Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Nigel Siuman


__ADS_3

"Harusnya tadi aku bunuh saja wanita menyebalkan itu. Tidak hanya dia, tetapi semua orang yang berada di kelas Milaine harus diberi pelajaran."


Albern dan Gazelle terus menggerutu sejak keluar dari kelas Milaine. Mereka menyayangkan kelembutan sikap mereka terhadap para penghuni kelas. Namun, Milaine sedikit lebih lega sebab dia tidak perlu repot turun tangan menghajar Athia.


"Luke, tolong ambilkan baju gantiku di mobil. Ini kuncinya," titah Milaine menyerahkan kunci mobilnya kepada Luke.


"Siap, Nona!"


Luke bergegas ke area parkiran. Sedangkan Milaine duduk sebentar di atas bangku kosong di dekat taman. Dia berulang kali menghela napas karena masalah yang tiada henti menerjang dirinya.


"Oh, apa yang kalian lakukan di sini? Sepertinya kalian sedang bersenang-senang saat jam pelajaran sedang berlangsung."


Serentak mereka menoleh ke arah datangnya suara. Ternyata yang berbicara barusan adalah Ophelia. Dia sengaja kemari saat melihat Milaine dari kejauhan.


"Apa urusannya denganmu? Apa kau sebegitu penasarannya dengan diriku?" balas Milaine berekspresi datar.


"Penasaran? Tidak. Aku hanya tidak sengaja lewat di sini. Sebagai senior yang baik, tentu saja aku harus menegur ketika juniornya melakukan kesalahan."


Milaine tersenyum miring. Ophelia, wanita itu mencoba sebaik mungkin menyembunyikan niat buruknya terhadap Milaine.


"Ophelia, kau suka sekali ikut campur urusan Milaine. Sebaiknya kau pergi sekarang sebelum aku sendiri yang turun tangan."


Gazelle menghadang Ophelia. Bagaimana pun juga mereka adalah saudara. Milaine tak berkomentar, dia hanya diam menyaksikan kebingungan Ophelia.


'Wanita itu tidak punya kekuatan yang cukup untuk melawan Gazelle. Nah, sampai mana sekarang kau bisa bertingkah? Orang yang paling kau hindari malah bertemu denganmu seperti ini,' batin Milaine.


Ophelia beringsut mundur ke belakang. Dia memilih untuk tidak membuat masalah dengan Gazelle.

__ADS_1


"Sialan! Kenapa kau selalu saja menghalangiku?!" bentak Ophelia tampak kesal.


"Itu karena kau mencoba mengusik Milaine. Kau mau aku pukul seperti waktu itu?" Gazelle sengaja mengancam Ophelia.


"Ahh, bajing*n! Aku akan pergi sekarang."


Gazelle tersenyum bangga karena dia berhasil mengusir Ophelia.


"Kenapa wanita gila itu takut sekali denganmu? Apa yang kau lakukan padanya sampai dia enggan berurusan denganmu?" tanya Lloyd.


"Tidak ada, aku hanya sering menjahilinya. Terkadang aku sengaja membuang puluhan ulat bulu dan cacing ke kepalanya dari atas helikopter. Terkadang juga aku menerornya dengan suara hantu. Ah, kadang-kadang aku menakuti dia saat sedang melancarkan aksi jahatnya."


Milaine tidak percaya kalau Ophelia takut dengan semua itu. Rasanya ingin sekali menertawakan gadis yang selalu mencari perkara dengannya.


"Ophelia ternyata sangat penakut. Aku pikir dia gadis pemberani," kata Milaine.


"Pemberani apanya? Dia cuma sok berkuasa saja. Aku akui, dia memang pandai bertarung dan membunuh, tetapi dia tetaplah seorang wanita lemah yang takut dengan berbagai macam hal," tutur Gazelle.


"Ya, kalau dia macam-macam terhadap dirimu, katakan saja padaku biar aku memberinya pelajaran berharga."


Milaine hanya tersenyum lembut. Dia bersyukur setidaknya masih ada orang yang baik terhadapnya. Saat ini dia tidak hanya berjuang seorang diri.


"Nona, ini pakaian Anda. Silakan diganti dulu sebelum Anda masuk angin." Luke baru saja kembali dari parkiran dan langsung menyerahkan sepasang seragam kepada Milaine.


"Ya, terima kasih. Aku akan mengganti pakaianku dulu."


***

__ADS_1


Saat ini di rumah sakit, Nigel mulai menunjukkan tanda-tanda akan sadarkan diri. Fiona menjaga Nigel tanpa memalingkan sedikit pun pandangan dari sang putra. Dia khawatir akan terjadi pembunuhan mendadak dari pihak lawan sehingga mau tidak mau ia harus melakukan pengawasan secara langsung terhadap Nigel.


"Nigel! Oh Tuhan, akhirnya kau sadar juga." Fiona benar-benar bersyukur melihat Nigel membuka mata kembali.


"Ibu, ada di mana aku?" tanya Nigel, suaranya terdengar sangat kecil.


"Ah, kau sekarang ada di rumah sakit. Sebelumnya kau mengalami kecelakaan, makanya kau dibawa kemari. Bagaimana kondisimu? Apa kau merasa jauh lebih baik sekarang?"


Nigel meraba kepalanya. Masih tersisa perban yang membalut kepala Nigel.


"Ya, hanya saja kepalaku masih sedikit pusing."


"Ya sudah, Ibu akan memanggilkan Dokter untukmu sebentar."


Fiona bergegas ke luar ruangan, dia memanggilkan Dokter untuk memeriksa kondisi Nigel. Untungnya, sang Dokter berkata bahwa kondisi Nigel jauh lebih baik sekarang. Ditambah lagi racun di tubuh Nigel sepenuhnya lenyap.


"Ibu, di mana Kakak?"


Begitu mendengar pertanyaan Nigel soal Milaine, raut muka Fiona berubah masam. Dia tidak suka sama sekali kalau Nigel bertanya tentang gadis itu.


"Tidak bisakah kau fokus saja pada kesehatanmu? Kau tidak perlu bertanya tentang gadis itu."


"Gadis itu? Ibu, Kakak adalah putrimu. Kenapa kau selalu memperlakukannya seolah-olah dia bukan putrimu?"


Nigel semakin berani melawan sekarang. Dia tidak tahan lagi harus menahan semuanya sendirian. Menyaksikan perjuangan Milaine yang mati-matian melindunginya, dia tak bisa memaafkan Fiona begitu saja.


"Nigel, Ibu tidak pernah menganggap gadis itu sebagai anakku. Kau tahu kenapa? Dia hanyalah penghalang, pembunuh, dan aib besar Lysander Group. Tidak ada gunanya dia hidup, bahkan aku berharap dia yang mati, bukan kedua Kakakmu."

__ADS_1


Nigel tersentak. Ini bukan sekali dua kali dia melihat pancaran kebencian di mata Fiona. Dia tidak bisa mengubah sikap Fiona terhadap Milaine. seberapa besar pun usahanya, itu takkan ada hasilnya.


"Aku tidak mau Kakak mati. Aku hanya berharap dia bisa menjalankan hidup bahagia. Kakak bisa saja kabur dari mansion, tetapi nyatanya dia malah bertahan demi melindungiku. Tidak bisakah kau menghargainya sedikit? Tanpa diri Kakak, Ibu juga sudah lama mati karena dibunuh oleh istri lainnya," ujar Nigel.


__ADS_2