
Tepat sebelum anak panah itu mengenai Milaine, Lloyd bergerak cepat memotong anak panah tersebut menggunakan pedang miliknya. Untung saja dia datang tepat waktu sehingga dia bisa menyelamatkan Milaine.
"Apa kau baik-baik saja?" Lloyd tampak sangat mengkhawatirkan kondisi Milaine.
"Aku baik-baik saja. Terima kasih, kalau bukan karena kau mungkin aku sudah terluka parah tadi."
Lloyd memperhatikan tubuh Milaine. Wajah gadis itu terlihat pucat, tangannya penuh luka. Melihat ini saja Lloyd langsung tahu bahwa sebelum ke sini Milaine dicegat lagi oleh para pembunuh.
"Kenapa mereka begitu kejam kepadamu? Mereka tidak memberimu waktu untuk bernapas. Aku tidak bisa membiarkanmu dilukai lagi oleh mereka."
Kedua mata Lloyd berkaca-kaca. Mendengar kalimat tersirat simpati dari Lloyd membuat Milaine merasa sedikit bersyukur. Rupanya masih ada orang yang begitu mengkhawatirkan keadaannya.
"Ini sudah takdirku. Kau tidak perlu merasa sedih begitu. Aku cukup bersyukur sampai saat ini masih hidup. Setidaknya, dengan adanya aku, Nigel dapat hidup lebih panjang."
Betapa tegarnya hati Milaine. Berulang kali dihadapkan pada kematian dan berulang kali dihantam kenyataan yang tidak berpihak kepada dirinya. Akan tetapi, ia masih sanggup mengukir senyum demi menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.
"Mau sampai kapan kau akan berjuang demi orang lain? Kau bahkan sampai melupakan kebahagiaanmu sendiri," ujar Lloyd.
"Lloyd, aku sudah berjanji kepada Kakak dan Bibiku, aku berjanji akan melindungi Nigel. Satu-satunya alasan kenapa aku bertahan ialah Nigel. Apabila Nigel selamat, maka itu berarti aku juga menyelamatkan hidupku dari takdir buruk."
Lagi-lagi Milaine tersenyum. Dia berpikir dengan tersenyum dapat menghilangkan kekhawatiran Lloyd. Namun, nyatanya perasaan Lloyd menjadi lebih berkecamuk.
"Kalau begitu, aku akan membantumu. Pasti sulit melangkah sendirian menghadapi kesulitan. Aku akan melindungimu, jadi jika terjadi sesuatu kau harus menghubungiku. Kau paham?"
Milaine mengangguk pelan. "Iya, aku paham. Terima kasih atas perhatianmu."
"Ya, sekarang aku akan mengantarmu pulang. Aku tidak mau terjadi sesuatu yang buruk lagi di jalan."
Lloyd memerintahkan beberapa orang untuk mengawasi mereka selama berada di jalan. Milaine terlihat tenang, meski mendapatkan luka yang banyak di medan pertempuran.
"Lloyd, kau juga pernah bertemu aku di masa lalu kan? Kapan aku bertemu dirimu?" Terlintas pertanyaan tersebut di kepala Milaine, ia penasaran pertemuan pertamanya dengan Lloyd seperti apa.
"Iya, kau ingat tidak? Dulu kau pernah menyelamatkan seorang anak laki-laki yang hampir jatuh dari jurang?"
__ADS_1
Milaine tersentak, mana mungkin dia bisa melupakan momen menegangkan itu. Dia masih ingat jelas bagaimana dia menarik anak laki-laki yang nyaris masuk ke jurang nan curam.
"Kau anak yang aku selamatkan waktu itu?"
Lloyd mengangguk. "Benar, kalau bukan karena kau, mungkin aku sudah mati karena terjatuh dari jurang."
Kala itu Milaine kebetulan berada di sekitar hutan. Dia berjalan masuk lebih dalam karena mendengar suara teriakan seorang anak laki-laki. Milaine yang penasaran akan teriakan tersebut, akhirnya menemukan Lloyd yang bergelantungan di tepi jurang.
"Astaga, bagaimana bisa kau bergelantungan di tempat seperti ini?" Milaine terlihat terkejut.
"Tolong aku! Aku didorong ke jurang oleh saudaraku. Aku mohon ...."
Kala itu Lloyd menangis sekaligus putus asa terhadap hidupnya. Namun, Milaine dengan berani datang menyelamatkan dia dari tebing kematian.
