
Fokus Mayra buyar tatkala seorang pelayan berlarian menghampirinya seraya meneriaki tentang Deon. Terpaksa Mayra mengabaikan masalah Fiona sementara waktu.
"Ada apa? Apa yang terjadi kepada Deon?" tanya Mayra.
"Tuan Muda Deon ... Tuan Muda Deon tiba-tiba lumpuh, Nyonya. Beliau tidak bisa menggerakkan badannya," jawab si pelayan itu menjelaskan keadaan Deon.
"Apa? Deon mendadak lumpuh?!"
Tanpa menunggu waktu lama, Mayra segera pergi menemui Deon di kamar. Deon terbaring tak berdaya karena tubuhnya yang sulit digerakkan. Sekujur badannya mati rasa dan tidak ada yang bisa dia lakukan selain mencoba meminta tolong kepada sang Ibu.
"Deon!" Mayra langsung menuju ke tempat tidur Deon.
"Ibu, apa yang terjadi padaku? Kenapa tubuhku tidak bisa aku gerakka? Tolong aku, Ibu," keluh Deon meminta tolong.
"T-Tunggu sebentar, a-aku akan memanggilkan Gizdo untuk memeriksa tubuhmu."
Mayra berlarian ke luar kamar membawa perasaan khawatir yang tak terbendungkan. Dia takut sesuatu yang buruk menimpa putranya. Apalagi Mayra berharap banyak agar putranya bisa menjadi pemimpin Lysander Group di masa depan.
Beberapa menit berselang, Gizdo pun datang bersama Mayra.
"Ayo cepat, tolong periksa tubuh putraku."
Gizdo mengecek dengan seksama denyut nadi, detak jantung, serta mencoba menggerakkan kaki dan tangan Deon.
"Bagaimana? Apa yang terjadi pada tubuh putraku? Jelaskan padaku sekarang," desak Mayra.
Gizdo menghela napas panjang. Ini kasus yang cukup rumit dia tangani.
"Nyonya, tampaknya Tuan Muda Deon menderita kelumpuhan total akibat racun yang menyebar di tubuh beliau," kata Gizdo menjelaskan kondisi tubuh Deon.
Mayra syok bukan main. Dia kehilangan akal sehat sesaat begitu mendengar penjelasan Gizdo.
"Apa? Bagaimana bisa anakku lumpuh? Tidak adakah cara lain untuk menyembuhkannya?"
Gizdo berpikir sejenak. Pikirannya langsung tertuju pada Milaine dan dia tahu bahwa ini adalah perbuatan gadis itu.
"Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak punya cara mengobati kelumpuhan Tuan Muda."
__ADS_1
Mayra histeris. Dia mengguncang-guncang badan Gizdo seraya berteriak sampai telinga Gizdo terasa sakit.
"Bukankah kau seorang Dokter?! Seharusnya kau bisa mengobati anakku. Cepat obati dia! Aku akan membayar berapa pun yang kau minta. Aku mohon, sembuhkan Deon."
Gizdo tak merespon. Sekilas tampak senyum seringai di bibir Gizdo.
'Aku takkan membantunya karena Nona Milaine telah banyak menderita karena ulah kalian. Rasakan akibatnya, ini adalah hasil dari apa yang kalian lakukan selama ini,' batin Gizdo.
Deon terisak di atas tempat tidur tatkala mendengarkan penuturan Gizdo soal kondisi tubuhnya. Mayra hanya bisa memeluk putranya, dia tidak dapat melakukan sesuatu untuk mengobati Deon.
"Ini pasti karena gadis itu! Gadis itu yang membuatku lumpuh. Aku harus membalasnya!" teriak Deon.
"Gadis itu? Siapa maksudmu? Apakah Milaine?" tanya Mayra.
"Iya, lalu siapa lagi kalau bukan dia?!"
"Kurang ajar! Aku harus memberi pelajaran kepada gadis sialan itu."
Tanpa berpikir panjang, Mayra lekas pergi menemui Milaine yang kala itu sedang bersantai di teras paviliun. Dia ditemani oleh Halia dan Aleda. Mereka tampaknya sedang membicarakan sesuatu yang menyenangkan.
"Nona, apakah ada seseorang yang Anda sukai?" tanya Halia penasaran.
Milaine berpikir dalam-dalam mengenai perasaannya. Dia juga sering bertanya-tanya apakah ada pria yang menarik perhatiannya atau tidak.
"Aku rasa aku tidak menyukai siapa-siapa karena saat ini aku sedang fokus menghadapi masalah yang terjadi," lanjutnya berucap.
"Benarkah? Padahal Anda sangat cantik dan pasti mudah bagi Anda menemukan seseorang yang mau menerima Anda," tutur Aleda.
