Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Perkumpulan Para Gadis


__ADS_3

Mendengar teriakan Luke, Gizdo bersegera menghampirinya. Dia menyuruh Luke membawa Milaine ke dalam kamar untuk memeriksanya. Luke menunggu sampai Gizdo menyelesaikan pengecekan badan Milaine.


“Nona Milaine baik-baik saja. Beliau demam karena kelelahan. Anda tidak perlu khawatir, selepas meminum obat suhu tubuh Nona akan kembali normal,” jelas Gizdo.


Luke akhirnya bisa bernapas lega saat mendengar hasil pemeriksaan Gizdo. Setidaknya, tak ada hal buruk yang menimpa Milaine. Kelelahan akibat lupa beristirahat membawanya ke kondisi di mana dia harus berbaring di tempat tidur selama beberapa hari.


Luke menemani Milaine, hanya dia seorang yang berada di sekitar Milaine saat ini. Sejenak ia merasakan hawa kesunyian di kediaman Milaine. Bahkan, Luke tak mendengar sedikit pun derap kaki melangkah mengisi sunyinya suasana.


“Tidak ada seorang pun pelayan yang bersedia melayani Nona. Nyonya Fiona juga tak peduli terhadap kondisi beliau. Padahal Nona berjuang demi menyelamatkan Nigel. Aku sungguh tidak terima Nona diperlakukan semena-mena seperti ini,” gumam Luke, jengkel.


Bola mata Luke mengedar ke setiap sudut kamar. Tidak ada barang mewah atau sesuatu yang berharga di sana. Hanya terlihat warna polos dari dinding kamar disertai sejumlah kotak senjata pemberian Yuria, sang Bibi.


“Luke, apa yang sedang kau pikirkan? Jangan-jangan kau mengasihaniku?”


Luke terperangah mendengar suara Milaine membuyarkan lamunannya. Gadis itu telah sadar sesudah dua jam pingsan.


“Bukan begitu, Nona. Saya selama ini tidak pernah masuk ke kamar Anda. Jadi, saya sedikit kaget karena penampakan kamar Anda jauh berbeda dari kamar gadis pada umumnya.”


Milaine mengulas senyum tipis. Dia memang tidak pernah mempunyai pikiran untuk menghiasi kamar sebab waktunya dahulu selalu tersita oleh latihan yang keras. Tiada waktu baginya memikirkan hal-hal yang tidak berguna.


“Kamarku terlalu polos, tetapi aku menyukainya. Setidaknya di sini lebih tenang dan jauh dari kebisingan dunia luar,” tutur Milaine.


“Namun, apa ini tidak sedikit keterlaluan? Bagaimana bisa tak ada satu pun pelayan melayani Anda? Padahal mansion Tuan Lysander sebesar ini, harta kekayaannya melimpah ruah tak terhingga. Rasanya sangat tidak adil Anda diperlakukan seperti ini,” ujar Luke, tertunduk sendu.


Kedua tangan Milaine mengapit pipi Luke. Pria itu selalu bertingkah demikian kala Milaine dihadapkan pada ketidakadilan.


“Dengar, Luke! Aku bisa mengurus diriku sendiri dan aku tidak memerlukan pelayan. Aku tak bisa mempercayai pelayan mansion ini. Apakah kau tahu kenapa? Pengkhianat itu selalu datang dari orang-orang yang memihak calon pewaris yang lain. Aku tidak punya pendukung di sini sehingga lebih aman bagiku kala tak ada seorang pun berlalu lalang di kamarku.”


Luke menyentuh punggung tangan Milaine. Di matanya Milaine benar-benar seorang wanita yang tangguh.

__ADS_1


“Tetap saja Anda akan butuh seseorang nanti. Tolong hubungi saya kalau Anda memerlukan bantuan seseorang,” ucap Luke.


Milaine mengangguk sambil menjawab, “Iya, Luke. Aku mengandalkanmu sebagai sosok yang selalu berada di sampingku.”


Kemudian mereka melanjutkan obrolan mereka sebentar sampai akhirnya Luke terpaksa undur diri karena ada sesuatu yang perlu ia lakukan. Lalu Milaine turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah laci meja rias. Di sana dia mengambil sebuah kotak berisikan sejumlah jarum.


“Aku harus memeriksa sendiri darah Nigel. Apabila kecurigaanku terbukti benar, maka akan aku hancurkan orang yang berani mengganti obat Nigel dengan racun.”


