Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Jebakan Ophelia


__ADS_3

“Apa-apaan kau ini, Milaine?! Beraninya kau mengotori gaunku yang berharga puluhan juta ini demi membela pelayan rendahan yang menginjak sepatuku!”


Milaine tertawa kencang. Entah mengapa hal ini terlihat lucu baginya. Semua orang kini satu persatu mulai berbisik buruk soal Milaine.


“Ya sudah, kalau begitu kau tinggal beli saja yang baru. Bukankah kau anak kesayangan CEO Germian Group? Gaun harga puluhan juta seharusnya barang yang mudah dibeli oleh Ayahmu, kan? Jadi, kenapa kau terlalu mempermasalahkannya?”


Muka Athia merah padam menahan marah kepada Milaine. Ingin rasanya ia memaki-maki Milaine, tetapi karena Ophelia menyaksikan keributan itu, maka Athia harus menahan diri agar tidak marah.


“Apa kau tidak tahu sulitnya aku mendapatkan gaun ini?! Ah, mana mungkin kau tahu karena kau bahkan tidak punya gaun mahal. Kasihan sekali, anak pelayan sepertimu memang lebih cocok memakai gaun murahan,” hina Athia dengan seringai senyum nan menyebalkan.


“Maafkan aku menyela, tetapi Athia, mini dress yang dikenakan Milaine itu bukanlah mini dress murahan. Jikalau aku tidak salah, mini dress itu didesain langsung oleh tangan ajaib perancang busana misterius bernama Hidary. Dia menghilang dari dunia desain bertahun-tahun lamanya, tidak disangka Milaine mengenakan mini dress buatan Hidary langsung,” sela Ophelia.


Mendadak seisi ruangan menjadi heboh. Tidak percaya mereka bisa mendengar nama Hidary lagi di sini. Sesosok desainer handal dengan karya yang selalu dikejar oleh banyak orang, bahkan tidak sedikit orang yang mengeluarkan uang miliaran demi mendapatkan gaun buatan Hidary.


‘Apakah Paman Hidary memang seterkenal itu? Aku tidak pernah mencari tahu soal dirinya. Selama di rumah sakit jiwa, Paman setiap tahun selalu membuatkan aku berbagai macam pakaian tanpa meminta bayaran kepadaku,’ batin Milaine mengamati gaun yang kini ia kenakan.


Athia merasa dipermalukan. Namun, dia tidak percaya mini dress milik Milaine dirancang oleh desainer ternama pada masanya.


“Apakah Anda yakin, Nona? Mini dress milik gadis ini tidak mungkin didesain langsung oleh Hidary,” bantah Athia meragukan pernyataan Ophelia.


“Apa kau baru saja menganggapku berbohong?” Ophelia melotot tajam menatap Athia. “Baiklah, biar aku perlihatkan padamu bukti bahwa mini dress itu buatan Hidary.”


Ophelia bangkit dari tempatnya duduk, ia menghampiri Milaine lalu meraih ujung mini dress milik Milaine.


“Biasanya Hidary menempatkan tanda khusus di ujung pakaian yang dia rancang. Lihatlah ini, ada lambang nama Hidary di mini dress Milaine,” lanjut Ophelia berucap membuktikannya.


Bola mata Athia melebar. Fakta tersebut tidak bisa dibantah atau ditepis, ada huruf HD di ujung mini dress Milaine. Artinya, itu memang rancangan Hidary sebab setiap pakaian yang dibuat Hidary selalu diberi tanda seperti itu di ujung pakaiannya.


“Mustahil … bagaimana kau bisa mendapatkan pakaian rancangan Hidary? Padahal selama ini kau hidup di rumah sakit jiwa,” ucap Athia.


Milaine menatap polos ke arah Athia. “Memangnya kenapa? Aku punya pakaian rancangan Hidary tiga lemari penuh.”

__ADS_1


Milaine benar-benar membuat semua orang syok bukan main. Mendapatkan satu jenis pakaian Hidary saja sangat susah, tetapi gadis itu mempunyai tiga lemari penuh pakaian rancangan Hidary yang berharga ratusan juta hingga miliaran.


“Wah, sungguh tidak disangka. Bagaimana cara kau mendapatkannya?” selidik Ophelia.


“Itu rahasia. Aku takkan memberi tahu siapa pun bagaimana caraku mendapatkannya,” jawab Milaine tersenyum polos.


Ophelia terlihat agak kesal dengan Milaine, padahal dia adalah salah satu orang yang menginginkan pakaian rancangan Hidary. Namun, apa daya, Milaine enggan memberi tahukan kepada dirinya.