"Aku hanya belum menemukan yang tepat." Milaine menyeruput jus jeruknya.
Tepat saat itu pula, Milaine dikagetkan oleh suara Mayra yang meneriaki namanya dari kejauhan.
"Milaine! Milaine! Aku ingin berbicara denganmu."
Milaine membuka kacamata hitam yang menutupi pandangan. Dia menyambut kedatangan Mayra dengan sebuah senyum yang sulit diartikan.
"Tolong jangan berteriak. Suaramu terdengar sampai ke penjuru mansion," ucap Milaine bernada ketus.
__ADS_1
"Aku tidak peduli. Aku kemari meminta pertanggungjawabanmu atas apa yang kau lakukan terhadap Deon."
Milaine memasang tampang polos tak berdosa.
"Apa maksudmu? Memangnya apa yang telah aku lakukan terhadap putramu?" Milaine pura-pura tidak paham maksud perkataan Mayra.
"Jangan sok tidak tahu! Kau kan yang sudah meracuni anakku?! Sekarang Deon lumpuh karena ulahmu. Aku ingin memintamu mengembalikan kondisi Deon ke semula."
Milaine menaruh ponselnya di atas meja lalu bangkit berdiri menghadap Mayra. Mungkin saat ini Mayra telah kehilangan akal sehatnya seusai mendapat kabar buruk perihal sang putra.
"Kenapa aku harus membantu memulihkan kondisinya? Apa kau lupa? Sekarang kita sedang berada di medan pertempuran. Anakmu bertempur denganku memperebutkan takhta pewaris Lysander Group. Seharusnya kau bersyukur karena aku tidak langsung menghabisi nyawanya."
Mayra seketika bungkam. Tidak ada yang salah dari apa yang dibicarakan Milaine. Memang ini adalah medan pertempuran. Sejak awal peraturan Lysander Group memperbolehkan untuk saling membunuh. Jadi, tidak ada yang bisa disalahkan antara Milaine maupun Deon.
"Kau harus sadar diri dan belajar menerima." Milaine mendorong bahu Mayra. "Anakmu mati sekali pun, Ayah takkan merasa sedih atau mencoba menghukumku. Kenapa? Karena ini adalah aturan utamanya. Aku yakin kau tahu betul soal ini," sambung Milaine menekan Mayra.
"Aku tidak peduli soal aturan apa pun itu." Mayra menepis tangan Milaine. "Aku akan melakukan apa saja demi melindungi Deon. Sebaiknya, sekarang kau menurut padaku sebelum aku mencelakai Adikmu."
Milaine tidak tahan saat seseorang mengancamnya menggunakan sang Adik. Milaine pun mencekik leher Mayra hingga membuat wanita itu kesulitan bernapas.
"Jangan pernah bawa-bawa Adikku. Urusanmu denganku, jadi coba saja kau bunuh aku."
Mayra tak berkutik, Milaine adalah lawan yang tangguh. Persis seperti apa yang dikatakan Deon sebelumnya. Milaine melempar tubuh Mayra ke permukaan tanah. Dia rasa sudah cukup menggertak wanita penakut itu.
'Gadis dingin, tak pernah memberi pengampunan terhadap seseorang yang mengganggunya. Terlebih lagi, level kekuatannya berbeda jauh dariku. Wajar Deon kalah darinya, dia seperti hewan buas.'
Mayra berdiri kembali, tungkai kakinya terasa lunglai. Dia tidak pernah setakut ini terhadap siapa pun itu.
"Aku pastikan kau mendapat ganjarannya! Milaine, nikmatilah hidupmu yang tenang sebelum aku menghabisi nyawamu."
Mayra memutuskan untuk membiarkan Milaine kali ini saja. Dia tidak punya sesuatu yang dapat menghabisi nyawa anak itu. Terlebih lagi rumor yang beredar akhir-akhir ini tentang kedekatan Milaine dan Conrad, membuatnya kian takut melakukan sesuatu terhadap Milaine.
"Dasar wanita sialan! Membuat waktu istirahatku terganggu saja." Milaine mendudukkan dirinya lagi di atas kursi. "Aleda, kita akan beraksi setelah ini," lanjutnya berucap.
"Apa yang harus saya lakukan, Nona?" tanya Aleda.
"Menurutmu apa lagi? Tentu saja menghabisi nyawa Deon dan Mayra."
__ADS_1
Aleda merinding seketika melihat senyum seringai Milaine. Gadis itu sosok yang menyeramkan di mata Aleda. Sejenak ia bersyukur bisa berada di sisi yang tepat.
"Baik, Nona. Tolong beri saya perintah membunuh nantinya."