Milaine Sang Gadis Pewaris

Milaine Sang Gadis Pewaris
Kabar Buruk


__ADS_3

Milaine dan Luke mengambil kesempatan yang ada untuk mengacaukan gedung pelelangan. Keduanya menjarah seluruh benda-benda pelelangan malam ini, salah satu yang terpenting ialah akar pohon asoka yumelium.


“Nona, kita harus cepat kabur dari sini karena gedung pelelangan sudah dikepung oleh para penjaga!” seru Luke tiba-tiba.


Milaine berdecak kasar. Untungnya dia berhasil mengambil apa yang dia butuhkan. Setelah itu, ia sesegera mungkin melarikan diri dari gedung pelelangan.


“Ayo cepat! Kita harus meninggalkan tempat ini sekarang juga.”


Keduanya berlari ke arah pintu belakang gedung pelelangan. Berharap langkah mereka tidak diketahui oleh para penjaga tersebut. Terlebih lagi jumlah mereka lebih dari tiga puluh orang. Butuh banyak waktu bagi mereka menghajar penjaga sebanyak itu. Namun, sayangnya rencana melarikan diri mereka malah gagal ketika tiba di halaman belakang gedung.


“Sialan! Mereka bergerak lebih cepat dari perkiraanku,” gerutu Milaine.


Para penjaga berbadan besar itu menodongkan senjatanya ke arah Milaine dan Luke. Mereka menutup seluruh celah agar mereka berdua tidak bisa kabur.


“Serahkan diri kalian, dasar pencuri!”


Luke tersenyum miring, ia melepas jas yang membalut tubuhnya.


“Menyerahkan diri? Kami takkan melakukan itu. Jangan berlagak sombong karena jumlah kalian lebih banyak dibanding kami,” tekan Luke bernada angkuh.


“Sepertinya malam ini aku harus menguras tenaga lagi.”


Milaine mengikat rambutnya seraya mengeluarkan pistol yang tersimpan di balik gaunnya. Begitu pula dengan Luke yang juga mengeluarkan sebilah belati. Mereka bersiap-siap untuk melakukan serangan awalan.


“Dasar bocah ingusan! Cepat habisi mereka!”


Satu persatu dari para penjaga memulai penyerangan. Mereka mencoba menebas leher Milaine dan Luke berulang kali. Akan tetapi, tebasan mereka selalu ditepis dengan sangat mudah.


Suara pistol bergema mengenai inti tubuh para penjaga. Darah segar berceceran mengotori permukaan tanah. Milaine secara gila-gilaan menembak para penjaga yang mendekat ke arahnya.


“Mereka sangat merepotkan.”


Milaine mencampakkan pistolnya yang kehabisan peluru. Dia pun berlari menerjang ke kerumunan penjaga sambil merebut paksa salah satu senjata orang-orang itu.


“Mereka cukup tangguh,” gumam Luke.

__ADS_1


Pada akhirnya, para penjaga itu berhasil dikalahkan mereka berdua. Namun, masalah baru datang saat keduanya. Ketika mereka menuju jalan pintas keluar, mereka kembali dihadang oleh sekelompok orang tak dikenal.


“Huh? Siapa mereka?”


Pergerakan Milaine dan Luke terkepung sempurna, yang jelas segerombol pria itu bukanlah orang biasa. Mereka telah dibayar seseorang untuk menghabisi nyawa Milaine. Tentu saja Milaine menyadari bahwa mereka hanyalah sekedar kelompok pembunuh biasa.


Milaine meringis pedih di telapak tangan yang tak sengaja terluka saat bertarung tadi. Dia memaksa diri untuk bertahan sejenak sampai ia berhasil lolos dari kepungan pembunuh tersebut.


“Luke, sebaiknya kita berdua melawan mereka di tempat terpisah. Akan sangat sulit jika kita berada di lokasi yang sama,” ujar Milaine.


“Kalau itu keinginan Anda, saya akan melakukannya.”


Mereka berpencar di dua sisi tempat. Para pembunuh itu mengejar mereka dan memulai aksinya. Tangan Milaine tiada henti melancarkan serangan tebasan tanpa ampun. Tempat yang dipijak Milaine saat ini berubah menjadi genangan cairan berdarah.


Kemudian ketika Milaine sibuk menghantam musuh di depannya, tiba-tiba seseorang dari belakang mengayunkan pedang ke arah Milaine. Gadis itu tidak sempat menghindarinya, tetapi bersamaan kala itu sebuah peluru entah datang dari mana menembus dada si pembunuh yang nyaris mencelakai Milaine.


