Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Ledakan di Mansion Utama


__ADS_3

Arthyn menyudutkan Milaine ke permukaan tembok lorong. Jemarinya perlahan menyentuh dagu Milaine. Senyum nan merekah di bibir Arthyn membuat Milaine risih. Sebuah senyum menyeramkan hingga pandangan obsesi mematikan.


"Berhentilah tersenyum dan menatapku, pria sialan!"


Milaine yang tidak tahan pada akhirnya melepaskan pukulan di perut Arthyn. Pria itu menahan sakit akibat pukulan Milaine yang amat kuat.


Arthyn meraba perutnya, dia masih saja bisa tersenyum di sela rasa sakit. Milaine sontak menjauh pergi dari pandangan Arthyn. Namun, pria itu mengejarnya lalu menangkap pergelangan tangannya. Hal yang lebih mengejutkan lagi, Arthyn mendekap Milaine dari belakang.


"Jangan terlalu kasar padaku. Apabila kau tetap bersikap kasar, maka jangan salahkan aku semakin menyukaimu."


Suara Arthyn berbisik, menyapu daun telinga Milaine. Suasana kian menegang, perasaan dan pikiran gadis itu mendadak dikacaukan hanya dalam beberapa detik saja.


"Bajing*n! Aku sudah mengatakan berulang kali, jangan pernah menyentuhku! Aku tidak sudi merasakan tanganmu membelai kulitku!"


Milaine marah besar. Dia berhasil lepas dari pelukan Arthyn. Sebelum ia pergi dari sana, Milaine sekali lagi memukul wajah Arthyn sampai terluka. Arthyn pun tersungkur di lantai.


Sementara pria itu masih belum bangkit dari posisinya, Milaine bergegas pergi dari hadapan Arthyn. Sayangnya, dia tidak membawa senjata khusus yang dapat menghabisi nyawa Arthyn dalam sekali serang.


"Milaine ... gadis itu semakin menarik saja."


Ekspresi Milaine tampak kusut. Sepanjang jalan menuju paviliun kediamannya, ia terus bergumam dan mengutuk Arthyn.


"Kenapa dia selalu seperti itu setiap kali bertemu denganku? Dia selalu menjaga sikap di hadapan banyak orang, tetapi berbeda jika aku dan dia hanya berdua saja. Menjijikkan ... sangat menjijikkan," gumam Milaine.


Kemudian di persimpangan menuju kamarnya, Milaine melihat Aleda dari kejauhan sedang memapah seorang pelayan yang terluka parah. Milaine lekas berlari ke arah Aleda, memastikan siapa yang ia bawa kemari.


"Aleda, apa yang terjadi? Siapa yang kau bawa itu?" tanya Milaine.


"Maafkan saya, Nona. Pelayan ini sepertinya disiksa oleh Nyonya Lisbeth. Saya melihat dia merangkak keluar dari sebuah ruangan dan kondisinya sangat memprihatinkan. Saya tidak bisa meninggalkannya di sana seorang diri," papar Aleda.


Pelayan itu merupakan pelayan yang tadi sempat disiksa oleh Lisbeth. Pelayan yang melakukan kesalahan kecil, akhirnya malah disiksa sebagai bentuk pelampiasan emosi Lisbeth terhadap Milaine.


"Cepat bawa dia ke dalam! Biar aku panggil Gizdo untuk memeriksa lukanya."


Milaine menghubungi Gizdo lewat panggilan telepon. Untung saja Gizdo sedang berada di waktu senggang sehingga ia dapat melakukan pemeriksaan terhadap kondisi si pelayan.


"Luka yang dia terima terbilang cukup parah. Saya tidak percaya Nyonya Lisbeth sekejam ini menghukum pelayan," ujar Gizdo.

__ADS_1


"Justru aku lebih tidak percaya karena tumben sekali dia tidak menyiksa pelayan sampai mati."


Gizdo sontak melirik Milaine. Dia menatap dengan mata penuh tanda tanya.


"Maksud Anda apa, Nona? Nyonya Lisbeth selama ini selalu memperlihatkan sikap baik terhadap pelayan di kediamannya. Saya sering berkunjung ke sana, tidak ada yang aneh dilakukan beliau."


"Tentu saja, itu karena kau tidak melihatnya. Tidakkah kau sadar? Ada banyak pelayan yang dilaporkan menghilang di kediamannya. Dia selalu beralasan bahwa pelayan yang menghilang itu mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas. Namun, sebenarnya dia menyiksa para pelayan sampai mati."


Gizdo membelalak kaget. Citra yang dibangun Lisbeth berhasil menipu penghuni mansion Lysander.


"Bagaimana Anda bisa mengetahuinya?"


"Aku pernah melihatnya dengan mata kepalaku sendiri."


Sorot mata Milaine menjelaskan bahwa dia tidaklah berbohong perihal masalah tersebut. Gizdo perlahan mulai mempercayai apa yang diutarakan Milaine terkait Lisbeth.


"Jadi, ketenangannya hanyalah sebuah topeng menutupi kebejatannya? Ternyata semua orang di kediaman ini sama saja. Mereka tidak memikirkan perasaan orang kecil seperti pelayan yang banting tulang demi keluarga," kata Gizdo.


Milaine hanya diam mendengar Gizdo berkata demikian sebab tak ada yang salah dari ucapannya. Milaine pun terkadang seperti itu. Hanya saja, para pelayan atau pun penjaga yang ia bunuh ialah orang-orang yang mengusik ketenangannya.