Kemudian mendadak saja segelas jus ditumpahkan oleh Athia ke mini dress Milaine. Garis-garis wajah Milaine menegang murka, ekspresi datarnya sesaat memudar.


PLAK!


Tamparan Milaine bergema di ruangan hingga menyisakan luka di sudut bibir Athia.


“Sepertinya kau semakin didiamkan semakin keterlaluan. Aku bukanlah seseorang yang sabar dan bisa kau ganggu seenaknya saja,” murka Milaine.


“Sialan! Wanita jal*ng! Kau melukai wajah cantikku. Padahal—”


“Berhentilah mengoceh sebelum aku robek mulutmu itu,” tekan Milaine mengancam Athia.


“Tidak sepantasnya kau berada di tempat menjijikkan ini,” bisik Milaine ke telinga pelayan tersebut.


“Terima kasih, Nona,” lirih si pelayan.


“Jangan berterima kasih, aku tidak butuh itu. Lebih baik kau hantam saja mereka. Bukankah kau ahli dalam menggunakan senjata dan membunuh orang?”


Deg!


Ekpresi pelayan itu tampak gugup. Irama jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya. Melihat reaksi si pelayan membuat Milaine bertambah yakin bahwa dugaannya itu benar sepenuhnya.


“A-Apa maksud Anda?” tanya si pelayan gelagapan.

__ADS_1


“Tidak perlu berpura-pura. Mataku cukup ahli melihat kemampuan seseorang.”


Kemudian Milaine pergi meninggalkan ruangan begitu saja. Dia berencana mengganti pakaiannya. Untung saja ia punya pakaian cadangan karena ia telah memprediksi hal-hal semacam ini terjadi di acara memuakkan tersebut.


“Merepotkan sekali. Aku yakin Ophelia pasti sedang merencanakan sesuatu, itulah alasan dia mengundangku ke acara tidak berguna ini,” gerutu Milaine seraya menyimpan pakaian kotornya di dalam mobil.


Sesudah itu, Milaine kembali lagi ke dalam melanjutkan acara perkumpulan itu. Dia bertingkah seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi. Athia yang juga terpaksa berganti pakaian tidak menurunkan pandangan jengkel ke Milaine. Mungkin setelah ini dia akan membalas perbuatan Milaine terhadap dirinya.


Seusai acara, Ophelia menahan Milaine supaya tidak langsung pulang ke kediaman Lysander. Setiap tutur kata hingga gestur badannya menyiratkan bahwa memang ada sesuatu yang ia persiapkan untuk Milaine.


“Milaine, bisakah kita berbicara sebentar?” tanyanya.


“Apa yang ingin kau bicarakan?”


“Sebelum itu, pergilah ke ruangan paling ujung di lantai empat. Tidak mungkin aku berbicara di tempat terbuka seperti ini. Kau bisa pergi dahulu, nanti aku menyusulmu sebab ada sesuatu yang hendak aku urus,” kata Ophelia.


“Baiklah. Tolong jangan berlama-lama.”


Milaine menaiki lift menuju lantai empat. Di sana ia langsung membuka daun pintu memasuki ruangan yang dimaksud Ophelia. Ketika ia masuk ke dalam, Milaine dikejutkan oleh keberadaan puluhan pria di ruang tersebut. Tampaknya mereka sudah menunggu kedatangan Milaine sejak beberapa menit yang lalu.


“Jadi, ini yang direncanakan wanita sialan itu? Dia mencoba menguji kemampuanku,” gumam Milaine.


Berselang empat puluh menit, Ophelia pun berencana mengecek kondisi Milaine di ruangan penuh pembunuh yang telah ia sewa.


“Aku yakin dia takkan bisa menghadapi para pembunuh itu. Mereka adalah pembunuh terhebat yang aku bayar untuk menghajar gadis itu.”


Begitu Ophelia membuka pintu, dia sangat syok melihat pemandangan tumpukan mayat manusia di ruangan tersebut.


“Dia mengalahkan mereka semua? Ada di mana gadis itu sekarang?”


Ophelia mencari keberadaan Milaine di ruangan tersebut, tetapi tidak ia temukan keberadaan Milaine di sana. Ophelia menemukan sepucuk surat yang ditinggalkan Milaine untuk dirinya. Di atas surat itu ada sebuah garpu berlumuran darah.

__ADS_1


“Lain kali kirim pembunuh yang lebih hebat dari mereka. Sangat tidak menyenangkan mereka kalah hanya karena sebuah garpu yang diayunkan tangan gadis kecil sepertiku.”


Ophelia meremukkan kertas itu. “Kurang ajar! Dia jauh lebih tangguh dari dugaanku. Ditambah lagi dia mengalahkan mengalahkan mereka semua dengan menggunakan sebuah garpu.”


__ADS_2