
Selepas itu, Milaine bergegas keluar dari pasar terlarang sebelum terjadi sesuatu yang tidak mengenakkan. Selama menuju perjalanan ke luar, Milaine sering dihadang oleh orang yang tinggal di pasar terlarang. Mereka mencoba untuk memalak, tetapi Milaine dapat dengan mudah mengatasinya.
‘Hujan masih sangat deras.’
Milaine berhenti sejenak di tepi jalan untuk melihat kondisi sekitar. Setelah memastikan aman, Milaine langsung masuk ke dalam mobil. Jarak dari pasar terlarang ke kediaman Lysander sekitar empat jam. Cukup jauh bagi Milaine, tetapi gadis tangguh itu masih bisa mengatasi masalah jarak tersebut.
Lalu di dua jam perjalanan, Milaine mengalami kendala. Dari belakang ada dua mobil yang mengejarnya. Kedua mobil tersebut tampaknya mengincar nyawa Milaine. Terpaksa gadis itu menaikkan kecepatan mobilnya.
“Mereka sepertinya sangat gigih ingin membunuhku. Tidak akan aku biarkan kalian melukaiku.”
Di persimpangan jalan, Milaine mendadak menginjak remnya. Ternyata saat itu tidak hanya dua mobil, tetapi tujuh mobil yang mengikutinya. Sekarang pergerakan Milaine terkepung, dia berada dalam masalah besar.
Satu persatu pria berpakaian jas hitam keluar dari mobil. Mereka bersiap untuk segera menyerang Milaine.
“Dasar bajing*n sialan!” umpat Milaine menjangkau pistol dan pedang di bangku belakang.
Milaine pun keluar dari mobil, ia nekat untuk menghadapi mereka seorang diri. Jumlah mereka bukan main-main, jika dia membuat kesalahan, maka nyawalah yang menjadi taruhannya.
“Aku tidak boleh sampai lengah.”
Menjelang menginjakkan kaki di atas tanah, Milaine menarik pelatuk terlebih dahulu. Sesudahnya, ia langsung menembakkan peluru satu persatu ke arah gerombolan pembunuh itu. Untung saja tidak ada peluru yang terbuang sia-sia. Kemampuan menembak Milaine memang sangat akurat dan selalu tepat sasaran.
“Gadis ini sangat gesit! Berhati-hatilah kalian!” seru salah seorang dari mereka.
Milaine bergerak cepat ke arah pohon besar, dia bersembunyi di sana dan membentuk pertahanan sendiri. Suara tembakan peluru pun silih ganti bergema, Milaine tak menghentikan sedikit pun gerakan tangannya. Ketika orang-orang itu mulai lengah, Milaine berlari ke tengah-tengah mereka untuk melakukan serangan secara langsung menggunakan sebilah pedang.
Sesuai dugaan, mereka merupakan lawan yang sangat tangguh. Milaine kewalahan terus berlarian di atas genangan air hujan. Satu persatu tubuh Milaine mulai tergores senjata tajam. Darah di tubuhnya bercampur dengan rintik air hujan.
“Kepung dia sekarang! Pergerakannya mulai melambat!”
Milaine baru menghabisi setengah dari mereka. Sekarang tersisa setengahnya lagi, bahkan mereka mencoba untuk menyerang Milaine bersama-sama. Sungguh pengecut, mereka butuh puluhan orang untuk menangkap satu gadis kecil.
Di saat Milaine nyaris tertangkap oleh mereka, tiba-tiba saja suara tembakan pistol bergaung dan pelurunya mengenai satu persatu dari kelompok pembunuh tersebut. Milaine sontak melihat ke arah sumber datangnya peluru itu.
__ADS_1
“Siapa mereka? Apakah mereka datang menyelamatkan gadis ini?”
Di sekeliling Milaine kala itu, telah berjejer orang-orang menodongkan pistol ke para pembunuh yang hendak membunuh Milaine. Dari kejauhan, tampak seorang pria mengenakan payung datang menerobos ke tengah area pertarungan. Pria itu adalah Albern Emanuel, dia muncul tepat waktu sebelum Milaine terluka lebih parah.
“Beraninya kalian melukai kulit cantik Milaine,” geram Albern.
“Siapa kau?! Apa kau mau dibunuh juga?” Para pembunuh itu tidak terlihat takut sama sekali. Mereka dengan berani menantang dan mengancam Albern.
“Benarkah kalian dapat membunuhku? Kalau begitu, coba kalian hadapi dulu para bawahanku. Selepas itu, kalian bisa bertarung denganku.”
Albern memberi kode kepada bawahannya untuk segera melancarkan serangan. Dia juga buru-buru mendekati Milaine dan memayungi gadis itu.
