Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Pertemuan Penuh Arti


__ADS_3

Milaine terdiam menatap Gazelle. Sejujurnya saja, ingatan masa kecil Milaine benar-benar kabur. Ada banyak hal yang tidak sengaja malah terlupakan olehnya. Akan tetapi, bila ada seseorang yang berinisiatif untuk membantu mengingatkannya maka dia bisa mengingatnya dengan baik.


"Maafkan aku, tetapi aku tidak ingat sama sekali. Bisakah kau membantuku untuk mengingatnya?"


Gazelle tidak marah atau pun kecewa. Dia sendiri juga tahu seberapa banyak trauma yang diterima Milaine ketika diri mereka masih belum saling mengenal.


"Anak yang di panti asuhan, anak yang hampir mati tertabrak mobil waktu itu. Apa kau mengingatnya? Aku tidak pernah melupakanmu sejak saat itu. Kau menyelamatkan nyawaku yang berharga."


Milaine menyusun potongan-potongan ingatan tentang Gazelle. Milaine ingat dulu pernah menyelamatkan seorang anak laki-laki yang hampir celaka ditabrak mobil.


"Kau anak yang aku selamatkan waktu itu? Aku tidak tahu kalau anak itu kau."


"Benarkah? Mungkin karena waktu mengubah segalanya. Sekarang aku bahkan jauh lebih tinggi darimu."


Milaine tidak menyangkalnya. Memang dulu ia lebih tinggi dari Gazelle, tetapi sekarang pria itu berubah menjadi pria berbadan besar. Milaine jadi bingung sendiri menyaksikan pertumbuhan Gazelle.


Memori Milaine berputar ke belakang. Mengingat masa di mana ia bertemu pertama kali dengan Gazelle.


Pada saat itu, Milaine tanpa sengaja melihat seorang anak kecil di jalan raya. Dia berdiri di tepi jalan dengan tatapan mata kosong. Kemudian tanpa ia sadar, Gazelle yang saat itu masih begitu kecil malah nekat menyeberang. Ketika itu pula sebuah mobil melaju cepat dari arah berlawan.

__ADS_1


"Awas!"


Milaine dengan cepat dan sigap menarik tangan Gazelle ke tepi jalan. Dia berhasil menyelamatkan Gazelle, tetapi lututnya jadi terluka akibat tersungkur ke aspal.


"Hei, apa kau baik-baik saja?" Milaine lebih mengkhawatirkan kondisi Gazelle dibanding kondisinya sendiri.


"Huh? Kau terluka! Ada banyak sekali darah!" Gazelle tiba-tiba syok melihat darah di lutut Milaine.


"Ini bukan apa-apa. Justru aku seharusnya bertanya padamu. Apa yang ada di pikiranmu sebenarnya? Apa kau mau mati?!"


Gazelle menggeleng pelan. "Tidak, aku tidak mau mati. Aku hanya ingin bertemu orang tuaku saja."


"Mereka sudah meninggal." Mata Gazelle berkaca-kaca ketika menjawab pertanyaan Milaine.


"Meninggal? Lalu sekarang kau tinggal di mana?"


Gazelle menunjuk ke sebuah gedung rumah tidak jauh dari tempat mereka berada.


"Panti asuhan? Kebetulan sekali, aku juga sedang ada urusan di sana. Bagaimana kalau kita pergi bersama?"

__ADS_1


Milaine bangkit dan mengulurkan tangannya untuk membantu Gazelle berdiri.


"Iya, mari kita pergi beraama."


Gazelle saat itu masih menjadi anak yang cengeng. Dia mudah sekali menangis saat tersandung masalah. Itulah sisi menggemaskan dari Gazelle yang diketahui Milaine.


Begitu mereka tiba di panti asuhan, Milaine menemani Gazelle bermain ayunan. Keduanya terlihat bahagia sekali. Hingga Milaine mengucapkan sesuatu yang membekas di hati Gazelle hingga dewasa.


"Gazelle, jangan berpikir untuk mati lagi ya. Kalau kau mati, nanti kita takkan bisa bertemu saat dewasa. Percayalah bahwa nanti mungkin saja akan ada seseorang yang datang membawa kebahagiaan untukmu."


Benar yang dikatakan Milaine, setelah itu dia diadopsi oleh keluarga Elles Group. Dia diperlakukan baik di sana, tetapi setelah sang Ayah angkat meninggal, semuanya berubah.


Demi tekadnya ingin bertemu Milaine, Gazelle bertahan dari segala jenis terjangan masalah. Sedikit pun ia tidak menyerah sampai ia berhasil tiba di titik sekarang.


"Aku benar-benar bersyukur bertemu denganmu lagi."


Gazelle mendekap erat tubuh Milaine. Di tengah kerumunan manusia, mereka pun menjadi tontonan orang lain.


"Ya, aku juga bersyukur, Gazelle."

__ADS_1


__ADS_2