Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Conrad Telah Siuman


__ADS_3

Milaine mengobati luka di lengan tangan Eron. Tadi dia sedikit lengah sehingga tidak sadar ada senjata tajam menggores kulitnya.


"Sudah selesai. Lain kali kau harus lebih berhati-hati lagi."


"Terima kasih." Eron terlihat senang karena Milaine sendiri yang mengobatinya.


Luke memandang tidak suka Eron. Dia pun menyelip duduk di antara mereka berdua.


"Nona, saya juga terluka," sela Luke memperlihatkan luka di keningnya.


"Tunggu sebentar. Biar aku obati."


Milaine sedikit menghela napas sebab luka yang diterima Luke tidak lebih dari sekedar luka gores biasa. Namun, Milaine tetap ingin mengobatinya dan menutup luka kecil Luke menggunakan plester.


"Apakah masih ada lagi yang terluka?" tanya Milaine.


Luke menggeleng dengan amat antusias.


"Tidak, hanya ini saja."


Eron menyikut Luke, ia tidak suka sekali dengan keberadaan Luke di antara dia dan Milaine.


"Dasar pengganggu," bisik Eron.


"Aku takkan membiarkanmu berduaan saja bersama Nona." Luke menjulurkan lidahnya. Dia memang sangat menyebalkan di mata Eron.


Sesudah itu, Eron membantu membereskan kekacauan di rumah sakit. Sedangkan Milaine pergi melihat keadaan Conrad. Untung saja para pembunuh itu gagal menerobos masuk ke ruang rawat Conrad. Kini Milaine setidaknya bisa sedikit lebih lega seusai mengatasi para pembunuh tersebut.


"Kondisi Tuan perlahan membaik. Anda bisa meninggalkan Tuan dengan saya di sini," ujar Gizdo.


"Baiklah. Tolong jangan beri izin orang tidak dikenal masuk ke ruang rawat Ayah. Aku akan kembali ke kediaman sebentar dan nanti aku balik lagi menemani Ayah di rumah sakit."


Milaine lekas meninggalkan rumah sakit bersama Luke. Tampak sejumlah luka goresan di tangan Milaine, tetapi ia sudah mengobatinya. Sekarang Milaine kembali ke kediaman Lysander untuk mengecek situasi sekitar.


"Nona, bagaimana kondisi Tuan?" tanya Aleda menyusul Milaine ke halaman mansion.


"Ayah baik-baik saja. Sementara waktu Ayah akan dirawat di rumah sakit sampai pulih sepenuhnya," jawab Milaine.


"Syukurlah kalau begitu. Oh iya, Nona, pelayan itu sudah sadar. Dia bilang ingin bertemu dengan Anda."


"Baiklah. Aku akan pergi menemuinya."


Pelayan muda yang bernama Halia itu menanti kedatangan Milaine di kamar. Raut mukanya tertekuk sendu dan diwarnai oleh ketakutan yang tak kunjung padam. Dia masih belum bisa melupakan betapa mengerikannya penyiksaan yang dilakukan Lisbeth terhadap dirinya.


"Bagaimana kondisi tubuhmu? Apakah ada keluhan lain yang kau rasakan?"


Suara lembut Milaine mengalihkan sejenak di hati Halia. Dia terpana oleh keindahan diri Milaine. Dahulu ia bertemu Milaine kala masih kecil. Siapa sangka bila gadis yang disangka gila itu punya paras yang bukan main cantiknya.


'Bagaimana bisa ada manusia sesempurna ini? Sulit untuk dipercaya,' batin Halia.

__ADS_1


Dengan bersusah payah, Halia turun dari ranjang. Namun, Milaine menahan Halia supaya tidak bergerak terlalu berlebihan.


"Kau tidak perlu sampai turun dari tempat tidur," ucap Milaine.


"Mohon maaf, Nona. Rasanya tidak sopan bila saya berbicara dari atas tempat tidur. Terlebih lagi, ini bukan kamar saya," tutur Halia.


"Tidak masalah. Ini hanya hal kecil saja. Sekarang jawab aku, bagaimana kondisi tubuhmu?"


"Saya jauh membaik dari sebelumnya. Setidaknya, rasa sakitnya lebih jauh berkurang."


Milaine duduk di sisi kanan ranjang.


"Namamu Halia, bukan? Kau gadis yang waktu itu dibawa masuk oleh Bibiku?"


Halia mengangguk. "Benar, Nona. Saya gadis yang waktu itu dibawa Bibi Anda."


"Baiklah. Halia, apa kau mau bekerja sebagai pelayan pribadiku? Sebenarnya aku bertekad untuk tidak mempekerjakan pelayan. Hanya saja, aku semakin sibuk akhir-akhir ini. Aku bisa mempercayaimu sebab kau pelayan yang dibawa oleh Bibiku."


Tawaran Milaine terdengar menguntungkan bagi Halia. Terlebih lagi, di kediaman ini harus mempunyai Tuan untuk dilayani agar terhindar dari perundungan antar pekerja mansion.


"Jadi, itu artinya saya bisa keluar dari paviliun Nyonya Lisbeth?"


"Iya, kau bisa keluar dari sana. Tenang saja, aku yang akan mengurus wanita sialan itu nanti," ucap Milaine terdengar meyakinkan.


Halia tanpa sadar menitikkan air mata. Dia tersentuh atas kebaikan Milaine.


"Terima kasih, Nona. Terima kasih karena berkat Anda saya tidak perlu keluar dari pekerjaan saya."