***


Tiga hari berlalu, sesuai janji Milaine kepada Ophelia, hari ini ia menghadiri acara perkumpulan para gadis yang berlokasi di sebuah hotel mewah di pusat kota. Milaine datang sendirian mengendarai mobil. Penampilannya terlihat sangat simpel dengan mini dress berwarna maroon. Sebelumnya, Milaine mempersiapkan diri untuk menghadapi sikap para Nona yang mungkin saja akan menyudutkan dirinya nanti.


“Wah, lihat siapa ini yang datang.”


Athia yang juga diundang ke acara perkumpulan ini langsung menyambut Milaine dengan tidak ramah. Milaine hanya memandang rendah Athia, dia tak tersinggung sama sekali atas sambutan tersebut.


“Rupanya kau sudah sehat. Aku pikir kau akan terus berbaring sampai mati di ranjang rumah sakit,” balas Milaine membuat Athia tertohok.


Athia mendorong kasar Milaine, tetapi Milaine menahannya dan mendorong balik Athia hingga membuat gadis itu terjerembab ke atas lantai.


“Kurang ajar!  Aku akan mengusirmu dari sin—”


“Siapa yang kau coba usir?”


Athia sesaat terdiam ketika Ophelia baru saja datang menghentikan rencana pengusiran kepada Milaine. Kebisingan berubah menjadi hening, tentu saja ini disebabkan karena mereka takut sekaligus segan terhadap Ophelia.


“Apakah kau ingin protes karena aku mengundang Milaine ke perkumpulan ini? Rupanya kau ini sangat lancang ya, Athia,” tekan Ophelia, melotot tajam.


"Tidak, Nona. Saya tidak bermaksud demikian. Saya hanya ingin menyapa Milaine saja," dalih Athia.

__ADS_1


Ophelia tak percaya dengan dalih Athia. Dia tahu pasti bagaimana hubungan antara Athia dan Milaine.


"Ya sudah, lupakan saja. Aku takkan membahasnya lagi. Sekarang silakan duduk, kita akan memulai acaranya."


Ophelia mempersilakan seluruh gadis untuk duduk di bangku yang telah disediakan. Pemandangan asing bagi Milaine berada di tengah-tengah para Nona calon pewaris perusahaan.


"Terima kasih karena telah menyempatkan datang ke acara perkumpulan malam hari ini. Tampaknya kalian mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk memenuhi undangan dariku," ujar Ophelia membuka awal acara perkumpulan.


Para pelayan satu persatu masuk menyajikan makanan kepada setiap orang. Terlihat dari luar saja sudah jelas kalau seluruh makanan yang terhidang tersebut ialah makanan mahal.


Ophelia langsung menyuruh para gadis untuk mencicipi hidangannya. Lalu di pertengahan suasana itu, sesuatu tak terduga terjadi.


Athia dengan sengaja mendorong seorang pelayan wanita sampai terjatuh. Padahal pelayan itu tidak melakukan kesalahan apa pun. Namun, Athia yang punya sifat jahat mencari gara-gara untuk melukai si pelayan.


"Dasar pelayan rendahan! Kau baru saja menginjak sepatu mahalku. Bahkan, gajimu saja tidak cukup untuk membeli sepatuku ini," hardik Athia.


"Mohon maafkan saya, Nona. Saya tidak sengaja menginjaknya."


Pelayan itu berlutut seraya memohon pengampunan dari Athia. Akan tetapi, Athia tak menghiraukan permintaan maaf sang pelayan.


"Maaf? Aku tidak butuh maaf darimu! Sekarang cepat jilat sepatuku sampai bersih."


Pelayan itu tercengang mendengar perintah Athia. Sekujur badannya gemetar karena rasa takut perlahan menguasai kepalanya.


"Nona, tetapi saya—"


"Tidak ada yang perlu kau bicarakan. Jilat sepatuku atau aku akan menuntut ganti rugi yang besar kepadamu," tegas Athia.


Mirisnya, tidak ada satu orang pun yang menghentikan aksi gila Athia. Milaine tidak tahan melihatnya, ia pun bangkit dari tempat duduknya lalu mendekati Athia.

__ADS_1


"Sebaiknya kau hentikan sekarang tingkah kekanak-kanakkanmu itu. Aku paling benci terlibat di situasi tak berguna seperti ini."


Milaine pun mengguyurkan satu mangkuk sup ke pakaian Athia. Seisi ruangan ternganga menyaksikan hal tersebut.


__ADS_2