
Milaine terlihat sedang terlelap, ia tertidur pulas seusai kembali dari acara perkumpulan para gadis. Walaupun ada beberapa masalah membuatnya jengkel, tetapi Milaine tak menjadikannya sebagai beban pikiran. Namun, di pertengahan ketenangan, tiba-tiba Milaine menunjukkan reaksi berbeda. Ketenangan di dalam tidurnya terusik oleh kenangan buruk di masa lalu.
Kegelisahan menerpa Milaine, satu persatu pecahan kenangan kelam merasuki alam bawah sadar Milaine. Dia melihat kedua Kakak laki-lakinya berjuang melawan pembunuh yang waktu itu mencegat mobil mereka saat pergi ke luar.
“Milaine, larilah! Kakak akan menahan mereka!”
“Pergi dari sini! Jangan sampai kau tertangkap oleh mereka!”
Masih teringat jelas bagaimana Kakaknya, Rupert dan Kreis menghadang kelompok pembunuh yang mengepung pergerakan mereka. Milaine saat itu berusia enam tahun hanya bisa menangis ketakutan.
“Tidak apa-apa, Milaine. Kakak sangat kuat, kau jangan menangis. Sekarang kau hanya perlu kabur dari sini sementara kami berdua mengalihkan perhatian mereka. Apa kau paham?”
“Tidak, Kak … aku tidak mau pergi sendirian … bagaimana kalau Kakak sampai terluka? Aku tidak mau Ibu marah lagi padaku.”
“Ibu takkan marah. Kami berdua akan melindungimu.”
Milaine kecil menggeleng, ia tidak pernah mendapatkan perlakuan baik dari sang Ibu sejak dia dilahirkan. Fiona menganggap anak perempuannya hanya akan menjadi beban bagi putranya saat persaingan ahli waris terjadi. Maka dari itu, Milaine sedari usia lima tahun diajarkan bagaimana caranya bertarung. Dia mendapatkan pelatihan yang sangat berat, tidak jarang ia terluka parah ketika melatih dirinya.
Pada kala itu, Rupert dan Kreis dibunuh oleh kelompok pembunuh tersebut. Milaine berharap masih ada harapan untuk membangunkan saudaranya dari kematian. Tiada henti ia mengguncang tubuh mereka berdua dan berteriak seraya menangis di bawah rintik hujan.
“Kakak … bangun! Kak, jangan tinggalkan aku. Aku takut … jika Kakak mati, siapa yang akan menyayangiku? Ibu membenciku, Ayah mengabaikanku, aku hanya punya kalian berdua. Kakak … jangan tinggalkan Milaine sendiri.”
Di waktu bersamaan, Milaine terbangun dari mimpi buruk dalam kondisi napas tersengal-sengal. Dia melihat ke arah jam dinding, ia terjaga tepat di pukul tiga dini hari. Milaine menyentuh dadanya, merasakan degup jantung yang tak karuan serta rasa sakit yang tidak bisa dijelaskan.
“Kenapa rasanya masih sakit, Tuhan? Tolong buat aku melupakan rasa sakitnya walau hanya sejenak … aku mohon ….”
Milaine memeluk lututnya, dia selalu takut untuk tidur sebab di waktu tidur inilah mimpi buruk tentang kenangan masa lalunya selalu mencoba menghancurkannya dari dalam. Perasaan Milaine selalu terkoyak seolah-olah kenangan itu menjadi sebuah kutukan melekat di dirinya sepanjang napas masih menderu.
***
__ADS_1
Milaine melewatkan sisa waktunya dengan merenungkan hal-hal yang menyakitkan. Sekarang Milaine sudah tiba di akademi. Dia melihat semua orang tampak tenang menjalani hidup mereka sebagai anak-anak yang disayangi orang tuanya masing-masing.
“Selamat pagi, anak-anak.”
Lamunan Milaine buyar ketika seorang Profesor masuk ke kelas membawa lembar soal ujian. Milaine menepuk kening, ia lupa kalau hari ini ada ujian. Namun, untung saja dia masih mengingat apa yang dia pelajari secara detail di otaknya.
“Sesuai apa yang saya katakan minggu lalu, hari ini kalian akan ujian. Saya harap tidak ada yang berbuat curang di kelas ini.”
Profesor yang bernama Corner tersebut menatap tajam Milaine. Entah atas alasan apa, ia selalu memusuhi Milaine semenjak gadis itu menginjakkan kaki di akademi.
