
Luke Marchen, dia pewaris satu-satunya dari Marchen Group. Akan tetapi, dikarenakan kedua orang tuanya meninggal, jadi perusahaan keluarganya kini bangkrut. Kemudian Conrad mensponsori Luke sebab ia punya bakat bertarung yang bisa diasah. Oleh sebab itulah, Luke saat ini berada di kediaman Lysander. Dahulunya ia sangat dekat dengan Milaine dan selalu mengikuti Milaine ke mana-mana.
Semenjak Milaine ditempatkan di rumah sakit jiwa, Luke tak lagi pernah bertemu dengan Milaine. Bahkan, orang-orang dari kediaman ini juga tidak pernah bertemu Milaine karena Conrad melarang untuk menemui putrinya itu. Selama lima tahun, Luke menghabiskan waktunya melatih diri menjadi lebih kuat supaya bisa melindungi Milaine dari serangan calon pewaris lainnya.
“Tentu saja aku masih mengingatmu. Tidak mungkin aku melupakan anak yang selalu mengikutiku,” ucap Milaine.
“Syukurlah kalau Anda masih mengingat saya.”
Senyuman Luke merekah, tak bisa dipungkiri lagi kalau Luke memanglah sangat tampan. Lalu tiba-tiba saja tangan Milaine meraba dada Luke. Perlahan pergerakan tangannya berpindah ke lengan dan telapak tangan Luke.
Luke tampak terkejut, sontak sekujur badannya membeku. Muka Luke merona sempurna, ia tersipu malu akibat tingkah Milaine tersebut.
“A-Apa yang Anda lakukan, Nona?” Luka nampak gelagapan dan gugup.
“Sepertinya kau berlatih sangat keras. Tubuhmu sekarang jauh lebih kekar dan juga aku menyukainya.”
Jantung Luke seakan-akan meledak detik itu juga. Ditambah lagi Milaine memperlihatkan senyum nan mempesona. Hati Luke saat ini serasa ditembak panah cinta dari gadis yang telah lama ia dambakan. Namun, Luke lekas memperbaiki ekspresinya agar tidak membuat Milaine terusik.
“Saya melakukannya demi melindungi Anda. Lagi pula saya sudah berjanji akan menjadi pedang pelindung Anda,” tutur Luke mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Terima kasih telah menepati janjimu. Aku menantikan hasil dari kerja kerasmu. Bisakah kau sedikit menunduk?” pinta Milaine.
“Menunduk? Baiklah.”
Luke menundukkan sedikit badannya, Milaine mengelus lembut puncak kepala Luke. Hal ini sudah menjadi sesuatu yang biasa dilakukan Milaine dahulunya.
“Kau tumbuh menjadi pria yang jauh lebih tinggi dariku. Padahal di masa lalu kau tak perlu menundukkan kepalamu seperti ini. Terima kasih karena telah melindungi Nigel diam-diam kala aku tidak berada di kediaman ini,” ujar Milaine.
“Anda tidak perlu berterima kasih kepada saya karena Anda penyelamat saya. Apa yang saya lakukan hanyalah bentuk dari balas budi saya, Nona.”
Luke menggenggam tangan Milaine yang mengusap kepalanya. Dia bisa mengetahui kalau Milaine juga tidak berdiam diri selama lima tahun ini. Ada banyak bekas luka di telapak tangan Milaine. Meski begitu, tangannya tidak pernah kehilangan kehangatannya.
__ADS_1
“Mulai sekarang, izinkan saya untuk tetap selalu berada di sisi Anda. Saya sungguh bahagia melihat Anda kembali ke kediaman ini,” lanjutnya berucap.
“Ya, mohon bantuannya, Luke,” kata Milaine sembari tersenyum ceria.
***
Pada hari berikutnya, Milaine diundang ke makan malam keluarga. Biasanya keluarga Lysander mengadakan makan malam bersama saat malam minggu. Di ruang makan, semua orang berkumpul di meja yang sangat panjang. Tersaji berbagai jenis makanan di sana, hanya saja suasana ruang makan sedikit berbeda ketika Milaine datang.
“Ternyata kau masih punya muka untuk bergabung di dalam makan malam keluarga,” sindir Deon – putra ketiga, anak Mayra.
“Jangan begitu. Orang gila juga butuh makan karena hanya malam ini dia bisa makan enak di sini.”
“Ya, benar itu. Paviliun tempat tinggalnya tidak menyediakan makanan mewah.”