Lalu Gizdo meresepkan obat untuk diberikan ke si pelayan itu. Sementara waktu, Aleda yang akan menjaganya. Namun, ada sesuatu yang cukup mengganggu pikiran Milaine. Wajah gadis pelayan itu terlihat familiar di ingatannya.


Kemudian terlintas di ingatannya wajah Bibinya yang meninggal, dulu pernah bekerja sebagai pelayan. Bibinya itu bernama Shania, dia sekaligus pengasuh Milaine dahulunya.


"Bibi Shania pernah membawa seorang pelayan kecil berusia tiga tahun lebih tua dariku. Mungkinkah pelayan itu adalah dia? Ya, aku tidak mungkin salah ingat."


Ketika Milaine tengah berpikir keras, terdengar suara dentuman keras mengarah ke mansion utama kediaman Lysander. Tanpa berpikir panjang, Milaine menjangkau sebuah pistol serta sebilah pedang yang sengaja ia taruh tidak jauh darinya berada.


"Ada apa di mansion utama? Apakah ada sesuatu yang terjadi kepada Ayah?"


Milaine memacu langkah kakinya ke lokasi keberadaan Conrad. Di sana sudah banyak sekali orang yang berkumpul.


"Apa yang terjadi? Suara apa itu barusan?" tanya Milaine.


Pertanyaannya langsung terjawab begitu dirinya menemukan Conrad terkapar di atas tanah halaman mansion. Kepalanya mengeluarkan banyak darah. Kedua tangan Conrad memeluk cokelat pemberian Milaine.


"Ayah ... AYAH ...!" Milaine berteriak sekencang-kencangnya.

__ADS_1


Gadis itu buru-buru membawa Conrad ke pakuannya. Tidak hanya Conrad yang menjadi korban, bahkan ada beberapa orang penjaga yang tewas di sama.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa yang melakukan ini? Katakan padaku!"


Amarah Milaine memburu keluar. Dia menatap tajam satu persatu orang yang berada di sana. Akan tetapi, tidak ada yang mampu memberi penjelasan.


"N-Nona ... N-Nona ...."


Refleks Milaine mengedarkan pandangan. Samar-samar dia mendengar suara Veno yang memanggil dirinya. Ternyata tidak jauh dari tempat Conrad terluka, Veno juga ada di sana. Kondisinya tidak begitu parah, hanya saja lukanya membuatnya nyaris kehilangan kesadaran.


"Veno! Apa yang terjadi? Bisakah kau memberi tahuku?"


"Nona, tadi ada seseorang yang datang menemui Tuan. Saya tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Hanya saja setelah itu, terjadi perseteruan di antara mereka. Sampai salah satunya mengeluarkan sebuah bola kecil, ledakan pun terjadi. Tampaknya itu adalah bom berdaya hancur pendek," jelas Veno dengan napas terputus-putus.


Milaine mengambil napas sejenak seraya mengatur emosi yang nyaris mencapai puncak.


"Baiklah, aku paham sekarang. Istirahatlah dahulu, biar aku yang mengurus sisanya."


Milaine segera memerintahkan beberapa orang untuk membawa semua yang terluka ke rumah sakit. Tidak mungkin melakukan perawatan di mansion untuk luka separah itu. Terlebih lagi, Gizdo baru saja berangkat ke rumah sakit tempatnya bekerja. Jadi, tak ada satu pun tenaga medis di kediaman Lysander saat ini.


"Nona, apa yang terjadi pada Tuan?" Luke baru saja datang dan langsung bertanya kepada Milaine tentang situasi kala itu.


"Tampaknya ada musuh yang terang-terangan mengincar nyawa Ayah. Luke, kita harus memperkuat keamanan mansion. Aku akan menghubungi seseorang."


Milaine beranjak pergi dari lokasi kejadian. Dia tidak mungkin bisa tenang sebelum menemukan titik terang soal pelaku yang mencelakai sang Ayah.


"Halo, Dahlia. Ini aku Milaine, bisakah kita bertemu sebentar? Ada sesuatu yang hendak aku bahas denganmu."


Milaine menghubungi seseorang yang bernama Dahlia. Terdengar suara seorang wanita dewasa di seberang telepon.


"Baik, Nona. Silakan tentukan tempat pertemuan kita. Saya akan segera menemui Anda nanti."


"Ya, aku akan mengabari lokasi titik pertemuan kita nanti."


Milaine mengakhiri panggilan teleponnya. Dia langsung mengirim pesan singkat perihal lokasi pertemuannya dengan Dahlia. Mereka berencana bertemu di sebuah bar yang jauh dari keramaian.


"Luke, ayo pergi denganku. Dan Aleda, jaga baik-baik keamanan paviliun. Jangan sampai lengah dan jangan turunkan kewaspadaanmu. Aku khawatir, orang-orang itu akan mengincar nyawaku," perintah Milaine.

__ADS_1


"Baik, Nona. Serahkan saja kepada saya keamanan paviliun ini."


Milaine dan Luke segera berangkat ke titik pertemuan. Mereka terpaksa melakukan penyamaran supaya tidak ada orang yang mengenali mereka. Apalagi warna rambut Milaine sangat mencolok. Banyak orang yang mudah mengenali Milaine hanya dari warna rambut atau mata.


__ADS_2