
Milaine akhirnya mau tidak mau harus menerima pemberian Luke. Pria itu sangat tulus terhadapnya. Luke juga terlihat senang ketika barang pemberiannya diterima dengan hati gembira.
"Terima kasih, Luke." Lengkungan senyum sumringah di bibir Milaine sejenak membuat Luke lupa diri.
Lagi-lagi ia terpana oleh keindahan wajah dan senyum Milaine. Sontak Luke membuang muka, menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
'Bagaimana Nona bisa secantik itu? Aku jarang sekali melihatnya tersenyum. Seharusnya tadi aku mengabadikan senyum itu di ponselku. Sayangnya, aku tidak sempat untuk melakukannya,' batin Luke.
Sesaat kemudian, mereka berdua memutuskan untuk segera pulang. Selain barang belanjaan yang terlampau banyak, mereka juga ingin cepat kembali ke mansion.
"Nona, Anda sudah pulang? Bagaimana kondisi Tuan Muda? Apa beliau baik-baik saja?"
Kepulangan Milaine disambut oleh Halia dan Aleda. Mereka ingin tahu bagaimana kondisi Nigel saat ini.
"Ya, Adikku baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat untuk memulihkan dirinya," jawab Milaine. "Lalu ini untuk kalian. Aku membelinya tadi saat di mall." Milaine menyodorkan masing-masing satu kantong belanjaan kepada mereka berdua.
"Untuk kami?" Aleda dan Halia saling bersitatap. Mereka tidak pernah menerima hadiah seperti ini dari atasannya.
__ADS_1
Milaine mengangguk pelan. "Untuk kalian. Tolong terimalah. Aku tidak tahu akan sesuai dengan selera kalian atau tidak. Semoga saja kalian menyukainya."
Mereka berdua terlihat sangat senang. Tidak peduli apa pun hadiahnya, mereka amat menghargai pemberian Milaine.
Sementara itu, Luke tengah berada di kamarnya. Dia menyusun baik-baik semua yang tadi dibelikan oleh Milaine. Dia merasakan kebahagiaan setiap kali bisa bersantai dengan Milaine seperti tadi.
Seusainya, Luke duduk di atas kasur. Di sisi kiri tempat tidur terdapat sebuah meja yang di atasnya terpajang foto kedua orang tua Luke. Dia mengambil foto itu lalu menatap penuh kerinduan pada potret Ayah dan Ibunya.
"Ayah, Ibu ... aku mempunyai seorang wanita yang aku sukai. Hanya saja dia berbeda dariku. Apa aku salah menyukainya?"
"Dulu Nona Milaine membantuku saat aku sedang dirundung oleh si kembar. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku jika Nona tidak datang saat itu."
Sebuah kilas masa lalu melintas di kepala Luke. Dia melihat punggung kecil Milaine yang berupaya melindunginya dari kekejaman saudara laki-laki Milaine.
"Apa yang kalian lakukan?! Jangan pukuli dia lagi!"
Luke ketika itu sedang menangis tersedu-sedu menahan rasa sakit luar biasa di tubuhnya. Si kembar tidak memberinya celah untuk bergerak atau pun membiarkan Luke pergi dari hadapan mereka.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan? Menyingkir dari sana! Dia itu harus diberi pelajaran!"
"Tidak! Memangnya apa salah dia? Kalian tidak punya hak untuk menghukumnya!"
"Dasar tukang ikut campur! Jangan lindungi dia lagi, biarkan kami menyiksanya."
"Aku akan mengadukan kalian kepada Ayah kalau kalian masih nekat untuk menyiksanya. Kalian tahu sendiri dia ini dibawa langsung oleh Ayah kemari."
Mendengar ancaman dari Milaine, mereka pun memilih pergi dari sana. Luke akhirnya terselamatkan berkat Milaine.
Ketika itu pula, Milaine mengulurkan tangannya. Wajah cantik dengan untaian rambut panjang berwarna biru tua sejenak membuat Luke terpukau.
"Hei, apa kau baik-baik saja? Sini aku bantu berdiri."
Begitulah pertemuan pertama Luke dan Milaine hingga membuat Luke mati-matian menjaganya selalu.
"Saya akan melindungi Anda, Nona. Apa pun jenis masalah yang menerjang, saya takkan gentar memasang badan demi membuat Anda tetap aman," gumam Luke.
__ADS_1