
Suasana hati Conrad masih belum membaik meskipun sudah memberi pelajaran kepada setiap orang yang mencoba menjatuhkan Milaine. Mereka bahkan bersujud-sujud di kaki Milaine dan meminta Conrad mengampuni kesalahan mereka. Namun, itu percuma karena baik Milaine atau pun Conrad sama-sama menolak pengampunan mereka.
"Kenapa Ayah datang ke akademi? Padahal saya tidak meminta Ayah untuk datang," tanya Milaine berjalan beriringan di lorong akademi.
Conrad menjeda sejenak langkahnya. Milaine memang terbiasa menyelesaikan segala permasalahannya sendiri. Hanya saja, masalah di akademi adalah cerita yang berbeda. Milaine akan kesulitan jika dia tidak membantunya.
"Aku hanya tidak sengaja datang," dalih Conrad sengaja berbohong karena malu mengatakan kalau dia sesungguhnya mengkhawatirkan sang putri.
"Benarkah?" Milaine menatap Conrad penuh selidik.
"Apakah kau berpikir Ayahmu berbohong? Aku hanya kebetulan berada di sekitar sini. Ya sudah, kalau begitu aku pergi sekarang. Sekarang masalahmu di akademi telah terselesaikan."
Conrad mengusap kepala putri kecilnya. Milaine tertegun merasakan kelembutan serta kehangatan tangan kekar Conrad.
Milaine tertunduk seraya mengulas senyum lembut. Jauh dari lubuk hati terdalam, Milaine senang sang Ayah datang untuk membelanya dari orang-orang biad*b itu.
'Aku sudah tahu segalanya. Ayah tidak perlu menyembunyikannya. Apa yang Ayah lakukan selama ini, aku sangat mengetahuinya. Maka dari itu, selain melindungi Nigel, aku juga akan melindungi Ayah,' batin Milaine.
***
Pada malam harinya, di pusat pemukiman kumuh, terlihat Corner sedang berjalan sempoyongan. Pria itu jatuh miskin dalam sekejap karena telah mengusik Milaine. Ancaman CEO Lysander Group bukanlah sebuah bercandaan. Melainkan sebuah gertakan nyata sehingga sebagian pekerja di Akademi Eleutheria memperoleh akibat buruk dari tindakan mereka.
"Lysander Group sialan! Kalau bukan karena gadis itu, aku takkan mungkin menderita kesialan seperti ini."
Corner mabuk berat setelah meminum alkohol. Dia mulai berbicara melantur dan mengutuk Milaine serta Lysander Group. Dia tak merasa bersalah harta dan pekerjaannya telah direnggut darinya.
"Padahal aku hanya melakukan perintah beliau saja. Aku menerima uang darinya, tetapi aku tidak tahu di mana keberadaan beliau sekarang."
Corner berhenti di tengah jalan, ia menggoyang-goyangkan botol alkohol di tangannya. Tidak ada sedikit pun alkohol yang tersisa. Dia menjadi semakin frustrasi, bingung bagaimana ia harus hidup ke depannya.
Corner menyandarkan punggung ke tembok pembatas persimpangan gang. Perlahan tubuhnya meluruh ke tanah penuh sampah.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Karirku hancur seketika. Aku tidak punya kekuatan melawan Lysander Group. Bahkan, aku mencoba menghubungi beliau. Akan tetapi, itu sia-sia karena tidak ada respon darinya."
Bertepatan di detik itu, dua orang pria muncul di hadapan Corner. Akibat mabuk, dia tak dapat melihat jelas siapa gerangan yang menghampirinya.
"Siapa kalian?" tanya Corner.
__ADS_1
Mereka tidak menjawab. Tanpa berlama-lama, keduanya langsung meringkus Corner masuk ke dalam mobil.
"Lepaskan aku! Siapa kalian?! Apa yang ingin kalian lakukan terhadapku?!" ronta Corner.
Karena terlalu berisik, Corner pun terpaksa dibius sampai pingsan. Kemudian mereka membawa pria itu ke sebuah markas yang berisi alat-alat penyiksaan.
"Tuan Muda, kami telah membawa bajing*n ini."
Seorang pemuda tersorot cahaya lampu redup. Ternyata Lloyd lah yang telah memerintahkan orang-orang itu untuk membawa Corner kemari.
"Kerja bagus! Ikat dan baringkan dia di ranjang besi. Aku akan mulai menyiksa si brengs*k ini."
