Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Ditemukan Racun di Tubuh Nigel


__ADS_3

Milaine syok bukan main mendengar kabar dari rumah sakit.


"Apa? Nigel kecelakaan? Baiklah. Aku akan segera ke sana sekarang juga."


Pikiran Milaine sangat kacau. Selera makannya hilang begitu mendengar kabar soal Nigel. Sekujur badannya gemetar karena syok. Jujur saja, dia tak pernah memprediksi hal seperti ini akan terjadi terhadap Adiknya.


"Ada apa, Nona?" tanya Luke bernada cemas ketika melihat ekspresi Milaine berubah sendu dan penuh kekhawatiran.


"Maafkan aku. Aku harus pergi ke rumah sakit karena Nigel kecelakaan. Nanti aku akan hubungi kalian lagi. Tolong bayarkan makananku dulu."


Tanpa menunggu respon dari ketiga pria yang bersamanya sedari tadi, Milaine bangkit dari tempat duduk lalu berlarian keluar dari restoran. Tepat saat Milaine semakin menjauh dari pandangan mereka, ketiga pria tersebut juga pergi dan mengikuti Milaine ke rumah sakit.


Milaine tidak fokus menyetir mobil. Fokusnya buyar dan hatinya sulit untuk ditenangkan. Alhasil, kecepatan mobil Milaine melebihi rata-rata kecepatan maksimal.


"Siapa yang berani mencelakai Nigel? Aku harap tidak terjadi hal yang lebih buruk lagi. Aku mohon, bertahanlah, Nigel!"


Setiba di rumah sakit, Milaine memarkirkan mobil dan bersegera masuk mencari ruang perawatan Nigel. Para perawat menuntun Milaine menuju tepat Nigel berada. Di sana sudah ada Fiona yang menanti hasil pemeriksaan lanjutan dari Dokter.


"Ibu, bagaimana kondisi Nigel sekar—" Ucapan Milaine terpotong cepat oleh sorot mata serta kemarahan Fiona terhadap dirinya.


"Ke mana kau seharian ini? Kenapa kau tidak ada bersama Nigel? Apa kau mau membunuh Adikmu?"

__ADS_1


Baru saja ia datang dan masih belum mengetahui kondisi Nigel, ia langsung diserang oleh pertanyaan menyakitkan dari Fiona. Milaine disudutkan, seolah-olah dia adalah pelaku di balik insiden kecelakaan tersebut.


"Berhentilah menyalahkanku! Aku juga tidak tahu hal seperti ini akan terjadi. Aku tidak pergi bermain atau sengaja membuat Nigel pulang sendirian. Aku hanya membersihkan pembunuh yang menargetkanku," tekan Milaine muak mendengar Fiona terus memojokkannya.


"Apa? Jangan berbicara omong kosong! Sejak awal kau memang tidak berniat melindungi Nigel. Kau anak pembawa sial! Pembunuh! Andai saja kau tidak pernah lahir, hal seperti ini takkan pernah terjadi."


Milaine mengacak-acak rambutnya frustrasi. Kedua netra merahnya memanas menahan emosi. Jika Fiona bukan Ibunya, maka dia akan menghabisi nyawa wanita itu saat ini. Mengingat bahwa Nigel masih membutuhkan Fiona, Milaine menepis segala pikiran buruk soal sang Ibu.


"Aku juga tidak berharap untuk lahir. Tolong jangan terlalu menyalahkanku, padahal aku tidak salah apa-apa. Berhentilah berbicara denganku, aku tidak mau mendengar ocehanmu lagi."


Fiona membungkam saat Milaine berbicara dengan sangat lancang. Gejolak kemarahan membakar dada Milaine. Fiona menahan diri untuk tidak memperkeruh suasana.


"Nyonya Fiona, bisakah kita berbicara sebentar terkait kondisi Tuan Muda Nigel?"


"Apa yang ingin dibicarakan? Bagaimana dengan anakku?" tanya Fiona bernada khawatir.


"Tenang saja, Tuan Muda Nigel berhasil melewati masa kritisnya. Sekarang beliau sedang tidur, jadi Anda tidak perlu khawatir lagi," jelas sang Dokter.


"Apakah hanya begitu saja? Apakah ada hal lain yang lebih genting dari itu?" sela Milaine bertanya.


Sang Dokter pun mulai menjelaskan kembali hal yang dia temui di tubuh Nigel.

__ADS_1


"Saya menemukan sesuatu di tubuh Tuan Muda Nigel. Tampaknya ada racun dalam jumlah kecil yang menyebar ke tubuh beliau. Racun itu mempunyai dampak yang cukup besar. Pasalnya, ada di beberapa bagian luka di tubuh Tuan Muda sulit mengering sehingga butuh usaha lebih bagi saya mengobatinya."


Milaine telah menduga hal yang dibahas Dokter itu ialah masalah racun. Dia baru saja menemukan bahwa tubuh Nigel telah terkontaminasi oleh racun. Dan racun itu sudah lama dikonsumsi Nigel. Akan tetapi, racun itu baru bereaksi akhir-akhir ini yang menyebabkan kerusakan di tubuh bagian dalam Nigel.


"Apa? Racun? Apakah itu berarti putraku akan mati?" Pikiran Fiona menjadi kacau tak karuan. Dia sekarang tenggelam perlahan menuju dasar lautan keputusasaan.


"Saya tidak bisa memvonis Tuan Muda akan mati atau tidak. Sekarang saya harus mencari penawar racunnya. Jika tidak, maka nyawa Tuan Muda akan berada dalam bahaya."


Milaine menghela napas panjang, ekspresi cemas yang tergambar di wajahnya seketika luruh.


"Aku yang akan membuat penawarnya. Sejujurnya aku telah mengetahui ada racun di tubuh Adikku. Racun itu perlahan-lahan akan menghancurkan tubuh bagian dalam dan menyerang jantung hingga sistem pernapasan," ucap Milaine mengajukan diri membuat penawar.


"Anda bisa membuat penawarnya?"


Dokter itu tampak sulit memercayai Milaine. Bagaimana pun racun bukanlah masalah sesederhana itu yang dapat ditangani sembarangan orang. Oleh sebab itulah, sebagai murid dari Master racun, maka Milaine memutuskan membantu sang Adik terbebas dari racun.


"Ya, aku bisa. Jadi, untuk saat ini Anda tolong fokus terhadap pemulihan Nigel. Aku sendiri yang akan menangani masalah racun tersebut," tegas Milaine.


"Baiklah. Saya berjanji akan membantu pemulihan Tuan Muda."


Fiona tak memberi tanggapan terhadap pembicaraan mereka berdua. Dia mengabaikan jenis penjelasan terkait racun itu. Yang terpenting baginya Milaine bisa menangani racun di tubuh Nigel.

__ADS_1


"Ingatlah untuk jangan macam-macam. Jika seandainya saja kau nanti memperparah kondisi Nigel, maka aku sendiri yang akan menghabisi nyawamu," bisik Fiona mengancam Milaine.


"Iya, tenang saja. Aku pasti bisa menyembuhkan Nigel dari serangan racun."


__ADS_2