Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Kondisi Nigel Memburuk


__ADS_3

Jiwa Kevin dikuasai sepenuhnya oleh ketakutan tiada batas. Dia meronta sekuat tenaga dan berteriak meminta pertolong. Namun, sayangnya tidak ada orang yang mendengar pekikannya sebab gedung kosong ini terletak jauh dari pemukiman penduduk. Terlebih lagi, lawannya ialah keturunan salah satu dari delapan perusahaan terbesar di negara Helsper. Sudah jelas pihak pemerintahan takkan bergerak jika berurusan dengan delapan perusahaan ini.


“Berisik! Berhentilah berteriak! Jawab pertanyaanku, tangan mana yang kau gunakan untuk menyentuh Milaine?!”


Eron mengapit kedua sisi rahang Kevin. Kegeramannya semakin menjadi-jadi kala Kevin menolak untuk berbicara. Sampai akhirnya, dia terpaksa menampar pria itu berkali-kali untuk memaksanya membuka suara. Akan tetapi, semua terasa percuma. Kevin menolak membuka mulut, amarah Eron pun mencapai puncaknya.


“Baiklah, karena kau enggan berbicara, maka terpaksa aku memotong kedua tanganmu.”


Eron mengangkat pedangnya, sementara Kevin tak henti menggelinjang berupaya meloloskan diri dari jeratan rantai.


“Pegang dia dan sumpal mulutnya. Sangat muak melihat pria kurang ajar ini dibiarkan hidup lebih lama di dunia,” perintah Eron kepada bawahannya.


Selepas menyumpal mulut Kevin, Eron segera beraksi. Dia menggenggam erat gagang pedang lalu mengayunkannya hingga menebas kedua tangan Kevin. Ketika darahnya mengucur deras, Kevin pun kehilangan kesadarannya.


“Menjijikkan.” Eron menyeka wajahnya yang terkena cipratan darah. “Sebentar lagi dia akan mati karena kehabisan darah. Urus sisanya karena aku harus melenyapkan anggota keluarga Royin Group.”


Eron beraksi secara beringas malam itu. Dari dalam mobil, dia memerintahkan seluruh bawahannya untuk membunuh kedua orang tua Kevin. Sekaligus ia menghancurkan perusahaan Royin Group dalam sekejap. Terungkap malam itu bahwasanya Royin Group telah melakukan berbagai jenis tindak kejahatan. Atas nama Eron Vins, sisa-sisa keluarga Royin Group pun dijebloskan ke penjara. Bahkan, mereka tidak diizinkan membela diri sehingga mereka kini mendekam di penjara.


Inilah kekuatan dari delapan perusahaan besar di Helsper. Mereka dapat mengontrol pemerintah sesuka hati dan memasukkan orang-orang ke penjara seenaknya. Tidak ada orang yang bisa membantah serta tidak ada satu pun pihak yang dapat mengganggu gugat apa pun jenis perintah dari mereka.


***


Kehancuran Royin Group menjadi topik panas hari ini. Seisi akademi tak luput membicarakan berita tersebut. Milaine termenung sambil duduk di bangku kelas paling sudut disertai arah tatap netra mata ke luar jendela.


‘Siapa yang menghancurkan Royin Group? Ini sangat aneh sekali. Tidak hanya Kevin, bahkan kedua orang tuanya juga mati terbunuh. Apabila kejadiannya semengerikan ini, berarti orang yang berada di belakangnya adalah seseorang yang sangat kuat. Mungkinkah dia berasal dari salah satu delapan perusahaan besar Helsper?’ pikir Milaine.


Milaine menghela napas kembali. Tidak dia temukan jawaban apa pun soal permasalahan yang sedang terjadi. Di tengah pikiran yang berkecamuk, Ophelia tiba-tiba datang ke kelas Milaine membawa sejumlah bawahannya bersamanya.


Perhatian semua orang terfokus pada Ophelia, tidak sedikit di antara mereka yang menghindar karena reputasi buruk Ophelia membuat mereka takut.

__ADS_1


“Apakah kau yang bernama Milaine?” tanya Ophelia seraya memukul permukaan meja Milaine.


Milaine sontak menoleh ke arah Ophelia. “Benar, itu aku. Apakah ada masalah?”


“Bisakah kau ikut denganku keluar? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.”


Milaine memutar bola mata malas. Dia tahu pasti siapa Ophelia melalui rumor yang selalu dia dengar setiap saat. Namun, Milaine tidak takut meski Ophelia diberi gelar sebagai gadis paling tak mengenal ampun.


“Aku sedang tidak berminat keluar dari kelas. Jadi, bisakah kau berbicara di sini saja? Jika tidak, maka sebaiknya kau angkat kaki dari kelas ini,” ketus Milaine.