“Mereka menggores kulit cantikmu. Ayo kita pergi dari sini, biar bawahanku yang mengurus sisanya.”
Albern menarik tangan Milaine ke dalam mobil. Dia terlihat sedih ketika melihat banyak goresan senjata tajam di permukaan kulit Milaine. Padahal gadis itu tidak berteriak kesakitan, tetapi tetap saja Albern merasa sedih untuknya.
“Bolehkah aku tahu siapa kau?” Milaine akhirnya menanyakan identitas Albern.
Nama Albern Emanuel memang pernah dia dengar. Milaine mendapatkan beberapa informasi mengenai pria tersebut. Albern Emanuel merupakan anak dari istri pertama CEO Emanuel Group. Ibunya meninggal bunuh diri ketika tidak kuasa menahan perundungan dari istri lain sang CEO.
Semenjak Ibunya meninggal, Albern hidup dalam penyiksaan para saudaranya. Namun, lima tahun terakhir ini, Albern bertindak secara gila-gilaan hingga dia berakhir membunuh seluruh calon pewaris Emanuel Group. Sekarang dia adalah calon pewaris satu-satunya, sebentar lagi dia akan menjadi pewaris resmi Emanuel Group.
“Ya, aku tahu siapa kau, tetapi mengapa kau menolongku?” tanya Milaine sekali lagi.
“Karena kita pernah bertemu tujuh tahun yang lalu di distrik terbengkalai ibu kota. Apakah kau ingat? Anak kecil yang waktu itu kau tolong dari ancaman pembunuhan di sebuah gang kecil.”
Mengalirlah rangkaian kejadian di masa lalu yang melibatkan Milaine dan Albern di satu tempat. Milaine kala itu tersesat di distrik terbengkalai ibu kota malah dihadapkan pada situasi di mana dia melihat seorang anak kecil yang terluka parah seusai nyaris dibunuh oleh pesuruh sang Ibu tiri.
“Hei, apa yang ingin kalian lakukan kepada anak itu?!”
Milaine memergoki tiga orang pria tengah berencana menghabisi nyawa Albern.
“Apa kau mau ikut campur ke dalam masalah keluarga Emanuel? Kau itu—”
__ADS_1
“Kalian mau membunuhnya kan? Aku takkan membiarkan hal itu terjadi!”
Dor!
Milaine menembakkan pistol ke mereka satu persatu. Gadis kecil itu selalu membawa pistol ke mana pun demi menjaga pertahanan diri. Selepas membunuh ketiga pembunuh tersebut, Milaine langsung mendekati Albern dan memastikan keadaan anak itu.
“Bisakah kau mendengar suaraku?” Milaine berupaya menyadarkan Albern.
Kesadaran Albern samar-samar, ia bisa mendengar suara Milaine, tetapi tidak bisa menjawab suaranya. Luka di perut Albern terbilang parah, tiada henti darah mengucur dari celah lukanya.
“Bertahanlah! Aku akan menyelamatkanmu,” ujar Milaine. Dia merobek gaun cantiknya lalu membalut luka Albern.
Sesudah itu, Milaine memapah Albern keluar dari gang. Dia bersusah payah mencari pertolongan, tetapi tidak ada orang yang mau menolong. Alhasil, Milaine terpaksa membawa Albern sendiri ke rumah sakit terdekat. Untung saja jarak rumah sakit dari titik awal tidaklah jauh sehingga dia bisa menyelamatkan Albern sebelum terlambat.
Ketika Albern siuman, Milaine datang menemuinya di ruang perawatan. Namun, tampaknya Albern tidak begitu senang diselamatkan oleh Milaine.
“Bagaimana keadaanmu? Apa kau masih sakit?” tanya Milaine.
“Apa kau yang menyelamatkanku?” Albern bertanya balik.
“Iya, aku menyelamatkanmu dari para pembunuh itu. Kenapa? Apakah ada yang salah?”
“Mengapa kau malah menyelamatkanku?! Seharusnya kau biarkan saja aku mati di tangan para pembunuh itu! Aku tidak mau hidup. Rasanya menyakitkan setiap kali aku mengingat rasa sakit yang aku terima di keluarga terkutuk itu.”
Milaine terkejut kala Albern meninggikan suaranya.
“Memangnya apa yang dilakukan keluargamu padamu?” Milaine duduk di sebelah Albern.
“Mereka membunuh Ibuku … mereka membuat Ibuku bunuh diri,” ungkap Albern.
“Kalau begitu, kenapa kau harus mati jika Ibumu dibunuh oleh mereka?”
“Ya? Apa yang kau katakan?”
__ADS_1