Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Siapa Orang itu?


__ADS_3

Sesampainya di lokasi yang sesuai laporan, Milaine turun di tempat yang cukup tersembunyi. Di sana sudah ada Luke dan sejumlah mantan anggota Birdella, termasuk Aleda. Mereka menunggu perintah berikutnya dari Milaine.


"Nona, mereka ada di dalam. Saya melihat Nyonya Mayra dan Tuan Muda Deon sedang berbincang dengan seseorang. Kemungkinan orang itu ingin menetralkan racun di tubuh Tuan Muda Deon," lapor Aleda.


"Haruskah kita menyerang langsung, Nona? Saya tidak bisa menahan diri lebih lama lagi," ucap Luke.


Milaine mengatur emosi dan irama napas terlebih dahulu. Dari kejauhan tampak beberapa orang berjaga di sekitar gedung terbengkalai tersebut. Lokasi keberadaannya kini jauh dari pemukiman warga sehingga apa pun yang terjadi di sini, takkan bisa diketahui oleh orang lain.


"Tunggu sebentar. Mari kita perhatikan dulu."


Milaine mengisyaratkan salah seorang bawahannya untuk melemparkan sebuah alat penyadap ke dekat Mayra berdiri. Milaine menyimak baik-baik pembicaraan seperti apa yang tengah dilakukan wanita itu saat ini. Tidak lupa juga Milaine menyalakan perekam untuk merekam pembicaraan mereka.


"Bagaimana? Apakah masih ada kemungkinan putraku untuk sembuh?" tanya Mayra kepada lawan bicaranya saat itu.


"Tenang saja, Nyonya. Tuan telah memberikan penawarnya kepada saya. Jadi, putra Anda bisa pulih lagi nanti."


"Benarkah? Kalau begitu, syukurlah."

__ADS_1


Deon hanya menatap ke arah langit-langit ruangan sambil meratapi nasib. Sekujur badannya lumpuh akibat racun yang diberikan Milaine sebelumnya.


"Aku sungguh bisa pulih?" Deon pun akhirnya bersuara.


"Iya, kau bisa pulih. Tenang saja, tidak ada yang perlu kau khawatirkan lagi."


Mayra menggenggam erat tangan Deon. Hatinya pilu ketika menyaksikan Deon tak berdaya.


"Nyonya, ada telepon untuk Anda." Seorang pria menyerahkan ponsel kepada Mayra.


"Halo, Tuan."


"Mayra, Deon aman bersamamu sekarang kan? Bagaimana? Apakah penawar itu sudah mulai bereaksi?"


"Penawarnya baru saja disuntikkan. Saya rasa sebentar lagi penawarnya baru akan bereaksi."


Pembicaraan Mayra dengan orang di balik ponsel tersebut terdengar kian serius.

__ADS_1


"Kau harus ingat tugasmu setelah ini. Aku takkan mengulangi perintah yang sama ke sekian kalinya. Apa kau masih ingat dengan perintahku?"


Sekujur badan Mayra menegang. "Saya harus membantu membocorkan rahasia produk perusahaan Lysander Group. Saya mengingat itu dengan pasti, Tuan."


Milaine yang mendengarkan hal tersebut sangat terkejut. Rupanya rencana orang yang memerintah Mayra rupanya telah bergerak sejauh itu. Membocorkan rahasia produk perusahaan, sama saja dengan berniat menghancurkan Lysander Group.


'Siapa sebenarnya orang itu? Mengapa dia berani memberi perintah yang amat membahayakan kepada Mayra?' batin Milaine bertanya-tanya.


Milaine meneruskan menguping di balik alat penyadap.


"Bagus, Mayra! Aku akan membantumu menghancurkan siapa pun yang menghalangi dan ingin menghadang rencana kita. Apabila kau gagal melakukannya, maka kau harus bersiap-siap menerima hukuman dariku," tekan pria itu membuat Mayra tak berkutik terhadap ancamannya.


"Saya mengerti, Tuan. Tolong beri saya waktu untuk melakukannya. Saya pastikan saya mendapatkan rahasia produk perusahaan Lysander Group."


"Aku akan menunggumu. Berhati-hatilah, jangan sampai tertangkap, terutama gadis bernama Milaine itu, dia pasti sedang mencoba merancang rencana untuk menghambat kita. Kau harus membunuhnya sebelum dia bersikap lebih lancang lagi."


"Iya, Tuan. Saya akan mengurus soal Milaine. Biarkan gadis itu mati di tangan saya. Anda hanya perlu menyaksikannya di balik layar."

__ADS_1


__ADS_2