Si kembar Sherwin dan Steiner ikut menimpali sindiran Deon. Mereka berdua adalah putra kelima dan keenam yang lahir dari rahim Deysi. Sedangkan Arthyn, putra pertama sekaligus anak dari Lisbeth hanya diam menyaksikan adik-adiknya menertawakan Milaine. Untuk putra kedua dan keempat, itu adalah tempat milik saudara laki-laki Milaine yang meninggal beberapa tahun silam.
Sebagai anak ketujuh serta putri satu-satunya, sudah menjadi makanan sehari-hari bagi gadis itu mendengar saudaranya mengejeknya. Terlebih lagi, mereka sering meremehkan bahwa seorang perempuan takkan mampu memenangkan pertarungan ahli waris ini. Milaine mengabaikan segala jenis ejekan tersebut. Dia terus melangkah lurus ke depan sambil tutup telinga supaya tak mendengar suara mereka.
“Apa kau bilang?”
Raut muka Sherwin, Steiner, dan Deon seketika berubah. Suara tawa mereka berhenti karena merasa tertohok oleh ucapan Milaine.
“Apa kalian tuli? Intinya, aku mengatakan kalau kalian lebih gila dariku.”
Deysi dan Mayra memelototi Milaine, Nigel yang duduk di samping sang Kakak hanya diam tak berkutik. Padahal inti acara makan malam ini belum dimulai dan Conrad pun belum menampakkan batang hidungnya.
“Kurang ajar! Kau—”
“Jangan membuat keributan. Apakah kalian mau Ayah memarahi kita karena masalah sepele ini? Ayah paling tidak suka ada kegaduhan di ruang makan,” tegur Arthyn akhirnya angkat bicara.
Bertepatan dengan ucapan Arthyn, Conrad pun akhirnya tiba. Untung saja keributan barusan tidak terdengar ke telinga Conrad. Jadi, makan malam ini setidaknya bisa berjalan damai selama Conrad berada di sana.
__ADS_1
“Sepertinya semua sudah berkumpul. Sekarang tolong hidangkan hidangan pembukanya,” perintah Conrad.
Sejumlah pelayan memasuki ruangan membawa hidangan pembuka untuk mereka nikmati sebelum menyantap hidangan utamanya. Akan tetapi, Milaine kala itu menaruh curiga pada seorang pelayan.
‘Aroma racun,’ batin Milaine ketika seorang pelayan berjalan melewatinya.
Pelayan itu menyajikan hidangan pembuka khusus untuk Conrad. Bola mata Milaine tiada henti memperhatikan pelayan tersebut.
‘Ujung kukunya terdapat sisa racun yang diracik secara kasar. Apakah dia mencoba meracuni Ayah?’
Milaine mengamati makanan di hadapannya. Penciumannya memang sangatlah sensitif ditambah lagi dia telah mempelajari racun selama lima tahun belakangan ini.
‘Targetnya tidak hanya Ayah, tetapi dia juga menargetkanku dan Nigel.’
Milaine menepuk pelan pundak Nigel lalu berbisik, “Jangan sentuh makanannya, itu mengandung racun.”
Nigel tersentak saat Kakaknya memberitahu perihal racun di makanan tersebut. Dia menuruti perkataan Milaine tanpa meragukannya sedikit pun.
“Silakan kalian santap hidangan pembukanya,” ujar Conrad.
Pada saat Conrad hendak menyuap makanannya, Milaine sengaja menjatuhkan garpu dan pisaunya sehingga mengganggu fokus semua orang.
“Maafkan aku, garpu dan pisaunya terjatuh. Bisakah kau mengambilkannya untukku?”
Mata Milaine mengarah pada pelayan yang tadi menghidangkan makanan untuk Conrad. Tanpa banyak bicara, pelayan itu pun mendekati Milaine untuk mengambil garpu dan pisau tersebut. Akan tetapi, Milaine mendadak mencekat leher pelayan itu lalu menghantamnya ke permukaan dinding.
Seisi ruangan terperanjat kaget, mereka terpaksa menjeda sejenak aktivitas makan mereka.
“Milaine, apa-apaan ini? Apa kau sengaja mengacaukan makan malam ini?!” seru Conrad menegur Milaine.
Bersamaan saat itu, dari saku seragam si pelayan terjatuh satu botol kecil berisikan racun. Milaine bergegas mengambil racun tersebut.
__ADS_1
“Maaf, Ayah. Sebaiknya, Ayah jangan memakan hidangan pembuka itu karena di dalamnya terdapat racun mematikan.”