Lloyd mengasah pisaunya terlebih dahulu sebelum ia gunakan untuk menyiksa Corner. Perasaannya berkecamuk semenjak mendengar kabar mengenai Milaine yang hampir dikeluarkan dari akademi akibat ulah Corner dan Winson. Sekarang dia bermaksud melampiaskan kemarahannya itu dengan menyiksa Corner.
"Bangunkan dia! Tidak seru jika aku menyiksanya kalau dia sedang tak sadar," titah Lloyd sekali lagi.
Bawahan Lloyd menumpahkan satu ember air dingin ke kepala Corner. Pria itu langsung terbangun dan gelagapan terkejut karena air yang membasahi tubuhnya.
"Ada di mana aku?"
"Kau sekarang sedang berada di neraka." Senyum sadis terbit di bibir Lloyd.
Corner terbelalak kala melihat jelas wajah Lloyd berdiri di depan mata.
"Tuan Muda Lloyd Velmilish! Mengapa Anda menahan saya di sini? Apa salah saya terhadap Anda?!"
"Apa kau tidak sadar apa kesalahanmu? Haruskah aku membuatmu ingat semua yang telah kau lakukan beberapa waktu belakangan ini?"
Jemari Lloyd menyentuh perut Corner. Pria itu ketakutan tatkala melihat tangan Lloyd menggenggam sebuah pisau.
"Saya tidak ingat apa-apa. Selama ini saya tidak pernah mengganggu hidup Anda."
"Oh, begitukah? Sayangnya, bukan aku yang kau usik, tetapi Milaine. Nona cantik berdarah keturunan Lysander Group," tekan Lloyd.
Suara Lloyd memang terdengar lembut. Akan tetapi, setiap kata yang ia ucapkan penuh penekanan mematikan. Lagi-lagi Corner terjebak masalah besar karena sudah mengganggu Milaine.
"Tidak, Tuan Muda! Saya tidak bermaksud melakukan— AARGHH!"
__ADS_1
Bahana pekikan Corner menggaung di ruangan. Lloyd menikam paha Corner menggunakan pisaunya.
"Aku tida butuh penjelasan darimu. Orang sepertimu harus aku bunuh! Dasar tidak berguna! Kau hanya sampah masyarakat. Sampai kapan pun, aku takkan memaafkan siapa saja orang yang menyakiti Milaine."
Lloyd berulang kali menghunuskan pisaunya ke paha Corner. Emosinya meledak-ledak tak menentu sampai menyebabkan Corner kehilangan banyak darah.
"Aku akan melindungi Milaine dari bajing*n sepertimu. Memang sudah seharusnya kau menemui ajalmu hari ini."
Lloyd menggores dalam perut Corner. Pria itu berteriak meronta-ronta kesakitan.
"Berisik! Sumpal mulutnya! Aku tidak mau mendengar suara teriakannya," perintah Lloyd.
Dia melanjutkan penyiksaannya tanpa ampun. Hingga akhirnya Corner mengembuskan napas terakhir ketika Lloyd memenggal kepalanya.
***
Di waktu berbarengan, tepatnya di rumah sakit tempat di mana Winson dirawat. Luke diam-diam mengendap menuju ruangan Winson. Dia kemari atas perintah Milaine sekaligus atas rasa jengkelnya terhadap Winson.
"Ternyata dia masih hidup. Mungkin dia akan segera sadar," gumam Luke.
Lalu Luke mengeluarkan belati dari tempat penyimpanannya. Dia mempersiapkan ini untuk membunuh Winson.
"Sebaiknya kau tidak usah hidup lagi. Sangat menjengkelkan bila nanti Nona sakit hati melihatmu berkeliaran ke mana-mana."
Mendengar suara Luke, Winson pun terbangun. Kedua bola matanya melebar menemukan Luke tepat di samping ranjang. Menjelang dia berteriak, Luke lekas menyumbat mulutnya dengan sebuah kain.
"Jangan berisik! Nanti kau malah membangunkan pasien yang lain."
Winson berusaha memberontak, tetapi sayangnya Luke jauh lebih kuat darinya.
"Aku kemari untuk membalaskan sakit hati Nona Milaine. Kau akan segera menemui neraka. Bagaimana menurutmu? Apakah kau menyukainya?"
Kemudian Luke menikam perut Winson berulang kali. Darah segar menyembur ke mana-mana hingga mengenai berbagai macam benda atau alat milik rumah sakit.
"Mati kau! Mati! Takkan aku biarkan kau menginjakkan kakimu di dunia ini lagi, Winson!"
Luke termakan kemurkaan. Winson tak kuat menerima seluruh tusukan belati Luke sehingga pada akhirnya, dia berhasil mati di tangan Luke.
__ADS_1