"Tunggu sebentar, biar aku membantumu."
Pada saat itu, Milaine untungnya membawa tali di tasnya. Dia mengikat tali itu ke sebuah pohon besar lalu memberikan ujung talinya kepada Lloyd.
"Pegang tali itu biar aku tarik kau ke atas," seru Milaine.
"Apa kau baik-baik saja? Yang tadi itu benar-benar menegangkan."
Lloyd masih mengatur irama napas yang tersengal-sengal. Sepasang netranya menatap lama ke arah Milaine.
"Aku baik-baik saja, tetapi mengapa kau bisa ada di sini?" tanya Lloyd balik.
"Aku tadi mendengar teriakanmu dan langsung pergi kemari. Untung saja aku tiba tepat waktu. Kau bilang saudaramu mendorongmu? Mungkinkah dia berencana membunuhmu?"
Raut muka Lloyd tampak sendu. Memang benar, Ervanlah yang telah mendorongnya ke jurang.
"Iya, aku ini anak haram. Kehadiranku di mansion hanyalah sebatas hama saja, tidak lebih dari itu," tutur Lloyd.
"Ternyata begitu? Bagaimana kalau kau kembali sekarang? Aku akan mengantarmu."
__ADS_1
Lloyd menggeleng pelan. "Aku tidak mau kembali ke sana lagi. Tempat itu mengerikan, aku tidak yakin bisa hidup lebih lama jika aku tinggal di sana."
Milaine pun duduk di sebelah Lloyd. Dia tidak tahu apa yang telah dilalui Lloyd selama ini. Hanya saja, Milaine ingin mendorong semangat juang Lloyd supaya tidak membiarkan saudaranya mengambil tempatnya.
"Wajar kau takut, tetapi jika kau terus takut maka saudaramu akan memakanmu. Lawan saja, lupakan statusmu sebagai seorang anak haram. Berjuanglah selagi bisa. Hajar mereka yang menyakitimu. Kau bisa melakukan itu jika kau bertekad membalaskan rasa sakitmu."
Ucapan Milaine tepat mengenai hati Lloyd. Dia menemukan seberkas harapan baru dari gadis itu.
"Aku rasa kau benar, aku tidak boleh menyerah!"
Lloyd berdiri dari tempatnya duduk. Keputusasaan di diri Lloyd perlahan memudar.
"Iya, kau tidak boleh menyerah."
Seusainya, Milaine mengantarkan Lloyd ke depan gerbang kediaman keluarga Velmilish. Ada hal yang sangat disayangkan Lloyd yaitu dia belum sempat berkenalan dengan penyelamatnya. Namun, dia mengenal Milaine ketika kabar soal Milaine menyebar di negeri ini.
"Aku baru ingat kalau anak itu kau. Wajar saja, waktu itu malam hari, jadi wajahmu sedikit samar-samar terlihat di bawah sinar rembulan," ujar Milaine.
"Ya, tetapi sekarang kau sudah bertemu denganku."
Sepuluh menit kemudian, mereka akhirnya tiba di kediaman Lysander. Lloyd langsung pamit kembali pulang sesudah memastikan Milaine selamat sampai di mansion.
Di saat Milaine berjalan di lorong paviliun kediamannya, indera pendengaran Milaine menangkap suara rintihan kesakitan Halia. Lekas Milaine bergerak menuju sumber suara tersebut.
"Apa yang kau lakukan kepada pelayanku?!"
Milaine meneriaki Lisbeth yang sedang memukuli Halia. Sontak Lisbeth menoleh ke arah Milaine. Dia langsung melepaskan Halia dari cengkeraman tangannya.
"Pelayanmu? Anak ini adalah pelayanku. Beraninya kau merebut barang milikku," tekan Lisbeth.
"Kau sudah membuangnya, jadi sekarang dia milikku. Lalu kau dengan tidak tahu malunya malah ingin memungut sesuatu yang telah kau buang. Sekarang pergi kau dari sini sebelum aku bertindak lebih jauh lagi."
Milaine secara tegas mengusir Lisbeth. Wanita itu tidak bisa dibiarkan berlama-lama di sini karena akan mendatangkan kekacauan dalam suasana tenang.
__ADS_1
"Aku tidak peduli! Kembalikan dia lagi padaku! Aku tidak takut terhadap ancamanmu. Bagiku, kau hanyalah parasit yang bisa disingkirkan kapan saja aku mau."