“Membunuh dari belakang adalah tindakan dari seorang pengecut. Beraninya kalian menggores kulit mulus Nona cantik itu.”


Sesosok pemuda dengan rambut hitam muncul dari arah berlawanan. Wajahnya tertutupi oleh topeng sehingga Milaine tak dapat melihat seperti apa rupa pemuda itu.


“Siapa aku? Kau tidak perlu tahu.”


Pria itu tanpa berpikir panjang menyapu habis para pembunuh yang tersisa. Dia berhasil menyelamatkan Milaine yang hampir kehabisan stamina. Milaine tidak mengenal siapa orang itu, tetapi dia sedikit bersyukur karena pria tak dikenalnya tersebut berada di pihaknya.


“Nona, apakah Anda baik-baik saja?!” seru Luke dari kejauhan menghampiri Milaine.


“Ya, aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” sahut Milaine, bertanya balik.


“Saya pun begitu. Walaupun ada sedikit luka ringan, tetapi saya masih bisa mengatasinya.”


Lalu bola mata Luke memusatkan fokus ke arah pria betopeng yang berdiri di belakang Milaine. Dia menatap tajam pria itu, tanpa dipastikan pun dia tahu pasti identitasnya.


“Hei, Gazelle! Apa yang kau lakukan di sini?!” teriak Luke menunjuk ke arah laki-laki yang tadi menolong Milaine.


Pria bernama Gazelle itu tersenyum miring. Identitasnya diketahui lebih mudah dari dugaannya.

__ADS_1


“Seperti yang diharapkan dari kau, Luke. Kau masih saja mengenaliku meski aku mengenakan topeng.”


Gazelle membuka topeng, kini paras tampan yang dia miliki terpampang jelas di depan Milaine.


“Gazelle? Apakah kau mengenal dia?” tanya Milaine ke Luke.


“Tentu saja saya mengenalnya. Dia adalah teman sekelas saya, Gazelle Elles, anak kelima alias putra satu-satunya dari Elles Group.”


Milaine tak asing dengan nama Gazelle Elles karena selama terkurung di rumah sakit jiwa, ia mencari tahu segalanya informasi tentang seluruh perusahaan di negara Helsper.


‘Pemimpin Elles Group adalah seorang perempuan. Dia mempunyai tujuh orang suami, tetapi dia paling mencintai suami pertamanya. Namun, karena menderita sakit, suami pertamanya tidak bisa memberi keturunan kepada wanita itu sehingga sang suami memutuskan untuk mengadopsi seorang anak. Dan anak itu adalah Gazelle Elles, anak angkat yang begitu disayangi suami tercintanya itu,’ batin Milaine.


Gazelle tersenyum pada Milaine, ia sedikit mendekat agar bisa memandangi rupa cantik Milaine dari jarak singkat.


“Mau apa kau? Jangan dekati Nonaku!” Luke melarang keras Gazelle untuk mendekat apalagi berbicara dengan Milaine. Hubungan mereka berdua tampak tidak begitu baik.


“Ada apa? Aku hanya ingin berbicara sebentar. Kau tidak punya hak untuk mencegahku mendekati Milaine,” ketus Gazelle.


Milaine menggeleng-geleng sambil memutar bola mata malas. Perdebatan di antara kedua pria itu pun membuatnya pusing.


“Hentikan pertikaian tak berguna kalian itu! Aku tidak ada waktu meladeni kalian berdua,” ucap Milaine bernada lesu.


Milaine berbalik badan, ia berencana segera pulang dan meracik obat herbal untuk sang Adik, Nigel. Di waktu itu pula, tiba-tiba ponsel Milaine berdering. Nama Gizdo tertera di layar ponselnya. Tanpa menunggu lama, Milaine langsung menjawab panggilan tersebut.


“Nona, Anda ada di mana?” tanya Gizdo terdengar panik dari balik ponsel.


“Aku ada di luar. Memangnya kenapa?”


“Bisakah Anda kembali ke mansion sekarang juga? Ada sesuatu hal yang terjadi di sini.”


Firasat Milaine memburuk seketika. Degup jantungnya berpacu lebih kencang.


“Apa yang sebenarnya terjadi?”


“Kondisi Tuan Muda Nigel semakin memburuk. Saya hampir tak sanggup menanganinya. Apakah Anda sudah menemukan akar pohon asoka yumelium itu? Sebaiknya, Anda segera meracik obatnya sebelum kondisi Tuan Muda Nigel bertambah buruk.”

__ADS_1


__ADS_2