
Jubah hitam membalut sekujur tubuh Milaine sampai menutupi keelokan parasnya. Di tengah hujan deras yang tidak berhenti mengguyur daratan, Milaine terpaksa menapaki kubangan air demi pergi ke pasar terlarang. Pasar di mana berkeliaran banyak penjahat sekaligus penjual barang-barang ilegal.
Tujuan Milaine ke sana hanya satu yakni menemukan bahan utama penawar racun untuk Nigel. Hari ini Milaine pergi sendirian tanpa ditemana siapa pun sebab ia menugaskan para bawahannya untuk menjaga Nigel dari serangan mendadak pihak musuh.
‘Bau sekali.’ Milaine menutup indera penciumannya saat baru saja melangkah di depan gerbang utama pasar terlarang.
Bermacam-macam aroma busuk bercampur menjadi satu. Di sisi kiri dan kanan sepanjang pasar, terdapat berbagai jenis barang ilegal. Mulai dari obat-obatan, senjata, organ manusia, serta herbal paling langka pun ada di sini.
Milaine pun berhenti di depan toko herbal. Lama dia menatap depan toko tersebut untuk memastikan kesesuaian informasi yang dia peroleh dahulu.
‘Apakah di sini tempatnya? Aku yakin Kakek Shin mengatakan tempat ini menjual pucuk bunga ezeloid.’
Milaine mencoba masuk ke dalam. Kedatangannya disambut baik pemilik toko yang merupakan seorang pria tua.
“Apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu, Nona?” Suara pria tua itu terdengar gemetar, mungkin ini karena efek usia.
“Aku dengar di toko ini menjual herbal langka. Apakah kau punya pucuk bunga ezeloid?” tanya Milaine.
“Hoho, siapa yang memberi tahu Anda soal itu? Tidak banyak orang yang mengetahui tentang pucuk bunga ezeloid.”
Milaine menyingkap tudung jubahnya. “Aku mengetahuinya dari Master racun. Apa kau mengenal pria tua bernama Shin? Aku dengar kau berteman baik dengannya.”
Pria tua itu tertegun kala mendengar nama Shin. Tidak mungkin dia tidak tahu nama dari seseorang yang pernah menyelamatkan hidupnya. Berdasarkan dari ingatan Milaine, pria tua itu bernama Delal.
“Shin? Apakah dia masih hidup?” tanya Delal.
Milaine mengangguk pelan. “Masih, sekarang Kakek Shin berada di rumah sakit jiwa. Aku adalah muridnya sekaligus seorang anak yang sudah dia anggap sebagai cucu,” jawab Milaine.
Kedua mata Delal berlinang mendengar kabar terbaru mengenai penyelamatnya. Selama ini dia terus menerus mencari keberadaan Shin. Namun, tidak dia temukan di mana pun jejak keberadaannya.
“Astaga, kau murid Shin? Aku tidak menyangka dia masih hidup. Aku pikir dia sudah mati. Lalu bagaimana dengan istrinya, May?”
“Nenek May juga baik-baik saja. Mereka berdua hidup bahagia di tempat yang sama. Menurutku, kau tidak perlu memikirkannya.”
__ADS_1
Air mata bahagia tak kuasa tertahan di pelupuk matanya. Shin dan May, dua orang yang selalu terlibat dengannya saat dia masih muda. Sosok yang amat ia rindukan rupanya kini mendekam di balik ruang rawat rumah sakit jiwa.
“Maafkan aku. Aku tidak bisa menahan air mata selepas mendengar kabar Shin dan May. Kau mencari pucuk bunga ezeloid kan? Aku masih punya beberapa. Tunggu sebentar, biar aku ambilkan,” ucap Delal.
Delal mengacak-acak kotak penyimpanan herbal miliknya, mencari di mana ia meletakkan botol berisi pucuk bunga ezeloid. Setelah lima belas menit mencari, akhirnya dia berhasil menemukannya.
“Ini herbal yang kau minta. Apakah kau menggunakannya sebagai bahan utama penawar racun?”
“Iya, Adikku terserang racun dan aku harus membuat penetralnya. Untung saja Kakek Shin merekomendasikan toko ini,” ujar Milaine. “Oh iya, berapa harganya? Aku ingin membayarnya,” lanjut Milaine bertanya.