***


Tepat menjelang insiden yang menimpanya, Conrad bertemu seseorang yang menghadang jalannya di halaman mansion. Orang yang tidak jelas identitasnya tersebut tiba-tiba mengatakan sesuatu yang membuat Conrad syok hingga tidak bisa berkata-kata.


'Pria itu kembali? Aku sudah memastikan dia mati dan sekarang seseorang mengatakan bahwa dia masih hidup? Namun, rekaman suara itu, persis terdengar seperti suara dia.'


Conrad menyentuh kepalanya yang berdenyut sakit.


"Kedua putramu, Rupert dan Kreis terbunuh akibat ulahku. Sejak awal aku menargetkan mereka, terutama putrimu satu-satunya. Bagaimana? Apakah kau terkejut? Aku takkan melupakan apa yang terjadi di hari itu."


"Aku datang merenggut segalanya darimu. Pertama-tama aku akan membunuh Milaine. Gadis cantik dengan berbagai bakat unik, aku menginginkan kematiannya. Namun, sayangnya dia bukanlah gadis yang mudah dibunuh atau dikendalikan."


"Tetapi, ingatlah, Conrad! Milaine Lysander, anak yang diam-diam kau kasihi itu, sebentar lagi akan menemukan ajalnya. Ke mana pun dia pergi, kematian akan selalu menghantuinya. Sampai saat itu terjadi, aku di sini menyaksikan kehancuranmu secara perlahan."


Suara dari rekaman itu berdengung di kepala Conrad. Ketakutan terbesarnya saat ini ialah harus kehilangan Milaine. Putri yang sedari kecil melewati berbagai masalah hidup, kini harus menderita akibat musuh masa lalu yang tiba-tiba datang mengusiknya.


"Ini semua salahku. Milaine mengalami kesulitan karena aku."


Di saat yang sama, Milaine datang mengecek kondisi Conrad. Sontak ia kaget karena rupanya sang Ayah telah sadar.


"Ayah! Ya ampun, Ayah sudah siuman? Biar saya panggilkan Gizdo dulu."

__ADS_1


Milaine berbalik badan hendak melangkah ke luar memanggil Gizdo.


"Nanti saja panggil dia. Sekarang kau kemari dulu. Ada yang mau aku bicarakan," ujar Conrad.


Mendengar sang Ayah berkata demikia, Milaine pun mengurungkan niatnya memanggil Gizdo. Kini ia duduk di samping ranjang rawat Conrad.


"Ada apa, Ayah?" tanya Milaine.


Ketika itu pula Conrad salah fokus terhadap luka goresan di tangan Milaine.


"Apa kau dihadang oleh pembunuh lagi?" tanya Conrad, ia tidak merespon pertanyaan Milaine sebelumnya.


"Iya, tetapi tenang saja. Saya berhasil menanganinya."


"Apakah mereka dari Mahvan Gang?"


Milaine mengangguk. "Ya, mereka dari Mahvan Gang."


".... "


Conrad membisu selama sepersekian detik. Tingkah Conrad mendatangkan rasa penasaran di kepala Milaine.


"Kenapa? Apa Ayah lupa apa yang mau Ayah katakan kepada saya?"


Conrad tersenyum samar. Entah mengapa, rasanya sia-sia sekali ia mengkhawatirkan apalagi menganggap kalau Milaine tak bisa mengatasi segala kesulitan yang terjadi.


"Milaine, mulai besok aku akan menaruh lebih banyak pengawal di sekitarmu. Ini bukan karena aku khawatir, hanya saja Mahvan Gang menargetkanmu. Musuh kali ini berasal dari luar urusan keluarga," ucap Conrad berlagak tak cemas.


"Kalau masalah itu, Ayah tenang saja karena saya telah mengurus semuanya. Saat ini ada puluhan orang di sekitar saya."


"Puluhan orang?" Tatapan Conrad mengedar, tidak ada siapa-siapa di sana selain mereka.


"Mereka tidak ada di sini, tetapi mereka mengawasi setiap pergerakan di luar sana. Mereka takkan menampakkan diri kecuali ada perintah dari saya," jelas Milaine.


"Aku tidak tahu maksudmu apa, tetapi baguslah kalau kau telah mempersiapkan hal semacam ini. Setidaknya aku bisa lebih tenang sekarang."


***


Di kediaman Vins Group, Eron baru saja kembali dari rumah sakit. Raut mukanya terlihat lebih cerah dari biasanya. Baru saja dia menginjakkan kaki di ruang lantai satu, ia langsung disambut oleh sang Ayah dan Kakak yang menanti kepulangannya sedari tadi.


"Dari mana kau? Mengapa akhir-akhir ini kau sering berkeliaran dan menghabiskan uang? Apa yang kau lakukan di luar sana?"


Romi — CEO Vins Group alias Ayah Eron, mencecar ia dengan berbagai pertanyaan. Jason — Kakak Eron, hanya diam menonton keributan yang mungkin terjadi setelah ini.


"Ada sesuatu yang harus aku lindungi di luar sana," jawab Eron.


"Apa yang kau katakan? Bukankah sudah aku bilang? Berhentilah berkeliaran! Sampai kapan kau akan membangkang? Apa kau pikir dengan kau seperti ini, kau bisa menarik perhatianku? Tidak! Sampai kapan pun aku takkan pernah melupakan kematian istriku karena ulah dirimu!"


Eron sudah muak mendengarnya. Tidak ada pembahasan lain yang dibahas Romi selain kematian sang Ibu.

__ADS_1


"Aku bukan pembunuh! Aku tidak pernah membunuh Ibu! Aku—"


Plak!


__ADS_2