Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Protes


__ADS_3

"Dasar kau jal*ng murahan! Semua orang menyaksikan perbuatan memalukanmu itu. Aku akan mencari perhitungan denganmu lagi nanti."


Athia pergi begitu saja membawa rasa kesal yang tak kunjung padam. Terkadang Milaine terheran-heran dengan Athia yang senang sekali mencari masalah dengannya.


"Wanita ini membuatku naik darah," gumam Milaine.


Kemudian Milaine menoleh ke sisi kiri. Sontak dia langsung melerai genggamannya dari lengan Eron. Pria itu tegang karena disentuh dan dicium oleh Milaine.


"Ada apa, Eron? Apa kau merasa keberatan karena aku cium? Maaf ya, aku melakukannya demi memanasi hati Athia. Dia selalu menggangguku sepanjang waktu, tidak ada salahnya aku beri dia sedikit pelajaran penting."


Eron segera memperbaiki ekspresinya. Dia tidak mau membuat Milaine merasa tidak enak hati kepada dia.


"Tidak apa-apa, aku hanya terkejut kau tiba-tiba menciumku. Apakah itu ciuman pertamamu?"


Milaine tersenyum polos sambil mengangguk.


"Wah, bagaimana kau mengetahuinya? Itu memang ciuman pertamaku. Tidak masalah, tak begitu penting bagiku."


Tubuh Eron kian menegang ketika mendengar jawaban Milaine. Ciuman pertama merupakan sesuatu yang sangat dijaga oleh setiap orang. Akan tetapi, hal itu berkebalikan dari Milaine. Dia merasa tidak terbebani sedikit pun karena dia cukup pasrah dengan kehidupan ini.

__ADS_1


"Ini juga ciuman pertamaku."


Milaine terpaku kala Eron berkata demikian. Dia pikir Eron sudah pernah ciuman sebelumnya.


"Serius? Berarti aku merebut sesuatu yang berarti bagimu," ujar Milaine.


"Aku juga tidak masalah. Aku memang ingin menyerahkan ciuman pertamaku padamu."


Milaine tertegun. Entah hal bodoh apa lagi yang dibicarakan oleh Eron kepadanya. Pria itu tersipu malu, mukanya merah padam saat dia mengatakan yang sesungguhnya.


"Maksudmu—"


Eron pun berlari meninggalkan Milaine. Dia pergi ke arah kelasnya yang berada di lantai atas. Milaine hanya tersenyum tipis menatap punggung Eron yang semakin menjauh darinya.


"Dasar! Kenapa dia mudah sekali tersipu malu di hadapanku?"


Tak berapa lama kemudian, berita soal Milaine yang mencium Eron pun menyebar melalui portal akademi. Hal itu langsung diketahui oleh keempat pria lainnya. Mereka tidak terima karena berita tersebut. Bahkan, beritanya menjadi perbincangan bagi semua orang di akademi.


Tanpa menunggu lebih lama lagi, mereka langsung beranjak pergi menemui Eron untuk meminta penjelasan perihal berita tersebut.

__ADS_1


"Jelaskan! Apa maksudnya ini?!"


Mereka mengitari Eron yang saat itu tengah melukis di ruang lukis. Eron menghela napas panjang seraya menatap dingin mereka satu per satu.


"Memangnya kalian tidak bisa membaca? Sudah jelas itu aku dicium oleh Milaine."


Respon Eron menuai pertentangan dari keempat pria tersebut. Mereka masih enggan menerima fakta bahwa yang pertama mencium Eron ialah Milaine.


"Kau dicium Nona? Apa kau tidak terlalu percaya diri? Aku yakin berita ini salah," bantah Luke.


Eron menyunggingkan sudut bibirnya. "Salah? Tidak. Itu sama sekali tidak salah. Apa kalian mau melihat buktinya?"


Eron mengeluarkan ponselnya. Di sana dia menunjukkan bukti pesan dari Milaine. Dia mengucapkan maaf kepada Eron karena sudah menciumnya di hadapan banyak orang.


Mereka syok bukan main. Rupanya Eron tidaklah berbohong.


"Hei, itu ciuman pertamanya bukan?" tanya Lloyd.


Eron bangkit dari kursi. Ekspresinya datar, tetapi sudut mata Eron menjelaskan segalanya.

__ADS_1


"Benar. Milaine menyerahkan ciuman pertamanya padaku. Sebaiknya, kalian bersiap-siap saja kalah dariku. Aku lebih maju selangkah dari kalian."


__ADS_2