“Kau tidak perlu—”
Brak!
Pintu masuk tiba-tiba saja rusak akibat tendangan seseorang. Milaine spontan menoleh ke arah datangnya seorang pria berbadan besar.
“Hei, Pak tua! Cepat bayar utangmu!”
Sesosok pria berteriak meminta Delal membayar utangnya. Delal ketakutan saat melihat pria tersebut.
“Aku sudah memberimu kesempatan dengan mengulur waktu terus menerus. Sekarang sudah tidak ada kesempatan untukmu,” tekan si penagih utang itu.
“Maaf, tetapi aku tidak bisa membayar sekarang. Mohon beri aku waktu—”
“Apa kau ingin mati?!” Si penagih utang itu mencengkeram kerah baju Delal. Dia benar-benar takut menghadapi pria berbadan besar itu.
Milaine tidak bisa membiarkan masalah ini terjadi begitu saja. Dia memutuskan ikut campur ke tengah permasalahan Delal.
“Berapa utangnya?” tanya Milaine.
“Hah? Siapa gadis kecil ini? Apa kau yakin punya uang untuk—”
“Katakan! Berapa banyak utangnya? Sebutkan nominalnya, biar aku yang melunasinya,” tegas Milaine marah.
__ADS_1
Si penagih utang itu tampak ketakutan ketika matanya tanpa sengaja bertemu dengan sorot mata Milaine. Dia pun melepas cengkeraman tangannya di kerah baju Delal.
“Utangnya tujuh puluh juta.” Suara pria itu melunak, dia tidak berani macam-macam dengan Milaine.
“Sebut nomor rekeningmu. Aku akan langsung mentransfernya.”
Si penagih utang itu menyebutkan nomor rekeningnya. Detik itu juga Milaine mentransfer sejumlah uang untuk melunasi utang Delal.
“Aku sudah membayarnya.” Milaine menunjukkan bukti transfer pelunasan utang.
“Baiklah, aku pergi sekarang.”
Delal merasa tidak enak hati terhadap Milaine. Bahkan, dia belum tahu siapa nama gadis yang menolongnya itu.
“Kenapa kau repot-repot membantuku?” Delal melontarkan pertanyaan kepada Milaine.
Milaine pun menjawab, “Karena kau adalah teman Kakek Shin. Lagi pula uang tujuh puluh juta bagiku adalah nominal yang sangat kecil.”
“Memangnya dari keluarga mana kau berasal? Aku bahkan sampai lupa menanyakan namamu.”
“Aku Milaine Lysander, satu-satunya putri CEO Lysander Group.”
Delal mematung kaget. Nama itu bukanlah nama keluarga sembarangan. Lysander Group yang terkenal di dunia atas maupun dunia gelap, kini salah satu keturunannya berada di hadapannya. Tidak disangka ternyata sahabatnya menjadikan seseorang dari keluarga Lysander menjadi muridnya.
“Kau tidak perlu terlalu terkejut. Ini hanyalah nama keluarga, tidak ada arti lain bagiku. Sekarang aku ingin membayar belanjaanku tadi,” ucap Milaine.
Delal segera memperbaiki ekspresinya. “Kau tidak perlu membayarnya. Lagi pula aku berutang padamu tujuh puluh juta. Aku pastikan membayar uangmu nanti.”
“Kau tidak perlu membayarnya. Mulai sekarang hiduplah dengan santai tanpa memikirkan utang. Walaupun kau berkata tidak usah membayar herbal ini, aku akan tetap membayarnya. Tolong terima uang ini.”
Milaine menyerahkan amplop cokelat berisi uang. Nominalnya juga bukan main-main sampai Delal sendiri tak sanggup menggenggam uang tersebut.
“Ini terlalu banyak. Aku tak bisa menerimanya,” tolak Delal.
__ADS_1
“Ambil saja. Sebagian uang ini titipan dari Kakek Shin. Jangan menolak kebaikan Kakek,” tutur Milaine.
Mendengar hal itu pun Delal akhirnya menerima uang itu. Dia mengucapkan ribuan terima kasih kepada Milaine yang telah membantunya keluar dari situasi buruk hidupnya. Sekarang dia dapat menjalani aktivitas sehari-hari tanpa memikirkan besarnya jumlah utang yang harus dia bayar setiap waktunya.