‘Ada apa dengannya? Haruskah aku colok matanya agar dia tidak melihatku dengan tatapan buruk lagi?’ gerutu Milaine membatin.
Kemudian Corner membagikan lembar soal dan jawaban ke setiap meja. Pada saat sampai di meja Milaine, ia lagi-lagi memusuhi Milaine melalui tatapannya.
“Sebaiknya, jaga perilakumu selama belajar di akademi ini sebelum aku mempermalukanmu,” bisik Corner mengintimidasi Milaine.
Selepas itu, dia langsung pergi seakan-akan ia tak mengatakan apa pun kepada Milaine. Sedangkan Milaine tak bereaksi, gertakan Corner tidak mempan untuk hatinya yang sekeras batu dan tak kenal takut.
Milaine mengerjakan soal ujiannya dengan lancar tanpa ada hambatan. Bahkan, ia adalah orang pertama yang menyelesaikan ujian tersebut. Corner tercengang kala Milaine menaruh lembar jawaban ke mejanya.
“Aku sudah selesai. Bolehkah aku keluar sekarang?” tanya Milaine bernada datar.
“Kau sudah selesai? Aku yakin, kau pasti asal-asalan menulis jawabannya.”
Corner memeriksa satu persatu jawaban Milaine, ia terpaku kaget karena seluruh jawaban yang tertulis di lembar jawabannya benar tanpa sedikit pun kesalahan.
‘Bagaimana bisa dia menjawabnya dengan benar? Padahal ini adalah soal yang sangat sulit. Anak juara satu sekali pun takkan mampu menuliskan jawaban serinci ini. Apakah dia seorang jenius? Tidak! Aku tidak boleh lengah. Gadis ini harus segera disingkirkan bagaimana pun caranya,’ batin Corner.
Corner menaruh lembar jawaban Milaine dan mengubah ekspresinya menjadi datar.
__ADS_1
“Ya sudah, kau boleh keluar sekarang,” kata Corner.
“Baiklah, terima kasih.”
Begitu keluar dari kelas, Milaine segera menuju ke parkiran mobil. Dia berencana untuk pergi ke luar akademi sementara semua orang masih sibuk dengan ujiannya. Milaine mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sehingga ia bisa lebih cepat sampai pada tujuan.
Tujuan Milaine kali ini yaitu menuju pusat perbelanjaan di ibu kota. Untung saja jaraknya tidak terlalu jauh dari akademi sehingga Milaine tidak perlu terburu-buru kembali ke akademi nanti.
“Wah, tokonya sangat ramai.”
Milaine berhenti di depan toko kudapan yang akhir-akhir ini sangat terkenal di kalangan banyak orang. Milaine bermaksud membeli kudapan kesukaannya yaitu macaron. Sesampai di dalam toko, Milaine langsung memborong seluruh macaron yang tersisa serta membeli beberapa puding untuk diberikan nanti kepada Nigel.
“Aku yakin, Nigel pasti senang.”
Ketika Milaine hendak memasuki mobil, terdengar suara dentuman pistol dari arah salah satu toko yang berlokasi tak jauh dari tempatnya berdiri. Lekas Milaine menuju ke sumber datangnya suara, ia khawatir sesuatu yang membahayakan nyawa banyak orang.
“Mundur kalian semua! Kalau kalian nekat mendekat, maka aku akan menembak kepala gadis ini.”
Seorang pria berpakaian lusuh yang merupakan pelaku kriminal, menyandera seorang gadis kecil. Orang-orang yang berkerumunan terlihat sangat ketakutan kala pria itu mengancam mereka. Gadis kecil yang disanderanya, hanya bisa menangis menggigil takut.
Milaine tanpa rasa takut, melangkah mendekati si pria tersebut.
“Lepaskan gadis kecil itu!” tekan Milaine.
Seluruh pandangan kini tertuju pada Milaine, ia memancarkan aura keberanian.
“Apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan? Menjauh kau dariku sekarang sebelum aku tembak kepalamu itu.”
Pria itu menodongkan pistolnya ke arah Milaine. Namun, dengan gesit Milaine menangkap pergelangan tangan pria itu lalu memelintir kuat tangannya.
__ADS_1
“Jangan pernah bermain-main dengan pistol kalau kau tak mau pelurunya berbalik menembak kepalamu.”