapatkan informasi penting seperti ini.
"Tuan Muda, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan," ujar si pelayan.
Gazelle yang sedang mengelap teropongnya sejenak mendengarkan apa yang hendak dibicarakan sang pelayan.
"Ada apa?"
"Saya mendengar Nona Ophelia berbicara dengan Tuan Muda Ervan di ponselnya. Mereka membicarakan soal cara melumpuhkan Nona Milaine."
Gazelle pun tercengang. Tidak percaya kalau Ophelia dan Ervan sungguh ingin menghabisi nyawa Milaine.
"Apa kau dengar rencana mereka?"
__ADS_1
Pelayan itu menggeleng pelan.
"Saya tidak tahu. Akan tetapi, mereka berkata akan bertemu nanti untuk membahas masalah ini."
Gazelle mengerutkan kening. Mimik mukanya mendadak serius.
"Ini sangat gawat. Pihak luar mulai bergerak menyerang Milaine. Apa tujuan mereka? Tidak mungkin mereka hanya ingin melumpuhkan Milaine tanpa alasan yang jelas. Aku harus mencari tahu lebih dalam lagi rencana mereka."
Gazelle menoleh ke arah pelayan tersebut. Dia ingin memberikan perintah baru kepada pelayan itu.
"Jangan lepaskan pandanhanmu dari Ophelia. Kau harus mengamatinya lebih dalam dan segera laporkan padaku bila kau tahu kapan mereka bertemu. Aku ingin menyelidiki langsung masalah ini."
"Baik, Tuan Muda saya akan segera melaksanakan perintah Anda."
Pelayan tersebut pergi dari kamar Gazelle. Sekarang Gazelle harus memutar otak memikirkan bagaimana cara melindungi Milaine. Walaupun Milaine kuat, dia tetap punya batas dalam menghadapi manusia dalam jumlah banyak.
"Aku takkan membiarkan Milaine terluka. Apa pun jenis rencana kalian, aku akan menggagalkannya."
Gazelle mendudukkan diri sejenak di atas sofa. Dia menghela napas lelah setelah seharian sibuk di luar mansion.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus bekerja sama dengan para bajing*n itu."