Ophelia tidak menyangka ada seseorang seperti Milaine yang tak menunjukkan rasa takutnya terhadap Ophelia.


“Hei, kau ini sangat lancang. Apa kau tidak tahu siapa aku? Tunjukkan rasa hormatmu, dasar anak pelayan,” tekan Ophelia.


Milaine pun bangkit dari tempatnya duduk. Sejujurnya, Ophelia sedikit tertegun karena rupanya Milaine jauh lebih tinggi darinya. Lalu di bagian tubuh tertentu membuat Ophelia pertama kali merasa kalah.


Ophelia kehabisan kata-kata. Dia memang pandai mengayunkan senjata, tetapi bukan berarti dia pandai melawan seseorang seperti Milaine.


“Haha. Benar, hampir saja aku lupa.” Ophelia berhasil meredam kemarahannya terhadap Milaine.


“Lalu apa yang ingin kau katakan padaku? Tolong dipersingkat saja, aku tidak mau membuang-buang waktu berurusan dengan seseorang sepertimu.”


Ophelia mengepalkan kedua tangannya. Entah mengapa, dia ingin sekali menyumpal mulut Milaine. Namun, saat ini bukan waktu yang tepat, dia masih harus memantau pergerakan Milaine.


“Aku hanya ingin mengundangmu ke perkumpulan para gadis. Bagaimana? Apakah kau bersedia untuk hadir?” ajak Ophelia.


“Hah? Perkumpulan para gadis?” Milaine menyeringai. “Apakah kalian mengundangku hanya untuk mengejekku? Ataukah ada maksud tersembunyi di baliknya?”


Ophelia tersentak. Sorot mata Milaine penuh dengan kecurigaan, sudah dia duga kalau mengajak Milaine ke perkumpulan bukanlah sesuatu yang mudah.

__ADS_1


‘Sial! Dia sangat tajam,’ batin Ophelia.


Terpaksa gadis itu memutar otak untuk meyakinkan Milaine.


“Tidak, ini bukanlah seperti yang kau pikirkan. Perkumpulan ini hanya perkumpulan biasa. Kau cukup datang saja demi memperluas koneksimu antar para gadis.”


Milaine tak langsung memberikan jawaban. Bola matanya bergerak memindai tubuh Ophelia.


“Baiklah, tetapi jika perkumpulan itu hanya membuatku jengkel, maka aku pastikan tempat kalian berkumpul akan menjadi gudang penyimpanan mayat manusia,” gertak Milaine.


“Ya, tenang saja. Cukup percaya padaku.”


Sesudah menyampaikan tujuannya kepada Milaine, Ophelia pun beranjak meninggalkan kelas. Samar-samar terlihat senyuman penuh kekejaman terukir di bibir Ophelia.


‘Berhasil! Dengan begini, aku bisa langsung melihat kemampuan gadis gila itu.’


Setelah bel pulang berdering, Milaine segera kembali ke kediaman Lysander sebab dia mendapat kabar bahwa sakit jantung Nigel kambuh lagi. Setibanya di paviliun, Milaine menuju ke kamar Nigel untuk melihat kondisi sang Adik. Akan tetapi, langkah Milaine terhenti di ambang pintu saat melihat Gizdo – Dokter pribadi keluarga Lysander tengah berbincang dengan Fiona.


“Kondisi Tuan Muda Nigel kian hari kian memburuk. Tidak ada perubahan terhadap pengobatan rutin yang dilakukan selama ini,” jelas Gizdo.


Fiona membatu di tempat, dia tidak tahu harus bagaimana lagi menanggapi penjelasan Gizdo.


“Apa … apa tidak ada hal lain yang bisa kita lakukan? Aku tidak mau Nigel mati karena penyakitkan. Tolong lakukan sesuatu, apa pun itu tidak masalah asalkan Nigel bisa selamat,” lirih Fiona menitikkan air mata.


Gizdo menggeleng lemah. “Saya akan berusaha lebih baik lagi untuk menyembuhkan penyakit Tuan Muda. Tolong jangan khawatir, Nyonya. Saya yakin beliau bisa bertahan lebih lama lagi.”


Fiona hanya berpasrah terhadap keadaan saat ini lantaran dia tidak punya kemampuan apa pun untuk menyelamatkan hidup Nigel. Gizdo pun bergerak pergi meninggalkan kamar Nigel. Baru beberapa langkah keluar dari kamar, Milaine tiba-tiba menghadang jalan Gizdo.


“Tunggu, Gizdo! Aku pikir ada sesuatu yang salah di sini.”

__ADS_1


__ADS_2